Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Monday, April 17, 2017

DONGENG JEPANG: Burung Nuri Yang Lidahnya Putus





Dahulu kala di Jepang, tinggalah seorang pak tua dan istrinya. Si pak tua adalah seorang pria tua yang baik, berbudi, dan pekerja keras. Tetapi istrinya perempuan yang sangat cerewet, yang bisanya merusak kehangatan rumahnya sendiri lewat kata-katanya yang kasar. Dia selalu marah-marah dari pagi sampai malam hari. Pak tua itu sudah sejakn lama tak lagi peduli segala kebawelan istrinya. Pak tua menghabiskan waktu siang harinya bekerja di ladang, dan karena dia tak memiliki anak, maka sebagai hiburannya saat dia pulang ke rumah, dipeliharanya seekor burung nuri. Pak tua begitu menyayangi si burung kecil  seolah-olah itu anaknya sendiri.




Saat pak tua pulang di malam hari setelah seharian bekerja keras di udara terbuka, hiburan satu-satunya adalah memanjakan si burung nuri kecil, mengajaknya bisara dan mengajarinya beberapa trik, yang bisa dimengerti cepatsekali oleh si burung kecil. Pak tua akan membuka sangkarnya dan membiarkan si burung mungil terbang di dalam kamar, dan mereka berdua akan bermain-main bersama. Lalu ketika saat makan malam tiba, pak tua akan menyisihkan remah-remah dari makanannya untuk makanan burung kecil kepunyaannya itu.

Di suatu hari, pak tua tengah pergi memotong kayu di hutan, dan istrinya mampir di rumah untuk mencuci baju. Sehari sebelumnya, dia telah membuat tepung kanji, dan ketika dia tengah mencarinya, tepung kanji itu semuanya sudah tak ada lagi, dan lesung yang sudah diisinya penuh kemarin sekarang kosong.

Waktu dia tengah menduga-duga siapa gerangan yang telah mengambil atau mencuri tepung kanjinya, terbanglah mendekat si burung nuri, dan sambil merunduk membungkukkan kepala mengilnya yang berbulu, trik yang diajarkan tuannya, si burung molek itu mencicit sambil berkata:

"Akulah yang mengambil tepung kanji itu. Kukira itu makanan yang disediakan untukku di mangkuk itu, lalu kumakan habis semuanya. Kalau aku berbuat salah, ampuni aku! Cit...cit...cit...!"




Bisa dilihat kalau burung itu adalah burung yang jujur, dan seharusnya istri pak tua bersedia memaafkannya ketika si burung sudah minta maaf dengan sopannya. Tetapi tidak demikian yang terjadi.

Istri pak tua tak pernah menyayangi si burung nuri, malah sering bertengkar dengan suaminya karena memelihara piaraan yang disebutna burung yang mengotori seluruh rumah, sambil berkata kalau pekerjaannya bertambah dengan kehadiran si burung. Sekarang dia merasa senang karena kini punya alasan menentang kehadiran burung peliharaan suaminya itu. Dibentak-bentaknya burung kecil itu bahkan dicetuskannya sumpah serapah atas kelakuan buruk si burung,  dan masih tak puas berkata-kata kasar, kata-katayang menyakitkan hati, karena dirasuki murka dicekiknya si burung nuri itu, yang selama dibentak-bentak telah merentangkan sayapnya membungkuk hormat di hadapan istri pak itu, untuk menunjukkan betapa menyesalnya dirinya, lal mengambil guning dan memotong lidah si burung kecil yang malang itu.

"Pasti kau mengambil tepungku memakai lidah itu, kan? Nah sekarang rasakan hidup tanpa lidah itulagi!" Dan sambil mencaci kasar seperti itu, diusirnya si burung pergi, tak peduli sama sekali apa yang akan menimpa si burung kecil, dan tanpa merasa kasihan sama sekali atas penderitaan yang dialami si burung kecil. Begitu kejamnya dia!

Istri pak tua setelah mengusir pergi si burung nuri, membuat lagi adonan tepung kanji, menggerutu tak henti-hentinya memikirkan kerepotannya, lalu setelah selesai mengkanji semua bajunya, menggelarnya di atas papan untuk mengeringkan baju-baju itu di bawah sinar natahari, tak menyetrikannya seperti yang biasa dilakukan di Inggris.

Malam harinya pak tua itu pun pulang ke rumahnya. Seperti biasa, dalam perjalanan pulang dinanti-nantinya saat-saat ketika dia hampir sampai ke gerbang rumahnya, di mana dia akan melihat burung piaraannya itu terbang dan mencicit menyambunya, mengepak-ngepakkan bulu-bulunya dengan riang, lalu akhirnya bertengger di bahunya. Tapi malam ini pak tua merasa sangat kecewa, karena bahkan bayangan si burung nuri kesayangannya itu tak kelihatan sama sekali.

Dia pun mempercepat langkahnya, tergesa-gesa melepas sandal jeraminya, dan menaiki beranda. Tetapi masih tak dilihatnya  si burung nuri itu. Dia kini merasa yakin kalau istrinya, karena tabiatnya yang pemarah itu pasti telah menembak burung nuri itu di kandangnya. Lalu dipanggil istrinya itu, dan berkata dengan tak sabaran:

"Di mana Suzume San (Nona Nuri) hari ini?'

Istrinya itu mula-mula berpura-pura tidak tahu, lalu dijawabnya:

"Burung nuri kepunyaanmu itu? Sudappasti aku tak tahu. Sekarang aku malah berpikir, karena tak kulihat dia sepanjang siang tadi, tak heran kalau burung yang tahu terima kasih itu pasti sudah terbang dan meninggalkanmu setelah kau manjakan selama ini?"

Tetapi akhirnya, karena pak tua terus menerus mendesaknya, merasa yakin kalau dia pasti tahu apa yang terjadi dengan hewan piaraannya itu, istrinya pun akhirnya mengakui semuanya. Dia marah-marah menceritakan kalau si nuri telah memakan habis adonan tepung kanji yang sudah dibuatnya khusus untuk mengkanji bajunya, dan ketika si burung nuri mengakui apa yang sudah diperbuatnya, karena sangat geram diambilnya gunting dan dipotongnya lidah si burung nuri, dan diusirnya pergi si burung nuri itu dan melarangnya untuk kembali ke rumah itu lagi.

Lalu istri pak tua menunjukkan pada suaminya potongan lidah si burung nuri sambil berkata:

"Ini lidah yang kupotong! Burung usil, kenapa dimakannya sampai habis kanjiku?"

"Kenapa kau begitu kejam? Ya ampun! Kau ini kejam sekali!" hanya itu yang bisa diucapkan pak tua berulang-ulang. Hatinya begitu baik untuk bisa menghukum istrinya, tapi dia juga merasa sedih sekali atas apa yang telah dialami burung nurinya iu.

"Malang sekali Suzume San-ku harus kehilangan lidahnya!" katanya pada dirinya sendiri. "Dia tak akan bisa lagi mencicit, dan pasti rasa sakit akibat lidahnya harus putus seperti itu membuatnya menderita! Apa tak ada yang bisa kulakukan?"

Pak tua masih menangis terus bahkan setelah istrinya yang cerewet itu tertidur.

Ketika diusap air matanya dengan baju katunnya,didapatnya ide cemerlang yang membuatnya sedikit tenang. Dia akan pergi mencari burung nuri itu keesokan harinya. Setelah memutuskan akan melakukannya, dia pun akhirnya bisa tidur juga.

Keesokan harinya pak tua bangun pagi-pagi sekali, bahkan sebelum fajar menyingsing, lalu melahap sarapan ala kadarnya, mulai menjelajahi bukit dan melintasi hutan, berhenti si setiap rumpun bambu sambil memanggil-manggil:

"Di mana, di manakah kini berada burung nuriku yang lidahnya putus? Di mana, di manakah kini berada burung nuriku yang lidahnya putus?'



Dia tak pernah berhenti beristirahat,ataupun untuk makan siang, dan ketika itu hari sudah menjelang sore saat disadarinya dia beradadi dekat sebuah hutan bambu yang lebat. Belukar bambu menjadi tempat mampir kesukaan burung-burung nuri, dan di saat itu di tepi hutan pak tua merasa yakin melihat burung nuri kepunyaannya itu yang begitu disayanginya telah menunggu, lalu menyambunya. Dia hampir-hampir tak percaya apa yang dilihatnya kini karena begitu gembiranya, lalu berlari cepat-cepat untuk menemuinya. Si nuri menundukkan kepalanya yang mungil itu, lalu melakukan beberapa trik yang telah diajarkan masternya itu, menunjukkan betapa gembiranya dia bisa bertemu kembali dengan sahabat lamanya, dan aneh in ajaib, nuri itu bisa bicara. Pak tua mengatakan betapa sedih dirinya atas semua yang terjadi, dan menanyakan tentang lidahnya, dan keheran-heranan bagaimana nuri itu bisa berbicara begitu lancarnya tanpa lidah. Lalu si burung nuri membuka moncongnya dan memperlihatkan pada pak tua kalau sebuah lidah yang baru telah tumbuh menggantikan lidahnya yang lama, dan memohon agar pak tua tidak mengingat-ingat lagi masa lalu, karena dia dalam kondisi yang cukup sehat sekarang. Lalu pak tua itu pun akhirnya menyadari kalau burungnya itu adalah peri, bukan sembarang burung biasa. Tak bisa dilukiskan betapa bertumpuk-tumpuknya  rasa girang pak tua itu kini. Dia langsung lupa semua kesulitannya, dia bahkan lupa kalau sesungguhnya betapa lelah dirinya, karena sekarang telah ditemukan kembali burung nurinya yang hilang, yang bukannya sedang menderita karena kehilangan lidah seperti yang dikhawatirkan pak tua, tetapi ternyata burung nurinya itu dalam keadaan baik-baik saja dan sekarang sudah punya lidah yang baru, dan sama sekali tak menunjukkan pernah mengalami perlakuan yang buruk dari istrinya. Dan yang paling utama ternyata si burung adalah peri.


Si burung nuri lalu meminta pak tua untuk mengikutinya, lalu terbang di depannya dan diantarnya masternya itu sampai ke sebuah rumah yang indah di tengah-tengah hutan bambu. Pak tua itu tak bisa menyembunyikan rasa takjubnya saat dimasukinya rumah itu dan melihat tempat yang sangat indah. Rumah itu dibangun dari kayu yang paling putih, dengan hamparan permadani lembut berwarna cokelat muda dan yang paling cantik yang belum pernah dilihat sebelumnya, dan bantak yang dibawakan oleh si burung nuri itu untuk alas duduk pak tua terbuat dari sutra dan wol yang paling halus. Vas cantik dan kotak-kotak berkilat menjadi penghias tokonoma (cekungan di dinding tempat memajang barang-barang hiasan) di setiap ruangan.

Si burung nuri mengajak pak tua memasuki ruang tamu kehormatan, kemudian memempatkan diri agak jauh, dihaturkannya ucapan terima kasih dengan membungkuk berkali-kali atas semua kebaikan yang telah diberikan pada dirinya setelah bertahun-tahun lamanya.

Kemudian Nona Nuri, kita akan memanggilnya dengan nama itu mulai sekarag, memperkenalkan semua keluarganya pada pak tua. Setelah perkenalan itu, anak-anak perempuannya, mengenakan gaun wol yang paling anggun, membawa masuk sajian makanan yang lezat-lezat di atas nampan-nampan antik yang cantik, sampai-sampai pak tua berpikir kalau dia pasti tengah bermimpi. Di tengah-tengah jamuan makan malam, beberapa anak perempuan nona nuri menampilkan tarian yang indah sekali, yang dinamakan tarian "suzume-odori" atau tarian burung nuri, untuk menghibur tamu mereka.



Tak pernah pak tua bisa bersenag-senang seperti itu. Waktu berlalu dengan begitu cepatnyadi tempat yang elok itu, dikelilingi semua nuri-nuri itu menjamunya dan menghibur serta juga menari di hadapannya.

Tetapi malampun menjelang dan hari yang mulai gelap itu mengingatkan pak tua kalau perjalanan pulang yang harus ditempuhnya sangatlah jauh, jadi dia berpikir harus pamit sekarang, lalu segera pulang. Diucapkannya terima kasih pada sang tuan ruamah yang baik itu atas hiburan yang disuguhkan, dan memohon demi dirinya, agar si burung nuri mau melupakan semua penderitaan yang dialaminya atas perlakuan istrinya yang kejam itu. Dikatakan pada Nona Nuri bahwa dia merasa sangat lega dan senang Nona Nuri beradadi rumah yang begitu cantik, dan mengetahui kalau Nona Nuri tak menuntut apapun. Pak tua selama ini begitu cemas ingin mengetahui bagaimana nasib burung nuri miliknya itu, dan mencari tahu apa yang benar-benar telah terjadi pada dirinya dan yang selama ini telah menuntunnya untuk mencarinya. Sekarang setelah tahu kalau semuanya baik-baik saja, pak tua bisa pulang ke rumahnya dengan hati gembira. Jika suatu saat kelak sang peri membutuhkan bantuan apapun dari pak tua, Nona Nuri hanya perlu memanggilnya saja, maka pak tua akan segera datang.

Nona Nuri memohon agar pak tua tetap tinggal dan beristirahat untuk beberapa hari serta menikmati perubahan suasana di rumahnya, tetapi pak tua mengatakan kalau dia harus pulang ke istrinya - yang mungkin akan marah-marah karena dia tak pulang tepat pada waktunya - dan juga kembali ke pekerjaannya, sehingga walaupun pak tua sangat ingin untuk tetap tinggal di situ, dia tak bisa menerima undangan tulus sang peri. Tetapi sekarang setelah dia tahu di mana Nona Nuri tinggal, dan dia akan datang menemuinya kapanpun dia ada waktu.

Ketika Nona Nuri menyadari kalau dia tak bisa membujuk pak tua agar mau tinggal lebih lama, dipanggil beberapa pelayannya, dan saat itu juga mereka membawa masuk dua kotak, salah satunya berukuran besar dan yang satunya lagi kecil. Kedua kotak itu diletakkan di hadapan pak tua, lalu Nona Nuri memintanya untuk memilih yang manapun yang disukainya sebagai hadiah, yang ingin diberikan kepada pak tua.

Pak tua tak bisa menolak tawaran yang tulus itu, lalu memilih kotak yang kecil, sambil berkata:

"Hamba sudah terlalu tua dan lemah untuk membawa kotak yang yang besar dan berat itu. Seperti yang tuanku peri katakan kalau hamba boleh memilih manapun yang hamba suka, maka akan hamba pilih kotak yang kecil, karena dengan demikian akan lebih mudah bagi hamba untuk membawanya.

Kemudian semua burung nuri itu membantu mengangkat kotak itu ke atas punggung pak tua, dan mengantarnya sampai ke gerbang untuk berpisah, sambil membungkuk hormat berkali-kali mengucapkan selamat tinggal dan mengundang pak tua lagi kapanpun dia ada waktu. Demikianlah, pak tua dan burung nuri peliharannya itu berpisah dalam keadaan hati yang bahagia, dan si burung nuri tak menampakkan demdam sama sekali atas perlakuan buruk yang harus dideritanya dari istri pak tua itu. Sebaliknya, dia merasa sedih memikirkan pak tua yang harus menghadapi kebawelan istrinya itu seumur hidupnya.

Ketika pak tua sampai di rumahnya, didapatinya istrinya itu bahkan jadi lebih cerewet dari sebelum-sebelumnya, karena saat itu sudah larut malam dan karena dia sudah menanti suaminya sejak tadi-tadi.


"Kau ke mana saja dari tadi?" tanyanya dengan suara keras, "kenapa kau pulang begitu larut?"

Pak tua berusaha menenagkan hati istrinya dengan menunjukkan kotak hadiah yang dibawanya pulang, lau diceritakan semua peristiwayang dialaminya, dan bagaimana dia dijamu dengan megahnya di rumah si burung nuri miliknya itu.

"Sekarang kita sama-sama lihat apa isi kotak in," kata pak tua sebelum istrinya menggerutu lebih panjang lagi, "kau harus membantuku membukanya," lalu keduanya duduk di hadapan kotak itu dan membukanya.

Dengan takjub mereka melihat kotak itu sampai ke pinggir-pinggirnya penuh berisi koin-koin perak dan emas, dan bayak lagi benda-benda berharga lainnya. Alas duduk pondok mereka menjadi berkilauan saat mereka keluarkan benda-benda itu satu per satu, lalu meletakkannya, menggenggamnya berganti-gantian. Pak tua sangat girang melihat semua harta yang semuanya kini adalah miliknya. Pemberian si burung nuri itu bahkan di luar angan-angannya yang paling liar sekalipun, yang kini membuatnya tak lagi harus bekerja keras dan hidup dengan tenang dan nyaman selama sisa hidupnya.

Dia berkata berulang-ulang,"Terima kasih burung nuri kecilku! Terima kasih burung nuri kecilku yang baik hati!"



Tetapi istrinya, begitu hilang takjubnya di saat pertama tadi membelalak memandangi koin-koin perak dan emas itu, tak dapat menekan rasa rakusnya yang sudah menjadi sifat jelenya itu. Dia kini malah mengomeli suaminya karena tak membawa pulang kotak yang besar berisi hadiah-hadiah, setelah karena jujurnya pak tua menceritakan pada istrinya kalau dia telah menolak untuk mengambil kotak hadiah yang berukuran besar yang ditawarkan si burung nuri padanya, tetapi lebih memilih kotak yang kecil karena ringan dan mudah dibawa pulang.

"Kau ini orang tua yang bodoh!" katanya, "mengapa tak kau mabil kotak yang besar saja?" Coba bayangkan apa yang lenyap dari genggaman kita. Kita mestinya sekarang punya emas dan perak yang pasti lebih banyak lagi dari yang ini. Kau betul-betul bodoh!" sambil berteriak , lalu pergi tidur dalam keadaan geram.

Pak tua berharap dia tadi tak mengatakan apa-apa soal kotak yang lebih besar itu, tetapi semuanya sudah terlambat. Istrinya yang rakus, tak puas dengan keberuntungsn yang tak diduga-duga itu, yang sebetulnya dirinya itu tak berhak mendapatkannya walau sedikitpun, akhirnya memutuskan, jika mungkin, untuk mendapatkan lebih dari itu semua.

Pagi-pagi sekali di keesokan harinya, istri pak tua bangun dan memaksa suaminya memberitahu arah jalan menuju rumah si burung nuri. Ketika disadari apa yang diinginkan istrinya itu, pak tua mencoba melarangnya untuk pergi, tetapi percuma saja, istrinya tak mau mendengarkan sepatah kata pun yang dikatakan suaminya. Aneh sebetulnya kalau istrinya itu tak merasa malu sedikitpun ingin mendatangi si burung nuri setelah perlakuan kejam yang dilakukannya dengan memotong lidah si burung karena murkanya. Tetapi sifat rakusnya yang ingin mendapatkan kotak yang lebih besar membuatnya melupakan hal-hal lain. Bahkan tak sedikitpun terpikir dalam benaknya kalau si burung nuri itu bisa saja marah padanya. Sesungguhnya burung-burung itu memang marah, dan mungkin bahkan menghukumnya atas apa yang telah dilakukannya itu.

Terhitung saat Nona Nuri kembali ke rumahnya dalam pelarian yang memilukan hati itu ketika mereka menemukannya, dalam keadaan terisak-isak dan mulut yang berlumuran darah, seluruh keluarga dan kerabatnya tak punya urusan penting lainnya selain hanya membicarakan kekejaman istri pak tua. "Tega sekali orang itu," mereka bertanya-tanya, "menjatuhkan hukuman seberat itu hanya karena kesalahan yang sepele seperti tak sengaja memakan tepung beras?". Mereka semua menyayangi pak tua yang begitu baik san sabar menghadapi semua kesulitannya, tetapi istrinya itulah yang mereka benci, dan mereka telah memutuskan, kalau mereka berharap mendapak kesempatan untuk menghukumnya sebagaimana yang patut didapatkan perempuan itu. Mereka ternyata tak perlu menunggu lama.

Setelah berjalan selama beberapa jam, istri pak tua akhirnya menemukan hutan bambu yang tadi sudah diminta pada suaminya untuk menunjukka letaknya, dan sekarang berdiri di depannya sambil berteriak:

"Di manakah rumah si burung nuri yang lidahnya putus? Di manakah rumah si burung nuri yang lidahnya putus?"

Akhirnya dilihatnya atap rumah muncul dari balik rimbunya dedaunan bambu. Dia bergegas menghampiri pintunya dan mengetuk dengan keras-keras.

Ketika pelayan-pelayan Nona Nuri memberitahunya kalau majikan lamanya berada di depan pintu memaksa ingin bertemu dengannya,  dia agak terkejut dengan kunjungan yang tak terduga-duga itu, setelah semua yang telah terjadi, dan dia sama sekali tak berprasangka apa-apa terhadap aksud kedatangan perempuan tua itu yang nekad mendatangi rumahnya. Namun Nona Nuri adalah burung yang santun, lalu dia pun keluar untuk menyapa istri pak tua, mengingat kalau perempuan tua itu dulu pernah jadi tuannya.



Istri pak tua berniat untuk tidak membuang-buang waktu bertutur sapa, lalu langsung dikatakan maksud kedatangannya, dan tanpa malu sama sekali dia berkata:

"Kau tak perlu repot-repot menjamuku seperti yang kau lakukan untuk suamiku. Aku datang untuk mengambil kotak yang dengan begitu bodohnya telah dibiarkannya tertinggal. Aku akan segera pergi jika kau berikan padaku kotak yang besar itu. Hanya itu yang kumau!"

Nona Nuri langsung menyetujuinya, dan meminta pelayan-pelayannya untuk membawa keluar kotak yang besar. Istri pak tua dengan bersemangat mengambilnya, lalu menggendong di punggungnya, tanpa sama sekali mengucapkan terima kasih kepada Nona Nuri, bergegas pulang ke rumah.

Kotak itu begitu beratnya sampai-sampai istri pak tua tak sanggup berjalan cepat, apa lagi berlari, walau itu yang ingin dilakukannya saat itu, tetapi malah dia harus sering-sering duduk dan beristirahat.

Ketika istri pak tua berjalan terhuyung-huyung memikul beban yang berat itu, nafsunya membuka kotak itu menjadi semakin tak bisa ditahan-tahannya lagi. Dia tak bisa menunggu lebih lama lagi, karena dia membayangkan kotak yang besar itu kali ini akan dipenuhi emas da perak dan permata-permata mahal seperti isi kotak kecil yang diterima suaminya.

Akhirnya karena dikuasai nafsu serakah dan kekikiran, istri pak tua lalu meletakkan kotak bawaannya dan membukanya hati-hati, membayangkan matanya akan terbelalak melihat limpahan harta di dalamnya. Namun apa yang dilihatnya, begitu menakutkan sampai-sampai membuatnya nyaris gila. Begitu tadi diangkatnya tutup kotak itu, segerombolan setan-setan yang wajahnya seram-seram dan menakutkan melompat ke luar dari dalam kotak dan mengelilinginya seolah-olah hendak membunuhnya. Bahkan dalam mimpi buruknya sekalipun belum pernah ia melihat makhluk-makhluk yang mengerikan seperti itu sebagaimana yang ada di dalam kotak sekarang ini. Sesosok setan dengan mata merahnya yang besar di tengah-tengah dahi mendekatinya dan memelototinya, ada juga monster-monster dengan mulut menganga tampak seolah -olah mereka ini akan melumatnya, lalu ada juga ular besar bergelung dan medesis di dekatnya, juga kodok raksasa yang melompat-lompat dan berkuak-kua mendeatinya.


Istri pak tua belum pernah merasa begitu ketakutannya, seperti sekarang ini selama hidupnya, lalu berlari tunggang langgang dari tempat itu, secepat kaki-kaki yang gemetaran itu membawanya, dan akhirnya lega karena bisa melarikan diri dalam keadaan hidup. Saat sesampainya di rumah, istri pak tua menggeletakkan diri di lantai dan menceritakan pada suaminya semua peristiwa yang dialaminya, bagaimana dia nyaris dibunuh oleh setan-setan dalam kotak itu.



Lalu istri pak tua mulai menyalahkan si burung nuri, tetapi pak tua langsung memintanya diam, sambil berkata:

"Jangan salahkan burung nuri itu. Ini semua karena kekejamanmu sendiri yang pada akhirnya mendapat ganjarannya. Aku hanya bisa berharap peristiwa ini bisa menjadi pelajaran berharga buatmu di masa depan."

Istri pak tua tak berkata apa-apa lagi, dan sejak hari itu dia menyesali kebawelannya, perilakunya yang bururk, dan perlahan-lahan menjadi orang yang baik, sehingga suaminya hampir-hampir tak mengenali sososk istrinya itu. Dan mereka berdua pun akhirnya menghabiskan hidupnya bersama dengan bahagia, selalu sejahtera dan tak pernah berkekurangan sedikitpun, menggunakan dengan bijaksana harta karun yang diterima pak tua dari burung piaraanya, si burung nuri yag lidahnya putus.








Diambil dari buku Dongeng Klasik Jepang, karya Yei Theodora Ozaki











Wednesday, February 8, 2017

DONGENG JEPANG: Pak Tua Yang Hilang Benjolan Di Pipinya



Dahulu kala, tinggalah seorang pak tua yang baik hati yang memiliki benjolan seperti bola tenis yang tumbuh menonjol di pipi kanannya. Benjolan itu membuatnya jadi seperti orang cacat, dan yang begitu membuatnya tak nyaman sehingga selama bertahun-tahun pak tua banyak menghabiskan waktu dan uangnya untuk mencoba menyingkirkannya . Dia pun sudah bertanya pada banyak tabib dari segala penjuru, dan memakai semua jenisobat-obatan baik itu obat oles ataupun obat yang harus diminum. Tetapi semua upayanya itu tak ada yang behasil. Benjolan itu kian membesar sampai ukurannya hampir sebesar wajahnya, dan dengan putus asa akhirnya dia menyerah berharap bisa menghilangkannya.

Di suatu hari, kayu untuk perapian di dapurnya habis, jadi karena istrinya memintanya saat itu juga, maka pak tua mengambil kapaknya, lalu berangkat mencari kayu di perbukitan yang tak jauh dari rumahnya. Hari itu haru yang cerah di awal musim gugur, dan pak tua menikmati udara yang segar di saat itu dan tak sedang terburu-buru pulang ke rumah. Maka sepanjang sore itu berlalu dengan cepatnya sementara dia memotong-motong kayu, dan dia sudah mengumpulkan tumpukan kayu yang cukup untuk dibawa pulang ke istrinya. Saat hari mulai menjelang gelap, diapun berbalik menuju rumahnya.

Pak tua belum pergi terlalu jauh menuruni lembah di pegunungan itu ketika langit menjadi berawan dan hujan mulai turun deras. Dilihatnya berkeliling mencari tempat berlindung, tetapi disana bahkan tak ada satupun podok pembakar batu bara yang kelihatan. Akhirnya diperlihatkannya ada sebuah lubang besar dalam cekukan sebuah batang poho. Lubang itu berada dekat dengan tanah, maka dia merangkak masuk dengan mudahnya, lalu duduk dan berharap kalau itu hanya huja gerimis di gunung, dan berharap cuacanya segera cerah kembali.

Tetapi yang membuat pak tua kecewa, bukannya berubah cerah, tetapi hujan malah turun semakin deras, dan akhirnya badai guntur menerjang pegunungan itu. Petir saling menyambardengan suara gerungannya yang mengerikan, dan langit terlihat berkobar-kobar seolah-olah terbakar petir, dan paktua hampir-hampir tak percaya dirinya masih hidup saat itu. Dibayangkannya dia pasti sudah mati ketakuan. Namun akhirnya, langit pun cerah kembali dan seluruh daratan itu berkilau karena pendaran cahaya matahari yang muncul kembali. Semangat pak tua menyala lagi saat dilihatnya senjakala yang indah, dan dia baru saja melangkahkan kaki ke luar dari tempat berlindungnya yang aneh itu di dalam sebuah pohon yang bergua keika didengarnya suara seperti langkah-langkah kaki orang. Dia langsung menduga kalau teman-temannya pasti tengah mencarinya, dan dia merasa gembira membayangkan akan berjalan pulang bersama beberapa teman perjalanan yang riang. Tetapi saat melihat keluar dari dalam pohon, yang membuatnya tercengang saat melihatnya, itu bukanlah teman-temannya, tetapi ratusan jin yang kini mendatangi tempat itu. Semakin dipandangnya, semakin besar pula rasa keheranannya. Beberapa dari jin-jin itu ukurannya sebesar raksasa, yang lainnya memiliki mata yang luar biasa besarnya yang ukurannya sangat tidak berimbang dengan porsi ukuran tubuh mereka, jin yang lainnya lagi memiliki hidung yang panjangnya tak normal, dan beberapa lainnya memiliki mulut besar-besar yang saking lebarnya itu seperti mulut yang membuka dari telinga sampai ke telinga satunya lagi. Semuanya punya tanduk yang tumbuh di keningnya. Pak tua begitu tercengan pada apa yang dilihatnya sampai-sampai dia kehilangan keseimbangan lalu terjatuh ke luar dari lubang pohon. Untung baginya jin-jin itu tidak melihat dirinya, karena pohon itu letaknya di belakang. Lalu dia bangkit, dan merangkak masuk kembali ke dalam pohon.

Sementara dia duduk di dalam sana, dan bertanya-tanya dengan tak sabar menunggu saat dia bisa pulang, didengarnya suara alunan musik yang riang, kemudian beberapa jin itu mulai ada yang menyanyi.

"Apa yang sedang dilakukan jin-jin itu?" tanya pak tua pada dirinya sendiri. "Aku akan mencari tahu, kedengarannya sangat menghibur."

Saat mengintip, pak tua melihat kalau pemimpin jin-jin itu kini tengah duduk dengan punggungnya menyandar pada pohon tempat dimana dia berlindung, dan jin-jin lainnya semuanya duduk berkeliling, beberapa dari mereka ada yang minum-minum dan yang lainnya menari. Makanan dan minuman anggur digelar dihadapan mereka di tanah,dan jin-jin itu tampaknya benar-benar sedang berpesta dan tengah bersenang-senang.

Itu membuat pak tua tertawa melihat tingkah laku mereka yang aneh.

"Betapa menyenangkannya!" pak tua itu tertawa sendiri, "Aku memang sudah tua, tetapi aku belum pernah melihat yang aneh seperti ini seumur hidupku."

Pak tua kelihatannya begitu tertarik dan senang memandangi semua yang dilakukan jin-jin itu, sampai-sampai dia lupa lalu melangkah ke luar dari pohon dan berdiri terus memandangi mereka.

Kepala gerombolan jin itu tengah hendak meminum secangkir penuh sake dan menonton salah satu jin yang sedang menari. Tak lama kemudian dia berkata menunjukkan kebosanan:

"Tarianmu agak membosankan. Aku jenuh melihatnya. Apa ada di antara kalian yang bisa menari lebih baik dari dia ini?"

Nah... pak tua rupanya senang menari selama ini, dan cukup mahir di bidang tarian ini, dan dia yakin kalau dia bisa menari lebih baik dari para jin itu.

"Apakah sebaiknya aku keluar dan menari di hadapan jin-jin ini dan membuat mereka meihat apa yag bisa dilakukan seorang manusia? Tetap ini mungkin saja berbahaya, karena kalau aku tak bisa membuat mereka senang, mereka bisa membunuhku," kata pak tua pada dirinya sendiri.

Namun rasa takutnya tak lama kemudian terkalahkan oleh rasa kesukaannyayang begitu besar pada tarian. Beberapa saat kemudian, dia sudah tak bisa menahan diri lagi, lalu keluar berdiri di hadapan gerombolan jin dan dia pun langsung mulai menari. Pak tua menyadari kalau nyawanya bergantung apakah dia bisa menyenangkan hati makhluk-makhluk yang aneh ini atau tidak, lalu mengerahkan segala kemampuan dan akalnya sebaik-baiknya.

JIn-jin itu pertama-tamanya terheran-heran melihat manusia yang begitu tak mengenal takut ikut bergabung dalam pesta mereka, tetapi kemudian rasa heran mereka itu tak lama kemudian berubah menjadi kekaguman.

"Aneh sekali!" seru pemimpin bertanduk itu. "Aku belum pernah melihat penari sehebat ini sebelumnya! Dia menari dengan indahnya!"

Ketika pak tua selesai dengan tariannya, jin berbadan besar itu lalu kemudian berkata:

"Terima kasih atas tarianmu yang indah itu. Nah sekarang kau kami ajak minum sake bersama kami," dan setelah berkata demikian, diberikannya sebuah cangkir sakenya yang paling besar.

Pak tua lalu mengucapkan terima kasih dengan hormatnya:

"Hamba tak mengharap kebaikan yang begitu besar dari tuanku. Hamba khawatir hamba hanyalah mengganggu pesta tuan dengan tampilan tarian hamba yang tak seberapa indahnya ini."

"Oh...tidak...tidak<" jawab jin yang berbadan besra itu. "Kau harus sering-sering datang dan menari untuk kami."

Pak tua itu mengucapkan terima kasih dan berjanji akan melakukannya.

"Jadi, maukah kau datang lagi besok, pak tua?" tanya si jin.

"Tentu saja hamba bersedia datang," jawab pak tua.

"Tapi kau harus memberikan jaminan atas janji kau pada kami." kata si jin lagi.

"Apapun yang tuan kehendaki." ujar pak tua.

"Apa yang bisa kita ambil sebagai jaminan?" tanya si jin, memandang sekeliling.

Kemudian salah satu dari pelayan-pelayan jin berlutut di belakang pemimpinnya:

"Tanda yang dia tinggalkan untuk kita haruslah sesuatu yang paling penting yang dimilikinya. Hamba lihat pak tua mempunyai benjolan di pipi kanannya. Kaum manusia menganggap benjolan seperti itu pembawa keberuntungan. Tuanku bisa mengambil benjolan itu dari pipi kanan pak tua ini, dan dia pasti akan kembali esok hari untuk memintanya kembali."

"Kau cedas sekali," kata kepala jin, menganggukkan tanduknya tanda setuju. Kemudian dia merentangkan lengannya yang berbulu serta tangannya yang mirip cakar itu, lalu mengambil benjolan besar itu dari pipi kanan pak tua. Anehnya, benjolan itu lepas begitu mudahnya layaknya menarik buah plum matang dari pohonnya saat dipegang si jin, kemudian gerombolan jin periang itu mendadak lenyap.

Pak tua terbengong-bengong menyaksikan semua yang terjadi barusan. Selama beberapa saat dia hampir-hampir tak menyadari dimana dia kini berada. Ketika disadarinya apa yang telah terjadi padanya, dia begitu gembira kalau benjolan yang ada di wajahnya, yang telah selama beberapa tahun membuatnya menjadi cacat, telah betul-betul diambil tanpa merasakan sakit apapun. Diraba dengan tangannya untuk memeriksa apakah ada sisa luka codet yang tertinggal, tetapi disadarinya kalau pipi kanannya kini sama mulusnya dengan pipinya yang kiri.

Matahari telah lama terbenam, dan bulan baru telah muncul seperti sabit keperakan di angkasa. Pak tua mendadak menyadari betapa sudah malamnya saat itu dan bergegas pulang. Ditepuk-tepuk pipi kanannya berulang-ulang, seertinya mau meyakinkan dirinya kalau dia memang beruntung telah hilang benjolannya itu kini. Dia begitu gembiranya sampai-sampai dia ak bisa berjalan tenang-tenang. Dia berlari dan menari-nari di sepanjang jalan menuju rumahnya.

Dilihatnya istrinya sangat khawatir, bertanya-tanya apa yang telah menimpa suaminya sampai pulang begitu terlambat. Dia pun segera menceritakan pada istrinya semua yang dialaminya waktu dia pulang tadi sore. Istrinya juga merasa senang seperti sang suami saat diperlihatkan pada istrinya itu kalau benjolan jelek di wajahnya kini telah lenyap, karena di masa mudanya isrinya itu selalu membanggakan wajahnya yang tampan, dan baginya tentu sangat menyedihkan melihat benjolan itu tumbuh kian besar setiap harinya.

Di samping ruamah pasangan suami istri yang baik hati itu tinggalah seorang pak tua yang jahat dan pencemburu. Dia pun selama beberapa tahun terganggu dengan tumbuhnya benjolan di pipi kirinya, dan diapun juga telah berusaha melakukan segala upaya untuk menghilangkannya, tetapi sia-sia belaka.

Dia langsung mendengar, lewat pelayannya, mengenai keberuntugan yang dialami tetangganya yang kini sudah tak lai memiliki benjolan di wajahnya, maka dipanggilnya tetangganya itu mala itu juga dan dimintanya temannya ituuntuk menceritakan padanya semua yang berkaitan dengan lenyapnya benjolan itu. Pak tua yang baik hati itu menceritakan pada tetangganya yang berhati culas itu semua yang terjadi padanya. Digambarkannya tempat dimana ditemukanya pohon berlubang di mana di dalamnya dia bersembunyi, lalu menganjurkan pada tetangganya itu untuk berada di tempat itu di penghujung siang menjelang matahari terbenam.

Si tetangga kemudian berangkat langsung di esok siangnya, dan setelah mencari-cari sampai beberapa lama, akhirnya menemukan pohon berlubang tepat seperti yang digambarkan oleh temannya. Di sinilah kemudian dia menyembunyikan diri dan menunggu datangnya sinar bintang.

Tepat seperti apa yang diceritakan padanya, gerombolan jn datang di saat-saat itu dan mengadakan pesta dengan tarian dan nyanyian. Ketika acara itu berlangsung beberapa saat lamanya, kepala gerombolan jin itu memandang berkeliling dan berkata:

"Ini saatnyapak tua itu datang ke sini seperti yang dijanjikannyapada kita. Mengapa dia belum muncul-muncul juga?"

Ketika pak tua yang kedua itu mendengar pembicaraan itu, dia lari keluar dari tempat persembunyiannyadi pohon, lalu berlutut di hadapan sang Oni, sambil berkata:

"Hamba menunggu cukup lama sampai tuanku memberi titah!"

"Oh...kau pak tua yang kemarin itu," ujar si pemimpin jin. "Terima kasih atas kedatanganmu, kau harus segera menari untuk kami."

Pak tua itu bangkit berdiri dan membuka kipasnya dan mulai menari. Tetapi dia tak pernah belajar menari, dan tak tahu apa-apa soal gerak-gerik dan posisi tubuh yang berubah-ubah dalam tarian. Dipikirnya tak ada yang bisa menyenangkan para jin ini, maka dia pun lalu melompat lompat ke kiri dan ke kanan melambai-lambaikan tangannya lalu lalu menjejakkan kakinya berulang-ulang, meniru gaya tarian sebisa mungkin dari tarian apapun yang pernah dilihatnya.

Sang Oni merasa sangat kecewa melihat peragaan itu, lalu berkata pada yang lainnya:

"Jelek sekali dia menarinya hari ini."

Kemudian kepada pak tua itu si pemimpin jin berkata

"Penampilanmu hari ini agak berbeda dengan tarianmu kemarin. Kami tak mau melihat lagi tarianmu yang seperti itu. Kami akan kembalikan jaminan yang sudah kau berikan kepada kami. Kau harus pergi sekarang juga."

setelah berkata demikian, dikeluarkan dari lipatan gaunnya benjolan yang telah diambilnya dari wajah pak tua yang menari dengan begitu indahnya di hari sebelumnya, lalu melemparkannya ke pipi kanan si pak tua itu yang berdiri di hadapannya. Benjolan itu langsung menempel erat di pipinya seolah-olah benjolan itu memang sudah tumbuh disana sebelumnya, dan semua upaya untuk melepaskannya sia-sia belaka. Pak tua yang licik itu, bukannya kehilangan enjolan di pipi kirinya seperti yang diharapkannya, menyadari dengan sedihnya kalau kini dia malah menambah satu lagi benjolan di pipi kanannya dalam upayanya menghilangkan benjolan yang sudah terlebih dulu ada.

Diletakkan tangannya satu dan satunya lagi masing-masing di wajahnya untuk memastikan kalau-kalau dia tak tengah bermimpi buruk. Tetapi tidak, bsa dirasakannya kini ada benjolan besar di sisi kanan wajahnya seperti yang ada di pipi kirinya. Para jin itu semuanya kini telah menghilang, dan tak ada lagi baginya yang bisa dilakukannya kini kecuali kembali pulang ke rumah. Dia terlihat sangat menyedihkan, karena wajahnya dengan dua benjolan, masing-masing satu di pipinya, membuatnya persis seperti labu jepang.





Diambil dari buku Dongeng Klasik Jepang yang ditulis oleh Yei Theodora Ozaki



Saturday, February 13, 2010

CERPEN: Delima


Yasunari Kawabata


-->
DALAM embusan angin malam daun-daun pohon delima jatuh berguguran. Helai-helai dedaunan terserak melingkar di pelataran. Kimiko terkejut saat melihat pohon itu meranggas di pagi hari dan terheran-heran menyaksikan lingkaran dedaunan yang terserak begitu sempurna di bawahnya. Dia berharap angin akan mengacaukannya. Sebutir buah delima yang ranum tertinggal di pohon itu.
”Kemarilah, lihat itu,” seru gadis itu kepada ibunya.
”Aku telah menyia-nyiakan pohon itu.”
Ibunya memandang sekilas ke arah pohon delima itu dan kembali ke dapur.
Semua itu membuat Kimiko teringat pada kesepian mereka. Pohon delima di samping beranda itu pun kesepian dan terlupakan.
Dua minggu yang lalu, kemenakan lelakinya yang baru berumur tujuh tahun datang berkunjung. Ia segera tertarik pada pohon delima itu. Dipanjatnya pohon itu. Kimiko merasa hidup dalam kehidupan yang nyata.
”Ada buah delima besar di atas sana,” serunya dari beranda.
”Tapi, kalau kuambil, nanti aku tak bisa turun.”
Memang benar. Turun dari pohon dengan buah delima di tangan bukanlah perkara mudah. Kimiko tersenyum. Bocah itu bikin orang jatuh sayang.
Hingga saat bocah itu datang mengunjungi mereka, pohon delima itu terlupakan. Kini pun mereka melupakannya kembali.
Dulu butir-butir buah delima tersembunyi di balik rimbun dedaunan. Kini pohon itu tegak bugil menantang langit.
Ada semacam kekuatan dalam pohon delima itu dan dalam lingkaran dedaunan di pelataran. Mereka berkilau-kilau di bawah cahaya matahari.
Kimiko merasa agak sedih.
Ketika dia sedang menjahit di loteng sekitar pukul sepuluh pagi, didengarnya suara Keikichi. Ia datang memutar lewat kebun. Ada sesuatu yang mendesak dalam nada suaranya.
”Kimiko! Kimiko!” seru ibunya. ”Ada Keikichi.”
Kimiko melepaskan benang dari jarumnya. Ditusukkannya jarum itu ke bantalan busa.
”Kata Kimiko, dia sangat ingin bertemu denganmu sebelum kau pergi,” kata ibunda Kimiko kepada Keikichi. Pemuda itu akan pergi ke medan perang. ”Tetapi, kami sulit menemuimu tanpa surat resmi dan kau tak kunjung datang. Syukurlah kau datang hari ini.”
Ibunda Kimiko meminta Keikichi tinggal untuk makan siang, tetapi pemuda itu tak punya banyak waktu.
”Baiklah, setidak-tidaknya makanlah buah delima ini. Kami menanamnya di kebun sendiri.”
Dia memanggil Kimiko lagi.
Lelaki itu menyambut Kimiko dengan sorot matanya, seolah-olah ia tak sabar menunggu gadis itu turun. Kimiko terhenti di atas tangga.
Sesuatu yang hangat terlihat di mata pemuda itu dan buah delima pun terjatuh dari genggaman Keikichi.
Mereka saling memandang dan tersenyum.
Saat tersadar bahwa dia tersenyum, Kimiko tersipu-sipu. Keikichi bangkit dari duduknya.
”Jaga dirimu baik-baik, Kimiko.”
”Kamu juga.”
Lelaki itu membalikkan tubuh dan mengucapkan selamat tinggal kepada ibunda Kimiko.
Kimiko masih menatap ke arah kebun setelah Keikichi pergi.
”Ia tergesa-gesa,” kata ibunya, ”dan buah delima ini ranum.”
Keikichi meninggalkan buah delima itu di beranda.
Tampaknya ia tak sengaja menjatuhkannya saat sesuatu yang hangat bersinar dalam sepasang matanya. Ia sedang mengupasnya saat itu. Buah delima itu tidak pecah seluruhnya menjadi dua dan tergeletak dengan kulit terbuka.
Ibunda Kimiko membawanya ke dapur dan mencucinya, lalu memberikannya kepada Kimiko.
Gadis itu mengulurkan tangannya, lalu sekali lagi tersipu-sipu seraya mengambil buah itu dengan raut wajah gundah.
Keikichi tampaknya telah membuat kulit delima itu tercuil di bagian ujungnya.
Diawasi pandangan ibunya, Kimiko merasa serba salah jika tak memakan buah itu. Digigitnya delima itu acuh tak acuh. Sesuatu yang berasa kecut memenuhi mulutnya. Dia merasakan semacam kebahagiaan yang menyedihkan, seakan-akan ada sesuatu menusuk dalam-dalam ke dalam dirinya.
Ibunya bangkit, lalu melangkah ke depan cermin dan duduk. ”Lihatlah rambutku. Aku mengucapkan selamat jalan kepada Keikichi dengan rambut acak-acakan seperti ini.”
Kimiko mendengar suara ibunya menyisir rambut.
”Waktu ayahmu meninggal,” kata ibunya dengan lembut, ”aku merasa takut menyisir rambutku. Saat aku menyisir rambut, aku suka lupa pada apa yang sedang kulakukan. Seolah-olah ayahmu sedang menungguku hingga saat terakhir.”
Kimiko teringat kebiasaan ibunya. Ibunya selalu memakan sisa-sisa makanan yang ditinggalkan ayahnya di atas piringnya.
Dia merasakan sesuatu seakan mengisapnya, sebuah kebahagiaan yang membuatnya ingin menangis.
Ibunya barangkali memberinya buah delima itu karena enggan membuangnya. Hanya karena itu. Sudah menjadi kebiasaannya tidak membuang sesuatu secara sia-sia.
Sendiri dengan kebahagiaannya, Kimiko merasa malu di hadapan ibunya.
Dia pikir tadi adalah sebuah perpisahan yang menyenangkan bagi Keikichi dan dia tak tahan menanti lelaki itu kembali.
Kimiko menatap ibunya. Matahari jatuh di atas birai pintu yang terbuat dari kertas dekat tempat ibunya duduk di depan cermin.
Dengan agak ragu-ragu, Kimiko kembali menggigit buah delima itu. (35)

Catatan:
Yasunari Kawabata (1899-1972), pemenang Hadiah Nobel Sastra 1968. Pengarang kenamaan Jepang ini mati bunuh diri di ruang kerjanya tanpa pesan, meninggalkan nama besar dan sejumlah karya abadi. Cerita ini diterjemahkan Anton Kurnia dari ”The Pomegranate” dalam antologi Contemporary Japanese Literature; Tuttle Books, New York: 1975, susunan Howard Hibbet.

Friday, November 13, 2009

Seorang Gadis yang Seratus Persen Sempurna

September 20, 2007

Seorang Gadis yang Seratus Persen Sempurna


Haruki Murakami


PADA suatu pagi di bulan April, di sebuah jalan sempit di sekitar Harajuku, aku berpapasan dengan seorang gadis yang seratus persen sempurna.
Sejujurnya, gadis itu tak terlalu cantik. Dia tidak luar biasa. Pakaiannya juga tak istimewa. Bagian belakang rambutnya masih tertekuk menyisakan bekas habis tidur. Dia sudah tidak terlalu muda lagi, pasti sudah mendekati tiga puluh tahun, bahkan sebetulnya tidak tepat disebut “gadis”. Namun, dari jarak empat puluh meter aku tahu: dialah gadis yang seratus persen sempurna bagiku. Begitu aku melihatnya, ada sesuatu yang bergemuruh di dadaku dan mulutku jadi terasa kering seperti gurun pasir.
Mungkin kau memiliki tipe perempuan kesukaanmu, perempuan berkaki ramping, misalnya, atau bermata lebar, atau berjari lentik, atau kau tertarik tanpa alasan yang jelas kepada para perempuan yang kalau makan lama sekali. Aku punya persyaratanku sendiri, tentu saja. Terkadang di sebuah restoran aku menyadari menatap seorang gadis yang duduk di meja sebelahku karena aku menyukai bentuk hidungnya.
Namun, tak seorang pun ngotot bahwa gadis yang seratus persen sempurna baginya berkaitan dengan tipe tertentu. Walaupun aku amat menyukai bentuk hidung tertentu, aku tidak bisa mengingat bentuk hidung gadis itu, jika hidungnya memang termasuk bentuk hidung kesukaanku. Yang bisa kuingat dengan pasti adalah dia tidak terlalu cantik. Itu aneh.
“Kemarin di jalan aku berpapasan dengan seorang gadis yang seratus persen sempurna,” kataku pada seseorang sesudah kejadian itu.
“Ya?” ujarnya, “Cantik?”
“Tidak terlalu.”
“Tipe kesukaanmu, kan?”
“Aku tidak tahu. Aku tidak bisa mengingat sesuatu tentang ia, bentuk mata atau ukuran payudara.”
“Aneh.”
“Ya. Aneh.”
Temanku menimpali dengan bosan, “Jadi, apa yang kamu lakukan? Mengobrol dengan ia? Membuntuti ia?”
“Tidak. Hanya berpapasan dengan ia di jalan. Ia berjalan dari timur ke barat, dan aku berjalan dari barat ke timur. Saat itu sungguh suatu pagi yang indah di bulan April.”
Seandainya saja aku bisa mengobrol dengan ia. Setengah jam sudah cukup lama untuk itu: bertanya tentang diri, bercerita padanya tentang diriku, dan… yang sesungguhnya ingin sekali kulakukan, menjelaskan pada ia kerumitan takdir yang membawa kami berpapasan di sebuah jalan di Harajuku pada suatu pagi yang indah di bulan April 1981. Ini adalah sesuatu yang penuh rahasia, seperti sebuah jam dinding antik yang dibuat ketika dunia dalam keadaan damai.
Setelah mengobrol, kami akan makan siang di suatu tempat, atau mungkin menonton film Woody Allen di bioskop, lalu nongkrong di sebuah bar hotel untuk minum cocktail. Bila aku beruntung, mungkin kami akan berakhir di atas ranjang.
Kemungkinan itu mengetuk pintu hatiku.
Kini jarak di antara kami menyempit menjadi sekitar lima belas meter.
Bagaimana aku bisa mendekati ia? Apa yang harus kukatakan?
“Selamat pagi. Apakah menurutmu kita bisa mengobrol setengah jam saja?”
Konyol. Aku terdengar seperti seorang penjual asuransi.
“Permisi. Apakah kamu tahu binatu yang buka sepanjang hari di sekitar tempat ini?”
Tidak. Itu juga konyol. Aku tidak membawa cucian. Siapa yang akan percaya kalimat semacam itu?
Mungkin kejujuran akan berhasil. “Selamat pagi. Kamu adalah gadis yang seratus persen sempurna untukku.”
Tidak, dia tak akan percaya. Atau mungkin dia percaya, tapi tak ingin berbicara denganku. Maaf, begitu katanya barangkali, aku mungkin saja gadis yang seratus persen sempurna bagimu, tapi kamu bukanlah pemuda yang seratus persen sempurna untukku.
Itu bisa saja terjadi. Dan jika aku mengalami hal semacam itu, aku mungkin akan hancur berkeping-keping. Aku tak akan pernah pulih dari guncangan. Usiaku kini tiga puluh dua tahun dan begitulah rasanya menjadi dewasa.
Kami berpapasan di depan sebuah toko bunga. Udara lembut menyentuh kulitku. Aspal terasa lembab dan aku menangkap aroma mawar yang meruap. Aku tak bisa memaksa diri berbicara dengan gadis itu. Dia mengenakan sweater putih dan tangan kanannya memegang selembar amplop putih yang belum ada prangkonya. Jadi, ia menulis sepucuk surat pada seseorang, mungkin sampai menghabiskan waktu semalaman untuk menulisnya, karena matanya tampak mengantuk. Amplop itu mungkin berisi segala rahasia yang ia miliki.
Aku melangkah beberapa kali dan menoleh: ia sudah lenyap dalam kerumunan.
Kini, tentu saja, aku tahu dengan tepat apa yang seharusnya kukatakan kepada ia. Mungkin terlalu panjang untuk kusampaikan dengan layak. Gagasan-gagasan yang terpikir olehku tidak pernah praktis.
Begitulah. Apa yang kukatakan itu akan diawali dengan “Pada suatu ketika” dan diakhiri dengan “Sebuah kisah yang sedih, bukan?”
Pada suatu ketika, hiduplah seorang pemuda dan seorang gadis. Pemuda itu berumur delapan belas tahun dan si gadis berumur enam belas tahun. Pemuda itu tidak terlalu ganteng dan si gadis juga tidak terlalu cantik. Mereka hanyalah seorang pemuda biasa yang kesepian dan seorang gadis biasa yang kesepian, seperti halnya orang-orang yang lain. Namun, mereka percaya sepenuh hati bahwa di suatu tempat di dunia ini hiduplah seorang pemuda yang seratus persen sempurna dan seorang gadis yang seratus persen sempurna bagi mereka. Ya, mereka percaya pada keajaiban. Dan keajaiban itu sungguh-sungguh terjadi.
Suatu hari keduanya bertemu di sudut sebuah jalan.
“Ini menakjubkan,” ujar si pemuda. “Aku telah mencarimu sepanjang hidupku. Kamu mungkin tidak percaya, tapi kamu adalah gadis yang seratus persen sempurna untukku.”
“Dan kamu,” sahut si gadis, “adalah pemuda yang seratus persen sempurna untukku, tepat seperti bayanganku hingga hal-hal paling sepele. Seperti mimpi saja.”
Mereka lalu duduk di atas bangku di sebuah taman, berpegangan tangan, dan menceritakan kisah mereka masing-masing selama berjam-jam. Mereka tak lagi kesepian. Mereka telah menemukan dan ditemukan oleh pasangan seratus persen sempurna mereka. Hal yang paling menakjubkan di dunia adalah menemukan dan ditemukan oleh pasangan seratus persen sempurna kita. Ini adalah sebuah keajaiban kosmis.
Saat mereka duduk dan bercakap-cakap, secercah kecil keraguan muncul di hati mereka: Tak anehkah mimpi-mimpi seseorang menjadi kenyataan dengan begitu mudah?
Dan begitulah, ketika tiba saat jeda dalam percakapn mereka, si pemuda berkata kepada si gadis, “Mari kita uji diri kita, sekali saja. Jika kita sungguh-sungguh pasangan seratus persen sempurna masing-masing, maka pada suatu waktu, pada suatu tempat, kita pasti akan bertemu lagi tanpa kesulitan. Ketika itu terjadi dan kita tahu bahwa kita adalah pasangan seratus persen sempurna masing-masing, kita akan menikah. Bagaimana menurutmu?”
“Ya,” jawab si gadis, “itulah yang harus kita lakukan.”
Dan mereka pun berpisah, si gadis pergi ke timur, dan si pemuda melangkah ke barat.
Ujian yang mereka sepakati sebenarnya tidak diperlukan karena mereka sungguh-sungguh kekasih sempurna seratus persen bagi yang lain dan merupakan sebuah keajaiban mereka bisa bertemu. Namun, mustahil mereka mengetahui hal ini pada usia semuda itu. Ketika mereka tersadar, kepala mereka sekosong rekening bank DH Lawrence muda.
Mereka berdua sebetulnya adalah dua orang muda yang cerdas. Melalui upaya yang terus-menerus mereka mampu mendapatkan pengetahuan dan perasaan yang membuat mereka menjadi anggota masyarakat yang berhasil. Syukur kepada Tuhan, mereka menjadi warga negara yang sungguh-sungguh bertanggung jawab yang tahu bagaimana beralih dari satu jalur kereta api ke jalur kereta api lainnya dan paham bagaimana mengirim sepucuk surat kilat khusus di kantor pos. Mereka bahkan bisa merasakan cinta lagi, terkadang bahkan cinta tujuh puluh lima hingga delapan puluh lima persen.
Waktu berlalu begitu cepat dan dengan segera si pemuda telah berumur tiga puluh dua tahun, sedangkan si gadis tiga puluh tahun.
Pada suatu pagi di bulan April, saat mencari secangkir kopi untuk mengawali hari, si pemuda berjalan dari barat ke timur, sementara si gadis yang bermaksud mengirimkan sepucuk surat kilat khusus, berjalan dari timur ke barat.
Keduanya berjalan sepanjang jalan sempit yang sama di daerah Harajuku, Tokyo. Mereka saling berpapasan di tengah jalan. Sinar pudar sisa ingatan mereka yang telah lenyap berkilau amat singkat di hati mereka. Masing-masing merasakan gemuruh di dada mereka. Dan mereka tahu:
Gadis itu seratus persen sempurna untukku.
Pemuda itu seratus persen sempurna untukku.
Namun, kilau ingatan mereka terlalu lemah dan pikiran mereka tak lagi mengandung kejelasan seperti empat belas tahun sebelumnya. Tanpa sepatah kata, mereka berpapasan, lalu lenyap dalam kerumunan. Selamanya.
Sebuah kisah yang sedih, bukan?
Ya. Itu dia. Itulah yang seharusnya kukatakan kepada gadis itu.


Catatan:
Haruki Murakami lahir di Kyoto, 1949. Ia adalah pengarang Jepang paling terkemuka saat ini. Karya-karyanya antara lain Norwegian Wood (1987) dan Kafka on the Shore yang telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dan menjadi buku laris di mana-mana. Cerpen ini diterjemahkan dari bahasa Jepang oleh Jay Rubin, profesor sastra Jepang di Universitas Harvard, dan diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Anton Kurnia dari judul semula On Seeing 100% Perfect Girl One Beautiful April Morning dalam kumpulan cerpen The Elephant Vanishes; Vintage, London: 2003.

Cerpen: Hana

 cerpen Hana adalah salah satu cerpen terkenal yang dibuat oleh sastrawan Jepang  Akutagawa Ryunosuke

 HANA

Semua orang di Ikeno O (suatu kampung di pinggiran kota Kyoto) tidak ada yang tidak tahu tentang hidung Pendeta Naigu. Panjangnya sekitar 16 sentimeter, menjuntai dari bibir atas hingga ke bawah dagunya. Baik ujung maupun pangkalnya berbentuk sama besar. Pendek kata seperti sosis yang bergayut dari pertengahan wajahnya.

Usia Naigu sudah lebih dari 50 tahun. Sejak sebagai calon pendeta hingga menjadi pendeta kepala, batinnya sebenarnya tersiksa karena bentuk hidungnya itu. Tentu saja kesedihan itu tidak tampak pada roman mukanya, karena ia pikir sebagai pendeta tidak baik bila hanya memikirkan hidung melulu. Ditambah lagi dengan keinginannya masuk surge. Lebih daripada itu, ia tidak ingin orang lain mengetahui keadaan batinnya. Naigu merasa cemas dengan segala omongan orang tentang hidungnya dalam pembicaraan sehari-hari.
Naigu punya alasan berkenaan dengan hidungnya yang merepotkan itu. Salah satunya dengan kenyataan bahwa hidungnya yang panjang itu tidak praktis. Pertama-tama sewaktu ia makan tidak dapat melakukannya sendiri. Bila makan sendiri ujung hidungnya akan menyentuh nasi di dalam mangkuk. Karena itu, jika sedang makan Naigu menyuruh seorang muridnya untuk duduk di sampingnya dan mengangkat hidungnya dengan sebilah papan sepanjang kurang-lebih 60 sentimeter dan lebar sekitar lima sentimeter. Tapi, makan dengan cara demikian bagi Naigu maupun muridnya merupakan hal yang tidak mudah. Suatu kali, tangan seorang murid bernama Chudoji yang menggantikan murid yang biasanya membantu Naigu terguncang ketika bersin dan hidung Naigu terjatuh ke dalam mangkuk bubur. Cerita tentang jatuhnya hidung Naigu ke dalam mangkuk bubur itu tersebar sampai ke Kyoto. Meski demikian, tidak ada alasan kuat baginya untuk merasa sedih dengan kodrat hidungnya itu, walaupun sebenarnya batinnya sangat sedih karena hidungnya itu.
Orang-orang di Ikeno O mengatakan bahwa Naigu beruntung karena ia seorang pendeta, bukan orang biasa. Dengan hidung demikian, siapapun tentu akan berpikir tidak ada seorang perempuan pun yang bersedia menjadi istrinya. Di antara orang-orang itu ada pula yang mengatakan bahwa Naigu menjadi pendeta mungkin karena hidungnya itu. Naigu samasekali tidak merasa tenang dengan hidungnya, meskipun dirinya seorang pendeta. Naigu peka sekali terhadap persoalan hidup yang dihadapinya, seperti masalah perkawinan misalnya. Karena itu Naigu mencoba mengembalikan kehormatannya yang ternoda dengan berbagai cara.

Pertama-tama yang dipirkan Naigu adalah mencari cara agar hidungnya yang panjang itu menjadi tampak lebih pendek. Ketika tidak ada orang, ia menghadap ke cermin dengan serius sambil melihat wajahnya dari berbagai sudut. Terkadang tak puas hanya dengan mengubah letak, ia lantas menopang pipi dengan tangan, meletakkan jari di ujung dagu, dan terkadang pula ia melihat mukanya di cermin dengan sungguh-sungguh. Tapi, hingga sekarang, hidungnya tidak tampak cukup pendek hingga dapat memuaskan dirinya. Malah terkadang semakin dicemaskan hidungnya semakin terlihat bertambah panjang. Pada saat-saat demikian, sambil meletakkan cermin kembali ke dalam kotak, ia mengeluh seolah-olah itu adalah hal baru, dan lantas dengan berat hati ia kembali ke meja membaca kitab Kan On.

Setelah itu Naigu kembali terus-menerus memperhatikan hidung orang lain. Kuil Ikeno O adalah kuil yang sering mengadakan ceramah dan upacara-upacara lainnya. Di dalam kuil ini terdapat berderet-deret kamar para pendeta, dan setiap hari para pendeta memasak air panas di tempat pemandian. Karena itu, tempat tersebut banyak dilalui oleh para pendeta maupun orang biasa. Naigu memperhatikan wajah orang-orang yang berlalu-lalang itu. Ia cemas karena tidak melihat seorang pun yang hidungnya serupa dengan hidungnya. Lantaran itu, sampai-sampai ia tidak dapat membedakan antara pakaian berburu biru tua dengan pakaian musim panas yang putih. Apalagi penutup kepala oranye dan jubah abu-abu yang biasa mereka kenakan samasekali tidak tampak berbeda di matanya. Naigu tidak melihat orang, hanya hidungnya saja yang dilihatnya…. Meskipun ada yang berhidung mancung, tak ada seorang pun yang memiliki hidung seperti dirinya. Semakin tidak menemukan orang yang sama dengannya, semakin batinnya merasa tidak nyaman pula. Sewaktu berbicara dengan orang lain, tanpa sadar Naigu memegang ujung hidungnya yang menjuntai, wajahnya merah-padam karena malu merasa menjadi orang tua yang lupa umur. Tingkah lakunya digerakkan oleh perasaan yang samasekali tidak menyenangkan.

Naigu setidak-tidaknya akan merasa lega seandainya di dalam kitab Buddha dan kitab-kitab lain terdapat cerita tentang orang yang memiliki hidung yang sama dengan dirinya. Tapi, di dalam kitab suci manapun tidak terdapat tulisan yang mengisahkan tentang hidung Mokuren, seorang pengikut Buddha yang terkenal berhidung panjang. Tentu saja Ryuju dan Memyo memiliki hidung seperti orang biasa. Ketika mendengar bahwa di dalam cerita Cina terdapat kisah Ryugentoku dari Shokkan yang bertelinga panjang, ia tidak merasa lega. Ia akan merasa lega seandainya yang panjang itu adalah hidungnya.

Tidak perlu dijelaskan secara khusus di sini bahwa di satu sisi merasa puyeng dengan keadaan itu, ia juga aktif mencari cara untuk memendekkan hidungnya itu. Naigu sedapat mungkin berusaha melakukan hal itu. Ia pernah mencoba minum rebusan labu air, juga pernah mengolesi hidungnya dengan air kencing tikus. Tapi, bagaimanapun juga, hidungnya masih tetap menjuntai dari atas bibir atas kurang-lebih 16 sentimeter seperti semula.

Suatu ketika di musim gugur, salah satu muridnya yang pergi ke Kyoto atas suruhan Naigu bertemu dengan seorang tabib kenalannya yang mengajarkan cara memendekkan hidung. Tabib itu berasal dari Cina dan pernah menjadi Guso di Kuil Choraku.

Naigu, seperti biasa, tidak berkomentar apapun tentang usul itu dan pura-pura tidak memedulikan hidungnya. Di lain pihak, ia menggerutu karena setiap kali makan selalu menyusahkan muridnya. Tentu saja di dalam batinnya ia berharap muridnya itu akan mendesaknya untuk mencoba cara baru itu. Demikian pula, muridnya tahu persis apa yang sebetulnya diinginkan oleh Naigu. Murid itu, sebagaimana dikehendaki oleh Naigu, mendesaknya untuk mencoba cara itu. Selanjutnya Naigu sendiri, sesuai harapannya, akhirnya menerima anjuran yang sungguh-sungguh itu.

Caranya sangat sederhana, yakni hanya dengan mencelupkan hidungnya ke dalam air panas, kemudian diinjak-injak dengan kaki. Setiap hari mereka merebus air di pemandian kuil. Murid itu menuangkan air sangat panas ke dama ember yang diambil dari tempat pemandian. Saking panasnya sampai-sampai ia tak sanggup mencelupkan tangan ke dalamnya. Karena khawatir bila langsung mencelupkan hidung ke ember wajah Naigu akan melepuh, mereka membuat lubang di baki yang diletakkan di atas ember yang penuh dengan air panas sebagai tempat masuk hidung. Dengan hanya mencelupkan hidung ke dalam air yang sedang mendidih, maka panasnya tidak terasa di wajah. Beberapa saat kemudian murid itu berkata, “….Sudah saatnya direbus.”
Naigu tersenyum kecut, karena terbayang jika ada orang yang mendengarnya tentu tak akan berpikir bahwa yang sedang dibicarakan itu adalah hidung. Setelah direndam di dalam air yang sangat pans, hidung itu terasa gatal seperti digigit kutu. Dengan sekuat tenaga murid itu mulai menginjak-injak hidung Naigu yang masih mengepulkan asap karena baru saja dikeluarkan dari lubang baki. Naigu berbaring miring dan meletakkan hidungnya di atas yukaita; saat itu ia melihat kaki muridnya bergerak naik turun di depan matanya. Terkadang murid itu merasa kasihan, dan sembari melihat kepala botak Naigu ia berkata,
“Apa tidak terasa sakit? Tabib menyuruh menginjak dengan keras. Tapia pa tidak sakit?”
Naigu berusaha menggelengkan kepalanya sebagai tanda bahwa ia tidak merasa kesakitan. Tapi karena hidungnya sedang diinjak-injak, maka ia tidak bisa menggelengkan kepala seperti yang dikehendakinya. Sambil menatap kaki muridnya, yang kulitnya pecah-pecah, dengan membelalakkan mata ia menjawab dengan suara yang terdengar marah.
“Tidak sakit!”
Sebenarnya, sewaktu diinjak-injak pada bagian yang gatal, hidungnya justru terasa lebih enak daripada terasa sakit.setelah diijak0injak beberapa waktu maka mulai keluarlah semacam butiran-butiran jewawut. Dapat dibilang hidung Naigu seperti burung yang dipanggang setelah dicabuti bulunya. Ketika melihat hal itu, sang murid berhenti menginjaknya dan berkata seperti kepada diri sendiri, “Katanya supaya dicabuti dengan pencabut bulu.”

Naigu hanya menggelembungkan pipinya seperti tampak kesal, namun ia tetap membiarkan tindakan muridnya. Tentu saja karena ia mengetahui kebaikan hati muridnya. Walaupun demikian, bukan berarti ia senang hidungnya diperlakukan bagai benda mati. Dengan roman muka seperti pasien yang sedang dioperasi oleh dokter yang tidak meyakinkan, ia mengamati muridnya yang sedang mencabuti butiran lemak dengan pencabut bulu. Lemak itu berbentuk seperti tangkai bulu burung, dan panjangnya sekitar satu sentimeter.
Setelah selesai, dengan wajah terlihat lega si murid akhirnya berkata, “Saya kira sebaiknya direbus sekali lagi.” Dengan muka masam Naigu menuruti perkataan muridnya.

Singkat cerita, setelah direbus untuk kedua kalinya, dan lemaknya dicabuti keluar, maka benar juga hidung itu menjadi pendek. Tak ubahnya seperti paruh burung betet. Naigu mengusap hidungnya yang memendek, dan dengan ragu dan malu-malu dilihatnya di dalam cermin yang diberikan oleh muridnya.
Hidungnya… yang semula menjuntai hingga ke bawah dagu, hamper tak dapat dipercaya, kini menyusut menjadi kecil, menempel di atas bibir atas. Di sana-sini tampak bintik-bintik merah bekas injakan kaki. Bila seperti ini tentu tidak aka nada lagi orang yang menertawakannya. Wajah yang ada di dalam cermin memandang wajah Naigu yang ada di luar cermin, kemudian mengerdipkan mata tanda puas.

Tapi hari itu, baru hari pertama, ia merasa gelisah, takut kalau-kalau hidungnya memanjang kembali. Maka baik sewaktu membaca sutra maupun sewaktu makan, juga setiap ada kesempatan, diam-diam ia mengangkat tangan untuk meraba ujung hidungnya. Tentu saja hidungnya tetap bertengger dengan apiknya di atas di atas bibir atas, tak ada tanda-tanda akan bertambah panjang kembali. Selain itu ketika bangun di pagi hari, yang mula-mula dilakukannya adalah meraba hidung. Hidungnya masih tetap pendek. Maka ia merasakan kebahagiaan yang sudah bertahun- tahun tak dirasakannya, seperti ketika berhasil menyalin sutra.

Tapi dalam dua-tiga hari berikutnya, Naigu mengalami perkembangan yang tidak terduga. Yakni bertepatan dengan datangnya seorang samurai ke Kuil Ikeno O untuk suatu keperluan. Dengan raut wajah seperti merasa aneh, dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia hanya memandangi hidung Naigu saja. Tak hanya itu, Chudoji, yang pernah menjatuhkan hidungnya ke dalam bubur, ketika berpapasan dengan Naigu di luar ruangan mula-mula memandang ke bawah menahan rasa geli, tapi akhirnya gelak tawanya pecah tak tertahankan lagi. Tak hanya satu-dua kali saja terjadi, pendeta-pendeta pembantu yang diberinya perintah mula-mula mendengarkan dengan hormat saat berhadapan dengannya, tapi kemudian tertawa terpingkal-pingkal setelah membelakanginya.

Mula-mula Naigu mengira hal itu terjadi karena ada perubahan di wajahnya. Tapi dugaannya meleset, ia tidak mendapat penjelasan yang tuntas…. Tentu saja penyebab Chudoji dan pendeta-pendeta pembantu tertawa adalah karena perubahan itu. Meskipun sama-sama tertawa, tampak berbeda dibandingkan dulu ketika hidungnya masih panjang. Kalau dikatakan bahwa hidungnya yang pendek itu, yang tidak biasa mereka saksikan, lebih menggelikan ketimbang hidungnya yang panjang seperti sebelumnya, itu sudah keterlaluan. Tapi, rupanya lebih daripada itu.
“….Selama ini mereka tidak pernah tertawa secara terbuka seperti itu.”
Ada kalanya Naigu ngedumel seperti itu, lalu berhenti mengkaji kitab sutra yang baru dibacanya, sambil memiringkan kepalanya yang botak. Kalau sudah begitu, Naigu yang mestinya penuh kasih-sayang tampak tak tenang, dan sambil memandang gambar Fugen yang tergantung di sebelahnya, ia terbuai oleh lamunan ketika hidungnya masih panjang empat-lima hari lalu. Naigu bermuram durja mengenang masa jayanya, yang sekarang mereka rendahkan…. Tapi sayang, Naigu tidak dapat memecahkan persoalan ini.

Dalam hati manusia ada dua perasaan yang saling bertentangan. Tentu saja tidak ada seorang pun yang tidak bersimpati terhadap nasib malang orang lain. Tapi jika ada orang yang ingin berusaha mengatasi nasibnasib buruknya, maka aka nada orang yang tidak suka. Kalau sedikit dilebih-lebihkan, bahkan ada orang yang ingin agar orang yang bernasib malang itu tetap malang, dan bahkan ingin menjerumuskannya. Tanpa sadar berarti orang itu secara pasif sudah menaruh rasa permusuhan kepadanya…. Hal yang entah mengapa membuat Naigu jengkel walaupun tak tahu sebabnya, tidak lain adalah sikap para pendeta dan orang-orang biasa di kuil Ikeno O; ia hanya dapat merasakan egoisme orang-orang itu tanpa menjerumuskannya.
Dengan demikian tiap hari Naigu semakin merasa kesal. Dimakinya setiap orang yang dirasa menjengkelkan. Karena perbuatannya itu, bahkan muridnya yang telah merawat hidungnya itu akhirnya mengumpat dan mengatakan bahwa Naigu pantas mendapatkan hukuman atas perbuatannya itu. Chudoji yang jahillah yang sebetulnya membuat dia sangat kesal dan marah.

Suatu hari, ketika terdengar anjing manyalak keras Naigu pergi keluar. Tanpa sengaja ia melihat Chudoji sedang megejar-ngejar anjing kerempeng dengan mengayunkan tongkat sepanjang sekitar 70 sentimeter di tangannya. Tidak hanya itu, ia mengejarnya sambil mengolok-olok, “Awas kupukul hidungmu! Awas nanti kupukul hidungmu.” Naigu merampas tongkat dari tangan Chudoji dan memukulkan ke wajahnya. Tongkat itu adalah tongkat yang dulu dipakai untuk menyangga hidungnya.
Naigu, sebaliknya, merasa menyesal telah memaksakan diri memendekkan hidung.

Pada suatu malam, tiba-tiba berisik suara denting lonceng-lonceng di menara kuil karena hempasan angin kencang terdengar oleh Naigu di pembaringan. Lebih daripada itu, udara terasa sangat dingin. Naigu yang sudah tua itu ingin tidur tapi tidak bisa. Dalam keadaan berbaring tapi tak bisa tidur itu tiba-tiba ia merasakan gatal-gatal pada hidungnya. Ketika diraba terasa hidungnya itu membengkak seperti berisi air. Bahkan sepertinya terasa agak panas.
“Karena saya memendekkannya dengan paksa, mungkin malah menyebabkan sakit.”
Ia menggumam sambil dengan khidmat menekan hidungnya, seperti ketika sedang membakar dupa dan menyajikan kembang kepada sang Buddha.

Keesokan harinya, ketika Naigu bangun pagi-pagi sekali seperti biasa, ia melihat daun-daun pohon Ginko dan Tochi berguguran di taman kuil hingga halaman itu berkulauan bagai disepuh emas. Mungkin disebabkan oleh embun yang turun dari atap menara, Sembilan lingkaran logam yang ada di situ berkilauan terkena cahaya mentari pagi yang masih agakredup. Zenchi Naigu berdiri di serambi sambil menggulung tirai jendela ke atas, lalu menghela nafas panjang.
Saat itulah sekali lagi muncul perasaan yang sudah hamper dilupakannya.
Naigu buru-buru meletakkan tangannya ke hidung. Yang teraba bukanlah hidung pendek seperti malam sebelumnya, melainkan hidungnya yang dulu, yaitu hidung panjang yang menjuntai 16 sentimeter dari atas bibir atas hingga ke bawah dagunya. Kini ia sadar bahwa hidungnya itu telah memanjang seperti sediakala dalam semalam. Bersamaan dengan itu, entah dari mana, perasaan lega seperti ketika merasakan hidungnya menjadi pendek muncul kembali.
“….kalau seperti sekarang tentu tidak akan ada orang yang menertawakanku lagi,” bisik Naigu dalam hati, sambil mengibaskan hidungnya yang panjang agar diembus sejuknya angin pagi musim gugur.
Catatan :
  • Guso : Nama salah satu jabatan di kuil
  • Yukaita : Lantai papan

(sastrabudayajepang.wordpress.com)