Showing posts with label dongeng. Show all posts
Showing posts with label dongeng. Show all posts

Thursday, November 23, 2017

Dongeng Jepang: Tuanku Pembawa Karung Beras


Dahulu kala, tinggalah di Jepang seorang ksatria yang gagah berani. Semua orang memanggilnya TawaraToda, atau “Tuanku Pembawa Karung Beras”. Nama aslinya adalah Fujiwara Hidesato, dan ada cerita yang menarik di baliknya, mengapa namanya diubah menjadi demikian.

Di suatu hari ketika Hidesato tengah berjalan-jalan mencari petualangan, karena pada dasarnya dia memiliki naluri seorang ksatria sehingga dia tak tahan kalau hanya berdiam diri saja. Maka kemudian disarungkan dua pedangnya, membawa serta busurnya yang besar, yang ukurannya lebih tnggi dari badannya sendiri, lalu setelah menyampirkan selempang anak panah di punggungnya, Hidesato pun berangkat. Sang ksatria belum berjalan terlalu jauh ketika dia sampai di jembatan Seta-no-Karashi yang membentang dari salah satu ujung danau Biwa yang elok itu. Tak lama begitu dipijakkan kakinya di atas jembatan, dilihatnya tepat merintangi jalan di hadapannya itu, tengah berbaring seekor ular naga raksasa. Badan naga itu begitu besarnya sampai-sampai terlihat seperti onggokan batang pohon pinus besar yang menutupi seluruh area jembatan. Salah satu cakarnya yang sangat besar itu bertengger di atas satu sisi tembok jembatan, sementara ekornya tergeletak tepat berdampingan satu dengan lainnya. Monster itu kelihatannya sedang tertidur, dan saat bernafas, api dan asap berhembus dari lubang hidungnya.

Awalnya, Hidesato merasa gentar juga saat melihat sosok reptil mengerikan yang terbaring menghalangi jalannya kini. Dia harus memutuskan akan berbalik kembali pulang atau berjalan menaiki badan naga itu. Tetapi Hidesato adalah orang yang pemberani, lalu segera disingkirkan semua ketakutannya, dan dengan gagah berani melangkah maju. Kres, kres, kres! Begitu suara yang terdengar saat diinjakkan kakinya di atas badan si naga yang menggelung. Tanpa menengok sedikitpun ke belakang, Hidesato berjalan terus.

Hidesato belum jauh melangkah ketika didengarnya ada seseorang yang memanggilnya dari belakang. Ketika dia berbalik, dia begitu terkejut ketika menyadari monster naga itu sama sekali sudah lenyap, dan di tempat naga itu kini dilihatnya seorang pria dengan wajah yang aneh, yang kini membungkukkan badan dengan sangat hormatnya ke tanah. Rambutnya yang berwarna merah tergerai sampai ke bahunya, dan dia atas kepalanya bertengger sebuah mahkota berbentuk kepala naga, dan bajunya yang berwarna hijau laut itu bercorakkan motif kerang-kerangan. Hidesato langsung menyadari kalau orang itu pasti bukanlah manusia biasa , dan terheran-heran atas kejadian aneh itu. Kemana perginya sang monster naga dalam waktu yang secepat itu? Ataukah naga tadi sudah berubah menjadi sosok orang, dan apa arti semuanya ini? Sementara pikirannya dipenuhi pertanyaan, dihampirinya orang itu di atas jembatan dan disapanya:
“Apa itu tadi tuan yang baru saja memanggilku?”
“Betul, akulah yang memanggilmu,” jawab orang itu, “aku memiliki satu permintaan padamu. Bisakah kau kabulkan untukku?”
“Kalau aku bisa mengabulkannya, akan kulakukan,” Jawab Hidesato, “tapi pertama-tama katakan siapakah tuan ini?”
“Aku adalah Raja Naga dari Danau ini, dan rumahku ada di danau ini, tepat di bawah jembatan ini.”
“Lalu apa yang tuan kehendaki dariku?” Tanya Hidesato.
“Aku ingin kau membunuh musuh bebuyutanku si kelabang, yang hidup di balik gunung di sana itu,” lalu si Raja Naga menunjuk ke arah sebuah puncak tinggi di seberang pantai danau.
“Aku mendiami danau ini selama bertahun-tahun dan memiliki sebuah keluarga besar dengan anak-anak dan cucu-cucuku. Selama beberapa tahun terakhir ini kami hidup dalam ketakutan, setelah seekor monster kelabang berhasil menemukan tempat tinggal kami, dan setiap malam monster itu akan datang dan selalu menyeret pergi satu anggota keluargaku. Aku tak berdaya, tak bisa menyelamatkan mereka. Jika ini berlangsung terus-menerus, aku bukan hanya kehilangan semua anak-anakku, tapi aku sendiri juga akan menjadi korban monster itu. Oleh karenanya, aku merasa sangat sedih dan putus asa, lalu kuputuskan untuk meminta bantuan manusia. Selama beberapa hari, dengan maksud itu, kutunggu di atas jembatan sambil mengubah wujudku menjadi seekor ular naga yang menakutkan yang kau lihat tadi, berharap ada manusia yang pemberani dan kuat yang datang menghampiri. Tetapi semua orang yang hendak melintasi jalan ini, begitu dilihatnya sosokku, akan ketakutan dan lari tunggang langgang secepat mungkin. Kau adalah orang pertama yang sanggup menghadapiku tanpa merasa takut , jadi aku bisa langsung tahu kalau kau ini orang yang gagah berani. Kumohon kasihanilah hamba. Bersediakah kau menolongku dan membunuh musuhku si kelabang?”


Ketika mendengar kisah itu, Hidesato merasa kasihan pada si Raja Naga, dan langsung berjanji melakukan sebisanya untuk membantunya. Sang ksatria menanyakan di mana tinggalnya si kelabang itu, sehingga bisa diserangnya makhluk itu segera. Raja Naga menjawab kalau rumah kelabang itu ada di gunung Mikami, tetapi si kelabang akan datang setiap malam pada jam-jam tertentu ke istana di danau, jadi akan lebih baik kalau mereka menunggu saja sampai saat itu tiba. Setelah itu Hidesato diantar sampai ke istana milik Raja Naga, yang terletak di bawah jembatan. Aneh bin ajaib, ketika diikutinya sang tuan rumah berjalan turun ke dalam danau, air membelah membiarkan mereka lewat, dan bajunya sama sekali tidak terasa basah waktu dilewatinya air tadi. Belum pernah sebelumnya Hidesato menyaksikan pemandangan seindah istana dari marmer itu yang berada di dasar danau. Dia sering mendengar cerita tentang istana Raja Laut di dasar laut, di mana semua dayang-dayang dan pengawalnya adalah ikan-ikan laut, tetapi yang ini adalah bangunan yang luar biasa megahnya di jantung Dnau Biwa. Ika-ikan mas yang elok, gurame merah, ikan-ikan trout keperakan, semuanya tengah menanti kedatangan sang Raja Naga beserta tamunya.

Hidesato terkagum-kagum menikmati pesta yang digelar menyambut kedatangannya. Makanan yang disajikan berupa kristal daun-daun dan bunga teratai, lalu sumpitnya terbuat dari gading dari jenis sangat langka. Begitu mereka duduk, pintu geser terbuka dan keluarlah sepuluh ikan-ikan mas penari yang cantik-cantik, lalu di belakang mereka menyusul sepuluh musisi yang terdiri atas ikan-ikan gurame merah yang memainkan alat musik koto dan shamisen. Pesta berlangsung hampir menjelang tengah malam, dan alunan musik seta tari-tarian yang indah itu menyingkirkan semua kekhawatiran pada si kelabang. Raja Naga baru saja hendak menawarkan lagi secangkir sake pada sang ksatria, ketika istana itu tiba-tiba bergetar oleh guncangan hebat…gedubrak…gedubrak! Seperti suara sepasukan tentara yang berbaris tak jauh dari mereka.

Hidesato dan sang tuan rumah langsung berdiri dan bergegas menuju balkon istana, dan dilihatnya dari arah seberang gunung dua bola besar yang memancarkan api datang semakin mendekat. Raja Naga berdiri di samping sang ksatria gemetar ketakutan.
“Si kelabang! Si kelabang! Dua bola api itu adalah matanya. Dia datang untuk mengambil mangsanya.”

Hidesato memandang ke arah yang ditunjuk tuan rumahnya itu, dan di bawah pendaran samar-samar cahaya bintang-bintang malam, di belakang kedua bola api itu dilihatnya badan si kelabang raksasa yang panjang bergelung mengitari gunung, lalu kelap kerlip pada kaki seribunya bersinar bagaikan lentera yang banyak sekali di kejauhan yang bergerak perlahan-lahan menuju pantai.


Hidesato tidak memperlihatkan sama sekali tanda-tanda rasa takut. Dicobanya untuk menenangkan sang Raja Naga.
“Jangan takut. Pasti akan kubunuh kelabang itu. Tolong ambilkan saja busur dan anak panahku.”

Raja Naga menurutinya, dan sang kesatria lalu menyadari kalau dia hanya punya tiga anak panah lagi saja dalam kantong panahnya. Diangkat busurnya, lalu dipasangnya sebuah anak panah , membidik dengan hati-hati dan diluncurkannya anak panah itu.

Anak panah itu mengenai si kelabang tepat di tengah-tengah kepalanya, tetapi bukannya malah menembusnya, anak panah itu sebaliknya malah menggelinding lalu terjatuh ke tanah.

Tak gentar sama sekali, Hidesato lalu mengambil anak panah lainnya, memasangnya pada busur lalu meluncurkannya. Anak panah itu juga tepat mengenai sasaran, mengenai si kelabang tepat di tengah-tengah kepalanya, tetapi sekali lagi hanya menggelinding terjatuh ke tanah. Kelabang tu ternyata tdak mempan pada senjata! Ketika Raja Naga melihat hal ini, ketika bahkan anak panah dari ksatrianya yang paling pemberani itu tak mempan membunuh si kelabang, dia jadi putus asa dan gemetar ketakutan.

Sang ksatria menyadari kalau dia kini hanya punya satu anak panah lagi saja di kantong panahnya, jadi kalau yang ini pun gagal, maka berart dia tak akan bisa membunuh si kelabang. Dilemparkan pandangannya di atas hamparan air danau itu. Reptil raksasa itu kini sudah menggelungkan badannya yang mengerikan itu tujuh keliling mengitari gunung di depannya, dan tak akan lama lagi akan sampai ke danau. Semakin mendekat nyala bola-bola mata itu beserta kerlap-kerlip dari ke seribu kakinya yang memantul bayangan sinarnya pada permukaan air danau yang tenang.

Untungnya sang ksatria ingat kalau dia pernah mendengar cerita bahwa ludah menusia bisa mematikan bagi kelabang. Tapi kelabang yang satu ini bukan sembarang kelabang. Ukurannya saja sangat besar, membuat orang membayangkannya saja sudah merinding ngeri. Hidesato bertekad untuk mencoba lagi terakhir kalinya. Lalu diambilnya anak panah terakhir, membasahi dulu ujung anak panah itu  ke dalam mulutnya, dipasangkan anak panah itu pada busurnya, lalu dibidiknya lagi dengan cermat dan diluncurkannya anak panahnya itu.

Kali ini anak panah itu sekali lagi mengenai si kelabang tepat di tengah-tengah kepalanya, tetapi bukannya menggelinding jatuh seperti sebelum-sebelumnya, anak panah itu menancap sampai ke otak si kelabang. Setelah menggelepar-geleparr kejang, badan makhluk ular itu diam tak bergerak sama sekali, dan pancaran cahaya yang menakutkan dari matanya yang besar dan seribu kaki-kakinya itu memudar bagaikan sinar matahari yang redup di hari hujan, kemudian mati dalam kegelapan. Kegelapan total kini menyelimuti seluruh kayangan, bagai bergulung-gulung, kilat menyambar-nyambar dan suara angina menggerung murka, dan dunia seolah-olah hendak kiamat. Sang Raja Naga dan anak-anak serta pengawal-pengawalnya semua meringkuk di segala pelosok istana itu, ketakutan setengah mati, karena bangunan istana berguncang-guncang sampai ke pondasi istana. Akhirnya malam yang menakutkan itu pun berlalu. Lalu hari menyingsing dengan cerah dan indahnya. Si kelabang telah lenyap dari gunung itu.

Hidesato lalu memanggil Raja Naga untuk keluar bersamanya ke balkon, karena si kelabang telah mati dan tak ada lagi yang harus ditakutinya lagi. Lalu semua penghuni istana ke luar dengan suka cita, dan Hidesato menunjuk kea rah danau. Di situ tergeletak mayat si kelabang yang mengapung di atas air yang berubah warnanya menjadi merah karena darah si kelabang.

Rasa terima kasih sang Raja Naga tak terkira besarnya. Semua anggota keluarganya keluar dan membungkuk hormat di hadapan sang ksatria paling gagah berani di seantero Jepang.

Digelar pesta lagi, lebih megah dari sebelumnya. Semua jenis menu ikan, yang disuguhkan bermacam-macam rupa, baik itu mentah, dikukus, direbus dan dipanggang, semuanya disajikan di atas nampan koral dan pinggan kristal, disuguhkan semua di hadapannya, serta sake yang paling enak yang belum pernah Hidesato cicipi sebelumnya selama hidupnya. Menambah keceriaan, matahari bersinar dengan cemerlangnya, dan danau itu bermandikan cahaya seperti sebuah berlian cair, dan istana itu tampak seribu kali lebih indah di pagi hari ketimbang malam hari.

Sang tuan rumah berusaha membujuk sang ksatria untuk tinggal beberapa hari lagi, tetapi Hidesato bersikeras untuk pulang, dengan mengatakan kalau dia telah melakukan apa yang harus dilakukannya, dan kini saatnya untuk kembali. Raja Naga dan keluarganya semuanya sangat sedih harus segera melepas kepergian sang ksatria, tetapi karena sang ksatria tetap akan pergi maka mereka memohon agar dia mau menerima sedikit hadiah kecil (begitu kata mereka) sebagai tanda ungkapan rasa terima kasih mereka padanya karena telah membebaskan mereka selama-lamanya dari gangguan musuh mereka, si kelabang.

Ketika sang ksatria sudah berdiri di beranda hendak berangkat pulang, segerombolan ikan tiba-tiba berubah menjadi iring-iringan manusia, semua mengenakan pakaian kebesaran istana dan mahkota naga di kepalanya asing-masing untuk menunjukkan kalau mereka ini adalah pelayan-pelayan dari Raja Naga yang agung. Hadiah yang mereka bawa adalah:
Pertama, sebuah lonceng perunggu besar.
Kedua, sebuah karung beras.
Ketiga, satu gulung kain sutera.
Keempat, sebuah panci masak.
Kelima, sebuah lonceng


Hidesato mulanya tak mau menerima semua hadiah itu, tetapi karena Raja Naga memaksa, maka dia pun akhirnya tak menolak.

Raja Naga sendiri ikut menemani sang ksatria sampai jembatan, lalu meninggalkan sang ksatria di sana sambil banyak-banyak membungkuk dan mengucapkan salam, melepas iring-iringan pelayannya menemani Hidesato sampai ke rumah sang ksatria itu sambil membawakan hadiah-hadiahnya.

Seisi rumah sang ksatria dan pelayan-pelayannya sangat khawatir ketika mereka menyadari kalau Hidesato tak kunjung pulang di malam sebelumnya, tetapi  mereka kemudian menyimpulkan kalau Hidesato pasti tertahan oleh badai yang dahsyat dan pasti tengah berteduh di suatu tempat. Ketika pelayan-pelayan yang tengah berjaga-jaga menanti kepulangannya melihat tuannya dari kejauhan, mereka pun lalu memanggil semua orang dan memberi tahu kalau Hidesato datang, dan semua orang rumah berebutan ke luar menemuinya, terheran-heran melihat iring-iringan orang yang berjalan di belakang Hidesato sambil membawa  hadiah dan umbul-umbul.


Begitu pengawal-pengawal Raja Naga meletakkan hadiah-hadiah yang mereka bawa, mereka pun segera menghilang. Lalu Hidesato menceritakan pada semuanya peristiwa yang dialaminya.


Hadiah-hadiah yang diterimanya dari Raja Naga sebagai ungakapan rasa terima kasih itu ternyata memiliki kekuatan sihir. Loncengnya saja terlihat seperti lonceng biasa pada umumnya, dan karena Hidesato tak membutuhkannya maka diberikan lonceng itu untuk kuil di dekat rumahnya, di mana lonceng itu lalu digantung di sana untuk  dibunyikan sebagai tanda waktu ke seluruh penduduk yang tinggal di sekitarnya.


Karung beras itu, walaupun dari dalamnya diambil beras setiap hari untuk makanan sang ksatria dan seluruh keluarganya, tak kelihatan berkurang sedikitpun isinya.  Beras yang ada di dalamnya itu tak pernah kunjung habis.



Gulungan kain sutera itu juga, tak pernah menjadi lebih pendek walaupun setiap saat digunting panjang sekalipun untuk dipakai membuat baju baru bagi sang ksatria yang dikenakannya pada saat pergi ke istana setiap tahun baru.


Panci masak itupun sangat mengagumkan juga. Tak peduli apapun yang dimasukkan ke dalamnya, panci itu akan memasaknya menjadi hidangan yang sangat lezat walaupun tanpa harus menyalakan api sekalipun, sungguh panci masak yang sangat praktis.


Ketenaran mengenai nasib beruntung  Hidesato menyebar luas sampai ke daerah-daerah yang jauh, dank arena Hidesato tak perlu mengeluarkan uang sesenpun untuk membeli beras ataupun untuk membeli kain sutera atau bahkan kayu bakar untuk menyalakan api buat memasak. Hidesato pun menjadi sangat kaya dan makmur, dan sejak saat itu Hidesato dikenal dengan julukan Tuanku Pembawa Karung Beras.


Sumber:

Dongeng Klasik Jepang, karya Yei Theodora Ozaki

Monday, April 17, 2017

DONGENG JEPANG: Burung Nuri Yang Lidahnya Putus





Dahulu kala di Jepang, tinggalah seorang pak tua dan istrinya. Si pak tua adalah seorang pria tua yang baik, berbudi, dan pekerja keras. Tetapi istrinya perempuan yang sangat cerewet, yang bisanya merusak kehangatan rumahnya sendiri lewat kata-katanya yang kasar. Dia selalu marah-marah dari pagi sampai malam hari. Pak tua itu sudah sejakn lama tak lagi peduli segala kebawelan istrinya. Pak tua menghabiskan waktu siang harinya bekerja di ladang, dan karena dia tak memiliki anak, maka sebagai hiburannya saat dia pulang ke rumah, dipeliharanya seekor burung nuri. Pak tua begitu menyayangi si burung kecil  seolah-olah itu anaknya sendiri.




Saat pak tua pulang di malam hari setelah seharian bekerja keras di udara terbuka, hiburan satu-satunya adalah memanjakan si burung nuri kecil, mengajaknya bisara dan mengajarinya beberapa trik, yang bisa dimengerti cepatsekali oleh si burung kecil. Pak tua akan membuka sangkarnya dan membiarkan si burung mungil terbang di dalam kamar, dan mereka berdua akan bermain-main bersama. Lalu ketika saat makan malam tiba, pak tua akan menyisihkan remah-remah dari makanannya untuk makanan burung kecil kepunyaannya itu.

Di suatu hari, pak tua tengah pergi memotong kayu di hutan, dan istrinya mampir di rumah untuk mencuci baju. Sehari sebelumnya, dia telah membuat tepung kanji, dan ketika dia tengah mencarinya, tepung kanji itu semuanya sudah tak ada lagi, dan lesung yang sudah diisinya penuh kemarin sekarang kosong.

Waktu dia tengah menduga-duga siapa gerangan yang telah mengambil atau mencuri tepung kanjinya, terbanglah mendekat si burung nuri, dan sambil merunduk membungkukkan kepala mengilnya yang berbulu, trik yang diajarkan tuannya, si burung molek itu mencicit sambil berkata:

"Akulah yang mengambil tepung kanji itu. Kukira itu makanan yang disediakan untukku di mangkuk itu, lalu kumakan habis semuanya. Kalau aku berbuat salah, ampuni aku! Cit...cit...cit...!"




Bisa dilihat kalau burung itu adalah burung yang jujur, dan seharusnya istri pak tua bersedia memaafkannya ketika si burung sudah minta maaf dengan sopannya. Tetapi tidak demikian yang terjadi.

Istri pak tua tak pernah menyayangi si burung nuri, malah sering bertengkar dengan suaminya karena memelihara piaraan yang disebutna burung yang mengotori seluruh rumah, sambil berkata kalau pekerjaannya bertambah dengan kehadiran si burung. Sekarang dia merasa senang karena kini punya alasan menentang kehadiran burung peliharaan suaminya itu. Dibentak-bentaknya burung kecil itu bahkan dicetuskannya sumpah serapah atas kelakuan buruk si burung,  dan masih tak puas berkata-kata kasar, kata-katayang menyakitkan hati, karena dirasuki murka dicekiknya si burung nuri itu, yang selama dibentak-bentak telah merentangkan sayapnya membungkuk hormat di hadapan istri pak itu, untuk menunjukkan betapa menyesalnya dirinya, lal mengambil guning dan memotong lidah si burung kecil yang malang itu.

"Pasti kau mengambil tepungku memakai lidah itu, kan? Nah sekarang rasakan hidup tanpa lidah itulagi!" Dan sambil mencaci kasar seperti itu, diusirnya si burung pergi, tak peduli sama sekali apa yang akan menimpa si burung kecil, dan tanpa merasa kasihan sama sekali atas penderitaan yang dialami si burung kecil. Begitu kejamnya dia!

Istri pak tua setelah mengusir pergi si burung nuri, membuat lagi adonan tepung kanji, menggerutu tak henti-hentinya memikirkan kerepotannya, lalu setelah selesai mengkanji semua bajunya, menggelarnya di atas papan untuk mengeringkan baju-baju itu di bawah sinar natahari, tak menyetrikannya seperti yang biasa dilakukan di Inggris.

Malam harinya pak tua itu pun pulang ke rumahnya. Seperti biasa, dalam perjalanan pulang dinanti-nantinya saat-saat ketika dia hampir sampai ke gerbang rumahnya, di mana dia akan melihat burung piaraannya itu terbang dan mencicit menyambunya, mengepak-ngepakkan bulu-bulunya dengan riang, lalu akhirnya bertengger di bahunya. Tapi malam ini pak tua merasa sangat kecewa, karena bahkan bayangan si burung nuri kesayangannya itu tak kelihatan sama sekali.

Dia pun mempercepat langkahnya, tergesa-gesa melepas sandal jeraminya, dan menaiki beranda. Tetapi masih tak dilihatnya  si burung nuri itu. Dia kini merasa yakin kalau istrinya, karena tabiatnya yang pemarah itu pasti telah menembak burung nuri itu di kandangnya. Lalu dipanggil istrinya itu, dan berkata dengan tak sabaran:

"Di mana Suzume San (Nona Nuri) hari ini?'

Istrinya itu mula-mula berpura-pura tidak tahu, lalu dijawabnya:

"Burung nuri kepunyaanmu itu? Sudappasti aku tak tahu. Sekarang aku malah berpikir, karena tak kulihat dia sepanjang siang tadi, tak heran kalau burung yang tahu terima kasih itu pasti sudah terbang dan meninggalkanmu setelah kau manjakan selama ini?"

Tetapi akhirnya, karena pak tua terus menerus mendesaknya, merasa yakin kalau dia pasti tahu apa yang terjadi dengan hewan piaraannya itu, istrinya pun akhirnya mengakui semuanya. Dia marah-marah menceritakan kalau si nuri telah memakan habis adonan tepung kanji yang sudah dibuatnya khusus untuk mengkanji bajunya, dan ketika si burung nuri mengakui apa yang sudah diperbuatnya, karena sangat geram diambilnya gunting dan dipotongnya lidah si burung nuri, dan diusirnya pergi si burung nuri itu dan melarangnya untuk kembali ke rumah itu lagi.

Lalu istri pak tua menunjukkan pada suaminya potongan lidah si burung nuri sambil berkata:

"Ini lidah yang kupotong! Burung usil, kenapa dimakannya sampai habis kanjiku?"

"Kenapa kau begitu kejam? Ya ampun! Kau ini kejam sekali!" hanya itu yang bisa diucapkan pak tua berulang-ulang. Hatinya begitu baik untuk bisa menghukum istrinya, tapi dia juga merasa sedih sekali atas apa yang telah dialami burung nurinya iu.

"Malang sekali Suzume San-ku harus kehilangan lidahnya!" katanya pada dirinya sendiri. "Dia tak akan bisa lagi mencicit, dan pasti rasa sakit akibat lidahnya harus putus seperti itu membuatnya menderita! Apa tak ada yang bisa kulakukan?"

Pak tua masih menangis terus bahkan setelah istrinya yang cerewet itu tertidur.

Ketika diusap air matanya dengan baju katunnya,didapatnya ide cemerlang yang membuatnya sedikit tenang. Dia akan pergi mencari burung nuri itu keesokan harinya. Setelah memutuskan akan melakukannya, dia pun akhirnya bisa tidur juga.

Keesokan harinya pak tua bangun pagi-pagi sekali, bahkan sebelum fajar menyingsing, lalu melahap sarapan ala kadarnya, mulai menjelajahi bukit dan melintasi hutan, berhenti si setiap rumpun bambu sambil memanggil-manggil:

"Di mana, di manakah kini berada burung nuriku yang lidahnya putus? Di mana, di manakah kini berada burung nuriku yang lidahnya putus?'



Dia tak pernah berhenti beristirahat,ataupun untuk makan siang, dan ketika itu hari sudah menjelang sore saat disadarinya dia beradadi dekat sebuah hutan bambu yang lebat. Belukar bambu menjadi tempat mampir kesukaan burung-burung nuri, dan di saat itu di tepi hutan pak tua merasa yakin melihat burung nuri kepunyaannya itu yang begitu disayanginya telah menunggu, lalu menyambunya. Dia hampir-hampir tak percaya apa yang dilihatnya kini karena begitu gembiranya, lalu berlari cepat-cepat untuk menemuinya. Si nuri menundukkan kepalanya yang mungil itu, lalu melakukan beberapa trik yang telah diajarkan masternya itu, menunjukkan betapa gembiranya dia bisa bertemu kembali dengan sahabat lamanya, dan aneh in ajaib, nuri itu bisa bicara. Pak tua mengatakan betapa sedih dirinya atas semua yang terjadi, dan menanyakan tentang lidahnya, dan keheran-heranan bagaimana nuri itu bisa berbicara begitu lancarnya tanpa lidah. Lalu si burung nuri membuka moncongnya dan memperlihatkan pada pak tua kalau sebuah lidah yang baru telah tumbuh menggantikan lidahnya yang lama, dan memohon agar pak tua tidak mengingat-ingat lagi masa lalu, karena dia dalam kondisi yang cukup sehat sekarang. Lalu pak tua itu pun akhirnya menyadari kalau burungnya itu adalah peri, bukan sembarang burung biasa. Tak bisa dilukiskan betapa bertumpuk-tumpuknya  rasa girang pak tua itu kini. Dia langsung lupa semua kesulitannya, dia bahkan lupa kalau sesungguhnya betapa lelah dirinya, karena sekarang telah ditemukan kembali burung nurinya yang hilang, yang bukannya sedang menderita karena kehilangan lidah seperti yang dikhawatirkan pak tua, tetapi ternyata burung nurinya itu dalam keadaan baik-baik saja dan sekarang sudah punya lidah yang baru, dan sama sekali tak menunjukkan pernah mengalami perlakuan yang buruk dari istrinya. Dan yang paling utama ternyata si burung adalah peri.


Si burung nuri lalu meminta pak tua untuk mengikutinya, lalu terbang di depannya dan diantarnya masternya itu sampai ke sebuah rumah yang indah di tengah-tengah hutan bambu. Pak tua itu tak bisa menyembunyikan rasa takjubnya saat dimasukinya rumah itu dan melihat tempat yang sangat indah. Rumah itu dibangun dari kayu yang paling putih, dengan hamparan permadani lembut berwarna cokelat muda dan yang paling cantik yang belum pernah dilihat sebelumnya, dan bantak yang dibawakan oleh si burung nuri itu untuk alas duduk pak tua terbuat dari sutra dan wol yang paling halus. Vas cantik dan kotak-kotak berkilat menjadi penghias tokonoma (cekungan di dinding tempat memajang barang-barang hiasan) di setiap ruangan.

Si burung nuri mengajak pak tua memasuki ruang tamu kehormatan, kemudian memempatkan diri agak jauh, dihaturkannya ucapan terima kasih dengan membungkuk berkali-kali atas semua kebaikan yang telah diberikan pada dirinya setelah bertahun-tahun lamanya.

Kemudian Nona Nuri, kita akan memanggilnya dengan nama itu mulai sekarag, memperkenalkan semua keluarganya pada pak tua. Setelah perkenalan itu, anak-anak perempuannya, mengenakan gaun wol yang paling anggun, membawa masuk sajian makanan yang lezat-lezat di atas nampan-nampan antik yang cantik, sampai-sampai pak tua berpikir kalau dia pasti tengah bermimpi. Di tengah-tengah jamuan makan malam, beberapa anak perempuan nona nuri menampilkan tarian yang indah sekali, yang dinamakan tarian "suzume-odori" atau tarian burung nuri, untuk menghibur tamu mereka.



Tak pernah pak tua bisa bersenag-senang seperti itu. Waktu berlalu dengan begitu cepatnyadi tempat yang elok itu, dikelilingi semua nuri-nuri itu menjamunya dan menghibur serta juga menari di hadapannya.

Tetapi malampun menjelang dan hari yang mulai gelap itu mengingatkan pak tua kalau perjalanan pulang yang harus ditempuhnya sangatlah jauh, jadi dia berpikir harus pamit sekarang, lalu segera pulang. Diucapkannya terima kasih pada sang tuan ruamah yang baik itu atas hiburan yang disuguhkan, dan memohon demi dirinya, agar si burung nuri mau melupakan semua penderitaan yang dialaminya atas perlakuan istrinya yang kejam itu. Dikatakan pada Nona Nuri bahwa dia merasa sangat lega dan senang Nona Nuri beradadi rumah yang begitu cantik, dan mengetahui kalau Nona Nuri tak menuntut apapun. Pak tua selama ini begitu cemas ingin mengetahui bagaimana nasib burung nuri miliknya itu, dan mencari tahu apa yang benar-benar telah terjadi pada dirinya dan yang selama ini telah menuntunnya untuk mencarinya. Sekarang setelah tahu kalau semuanya baik-baik saja, pak tua bisa pulang ke rumahnya dengan hati gembira. Jika suatu saat kelak sang peri membutuhkan bantuan apapun dari pak tua, Nona Nuri hanya perlu memanggilnya saja, maka pak tua akan segera datang.

Nona Nuri memohon agar pak tua tetap tinggal dan beristirahat untuk beberapa hari serta menikmati perubahan suasana di rumahnya, tetapi pak tua mengatakan kalau dia harus pulang ke istrinya - yang mungkin akan marah-marah karena dia tak pulang tepat pada waktunya - dan juga kembali ke pekerjaannya, sehingga walaupun pak tua sangat ingin untuk tetap tinggal di situ, dia tak bisa menerima undangan tulus sang peri. Tetapi sekarang setelah dia tahu di mana Nona Nuri tinggal, dan dia akan datang menemuinya kapanpun dia ada waktu.

Ketika Nona Nuri menyadari kalau dia tak bisa membujuk pak tua agar mau tinggal lebih lama, dipanggil beberapa pelayannya, dan saat itu juga mereka membawa masuk dua kotak, salah satunya berukuran besar dan yang satunya lagi kecil. Kedua kotak itu diletakkan di hadapan pak tua, lalu Nona Nuri memintanya untuk memilih yang manapun yang disukainya sebagai hadiah, yang ingin diberikan kepada pak tua.

Pak tua tak bisa menolak tawaran yang tulus itu, lalu memilih kotak yang kecil, sambil berkata:

"Hamba sudah terlalu tua dan lemah untuk membawa kotak yang yang besar dan berat itu. Seperti yang tuanku peri katakan kalau hamba boleh memilih manapun yang hamba suka, maka akan hamba pilih kotak yang kecil, karena dengan demikian akan lebih mudah bagi hamba untuk membawanya.

Kemudian semua burung nuri itu membantu mengangkat kotak itu ke atas punggung pak tua, dan mengantarnya sampai ke gerbang untuk berpisah, sambil membungkuk hormat berkali-kali mengucapkan selamat tinggal dan mengundang pak tua lagi kapanpun dia ada waktu. Demikianlah, pak tua dan burung nuri peliharannya itu berpisah dalam keadaan hati yang bahagia, dan si burung nuri tak menampakkan demdam sama sekali atas perlakuan buruk yang harus dideritanya dari istri pak tua itu. Sebaliknya, dia merasa sedih memikirkan pak tua yang harus menghadapi kebawelan istrinya itu seumur hidupnya.

Ketika pak tua sampai di rumahnya, didapatinya istrinya itu bahkan jadi lebih cerewet dari sebelum-sebelumnya, karena saat itu sudah larut malam dan karena dia sudah menanti suaminya sejak tadi-tadi.


"Kau ke mana saja dari tadi?" tanyanya dengan suara keras, "kenapa kau pulang begitu larut?"

Pak tua berusaha menenagkan hati istrinya dengan menunjukkan kotak hadiah yang dibawanya pulang, lau diceritakan semua peristiwayang dialaminya, dan bagaimana dia dijamu dengan megahnya di rumah si burung nuri miliknya itu.

"Sekarang kita sama-sama lihat apa isi kotak in," kata pak tua sebelum istrinya menggerutu lebih panjang lagi, "kau harus membantuku membukanya," lalu keduanya duduk di hadapan kotak itu dan membukanya.

Dengan takjub mereka melihat kotak itu sampai ke pinggir-pinggirnya penuh berisi koin-koin perak dan emas, dan bayak lagi benda-benda berharga lainnya. Alas duduk pondok mereka menjadi berkilauan saat mereka keluarkan benda-benda itu satu per satu, lalu meletakkannya, menggenggamnya berganti-gantian. Pak tua sangat girang melihat semua harta yang semuanya kini adalah miliknya. Pemberian si burung nuri itu bahkan di luar angan-angannya yang paling liar sekalipun, yang kini membuatnya tak lagi harus bekerja keras dan hidup dengan tenang dan nyaman selama sisa hidupnya.

Dia berkata berulang-ulang,"Terima kasih burung nuri kecilku! Terima kasih burung nuri kecilku yang baik hati!"



Tetapi istrinya, begitu hilang takjubnya di saat pertama tadi membelalak memandangi koin-koin perak dan emas itu, tak dapat menekan rasa rakusnya yang sudah menjadi sifat jelenya itu. Dia kini malah mengomeli suaminya karena tak membawa pulang kotak yang besar berisi hadiah-hadiah, setelah karena jujurnya pak tua menceritakan pada istrinya kalau dia telah menolak untuk mengambil kotak hadiah yang berukuran besar yang ditawarkan si burung nuri padanya, tetapi lebih memilih kotak yang kecil karena ringan dan mudah dibawa pulang.

"Kau ini orang tua yang bodoh!" katanya, "mengapa tak kau mabil kotak yang besar saja?" Coba bayangkan apa yang lenyap dari genggaman kita. Kita mestinya sekarang punya emas dan perak yang pasti lebih banyak lagi dari yang ini. Kau betul-betul bodoh!" sambil berteriak , lalu pergi tidur dalam keadaan geram.

Pak tua berharap dia tadi tak mengatakan apa-apa soal kotak yang lebih besar itu, tetapi semuanya sudah terlambat. Istrinya yang rakus, tak puas dengan keberuntungsn yang tak diduga-duga itu, yang sebetulnya dirinya itu tak berhak mendapatkannya walau sedikitpun, akhirnya memutuskan, jika mungkin, untuk mendapatkan lebih dari itu semua.

Pagi-pagi sekali di keesokan harinya, istri pak tua bangun dan memaksa suaminya memberitahu arah jalan menuju rumah si burung nuri. Ketika disadari apa yang diinginkan istrinya itu, pak tua mencoba melarangnya untuk pergi, tetapi percuma saja, istrinya tak mau mendengarkan sepatah kata pun yang dikatakan suaminya. Aneh sebetulnya kalau istrinya itu tak merasa malu sedikitpun ingin mendatangi si burung nuri setelah perlakuan kejam yang dilakukannya dengan memotong lidah si burung karena murkanya. Tetapi sifat rakusnya yang ingin mendapatkan kotak yang lebih besar membuatnya melupakan hal-hal lain. Bahkan tak sedikitpun terpikir dalam benaknya kalau si burung nuri itu bisa saja marah padanya. Sesungguhnya burung-burung itu memang marah, dan mungkin bahkan menghukumnya atas apa yang telah dilakukannya itu.

Terhitung saat Nona Nuri kembali ke rumahnya dalam pelarian yang memilukan hati itu ketika mereka menemukannya, dalam keadaan terisak-isak dan mulut yang berlumuran darah, seluruh keluarga dan kerabatnya tak punya urusan penting lainnya selain hanya membicarakan kekejaman istri pak tua. "Tega sekali orang itu," mereka bertanya-tanya, "menjatuhkan hukuman seberat itu hanya karena kesalahan yang sepele seperti tak sengaja memakan tepung beras?". Mereka semua menyayangi pak tua yang begitu baik san sabar menghadapi semua kesulitannya, tetapi istrinya itulah yang mereka benci, dan mereka telah memutuskan, kalau mereka berharap mendapak kesempatan untuk menghukumnya sebagaimana yang patut didapatkan perempuan itu. Mereka ternyata tak perlu menunggu lama.

Setelah berjalan selama beberapa jam, istri pak tua akhirnya menemukan hutan bambu yang tadi sudah diminta pada suaminya untuk menunjukka letaknya, dan sekarang berdiri di depannya sambil berteriak:

"Di manakah rumah si burung nuri yang lidahnya putus? Di manakah rumah si burung nuri yang lidahnya putus?"

Akhirnya dilihatnya atap rumah muncul dari balik rimbunya dedaunan bambu. Dia bergegas menghampiri pintunya dan mengetuk dengan keras-keras.

Ketika pelayan-pelayan Nona Nuri memberitahunya kalau majikan lamanya berada di depan pintu memaksa ingin bertemu dengannya,  dia agak terkejut dengan kunjungan yang tak terduga-duga itu, setelah semua yang telah terjadi, dan dia sama sekali tak berprasangka apa-apa terhadap aksud kedatangan perempuan tua itu yang nekad mendatangi rumahnya. Namun Nona Nuri adalah burung yang santun, lalu dia pun keluar untuk menyapa istri pak tua, mengingat kalau perempuan tua itu dulu pernah jadi tuannya.



Istri pak tua berniat untuk tidak membuang-buang waktu bertutur sapa, lalu langsung dikatakan maksud kedatangannya, dan tanpa malu sama sekali dia berkata:

"Kau tak perlu repot-repot menjamuku seperti yang kau lakukan untuk suamiku. Aku datang untuk mengambil kotak yang dengan begitu bodohnya telah dibiarkannya tertinggal. Aku akan segera pergi jika kau berikan padaku kotak yang besar itu. Hanya itu yang kumau!"

Nona Nuri langsung menyetujuinya, dan meminta pelayan-pelayannya untuk membawa keluar kotak yang besar. Istri pak tua dengan bersemangat mengambilnya, lalu menggendong di punggungnya, tanpa sama sekali mengucapkan terima kasih kepada Nona Nuri, bergegas pulang ke rumah.

Kotak itu begitu beratnya sampai-sampai istri pak tua tak sanggup berjalan cepat, apa lagi berlari, walau itu yang ingin dilakukannya saat itu, tetapi malah dia harus sering-sering duduk dan beristirahat.

Ketika istri pak tua berjalan terhuyung-huyung memikul beban yang berat itu, nafsunya membuka kotak itu menjadi semakin tak bisa ditahan-tahannya lagi. Dia tak bisa menunggu lebih lama lagi, karena dia membayangkan kotak yang besar itu kali ini akan dipenuhi emas da perak dan permata-permata mahal seperti isi kotak kecil yang diterima suaminya.

Akhirnya karena dikuasai nafsu serakah dan kekikiran, istri pak tua lalu meletakkan kotak bawaannya dan membukanya hati-hati, membayangkan matanya akan terbelalak melihat limpahan harta di dalamnya. Namun apa yang dilihatnya, begitu menakutkan sampai-sampai membuatnya nyaris gila. Begitu tadi diangkatnya tutup kotak itu, segerombolan setan-setan yang wajahnya seram-seram dan menakutkan melompat ke luar dari dalam kotak dan mengelilinginya seolah-olah hendak membunuhnya. Bahkan dalam mimpi buruknya sekalipun belum pernah ia melihat makhluk-makhluk yang mengerikan seperti itu sebagaimana yang ada di dalam kotak sekarang ini. Sesosok setan dengan mata merahnya yang besar di tengah-tengah dahi mendekatinya dan memelototinya, ada juga monster-monster dengan mulut menganga tampak seolah -olah mereka ini akan melumatnya, lalu ada juga ular besar bergelung dan medesis di dekatnya, juga kodok raksasa yang melompat-lompat dan berkuak-kua mendeatinya.


Istri pak tua belum pernah merasa begitu ketakutannya, seperti sekarang ini selama hidupnya, lalu berlari tunggang langgang dari tempat itu, secepat kaki-kaki yang gemetaran itu membawanya, dan akhirnya lega karena bisa melarikan diri dalam keadaan hidup. Saat sesampainya di rumah, istri pak tua menggeletakkan diri di lantai dan menceritakan pada suaminya semua peristiwa yang dialaminya, bagaimana dia nyaris dibunuh oleh setan-setan dalam kotak itu.



Lalu istri pak tua mulai menyalahkan si burung nuri, tetapi pak tua langsung memintanya diam, sambil berkata:

"Jangan salahkan burung nuri itu. Ini semua karena kekejamanmu sendiri yang pada akhirnya mendapat ganjarannya. Aku hanya bisa berharap peristiwa ini bisa menjadi pelajaran berharga buatmu di masa depan."

Istri pak tua tak berkata apa-apa lagi, dan sejak hari itu dia menyesali kebawelannya, perilakunya yang bururk, dan perlahan-lahan menjadi orang yang baik, sehingga suaminya hampir-hampir tak mengenali sososk istrinya itu. Dan mereka berdua pun akhirnya menghabiskan hidupnya bersama dengan bahagia, selalu sejahtera dan tak pernah berkekurangan sedikitpun, menggunakan dengan bijaksana harta karun yang diterima pak tua dari burung piaraanya, si burung nuri yag lidahnya putus.








Diambil dari buku Dongeng Klasik Jepang, karya Yei Theodora Ozaki











Wednesday, February 8, 2017

DONGENG JEPANG: Pak Tua Yang Hilang Benjolan Di Pipinya



Dahulu kala, tinggalah seorang pak tua yang baik hati yang memiliki benjolan seperti bola tenis yang tumbuh menonjol di pipi kanannya. Benjolan itu membuatnya jadi seperti orang cacat, dan yang begitu membuatnya tak nyaman sehingga selama bertahun-tahun pak tua banyak menghabiskan waktu dan uangnya untuk mencoba menyingkirkannya . Dia pun sudah bertanya pada banyak tabib dari segala penjuru, dan memakai semua jenisobat-obatan baik itu obat oles ataupun obat yang harus diminum. Tetapi semua upayanya itu tak ada yang behasil. Benjolan itu kian membesar sampai ukurannya hampir sebesar wajahnya, dan dengan putus asa akhirnya dia menyerah berharap bisa menghilangkannya.

Di suatu hari, kayu untuk perapian di dapurnya habis, jadi karena istrinya memintanya saat itu juga, maka pak tua mengambil kapaknya, lalu berangkat mencari kayu di perbukitan yang tak jauh dari rumahnya. Hari itu haru yang cerah di awal musim gugur, dan pak tua menikmati udara yang segar di saat itu dan tak sedang terburu-buru pulang ke rumah. Maka sepanjang sore itu berlalu dengan cepatnya sementara dia memotong-motong kayu, dan dia sudah mengumpulkan tumpukan kayu yang cukup untuk dibawa pulang ke istrinya. Saat hari mulai menjelang gelap, diapun berbalik menuju rumahnya.

Pak tua belum pergi terlalu jauh menuruni lembah di pegunungan itu ketika langit menjadi berawan dan hujan mulai turun deras. Dilihatnya berkeliling mencari tempat berlindung, tetapi disana bahkan tak ada satupun podok pembakar batu bara yang kelihatan. Akhirnya diperlihatkannya ada sebuah lubang besar dalam cekukan sebuah batang poho. Lubang itu berada dekat dengan tanah, maka dia merangkak masuk dengan mudahnya, lalu duduk dan berharap kalau itu hanya huja gerimis di gunung, dan berharap cuacanya segera cerah kembali.

Tetapi yang membuat pak tua kecewa, bukannya berubah cerah, tetapi hujan malah turun semakin deras, dan akhirnya badai guntur menerjang pegunungan itu. Petir saling menyambardengan suara gerungannya yang mengerikan, dan langit terlihat berkobar-kobar seolah-olah terbakar petir, dan paktua hampir-hampir tak percaya dirinya masih hidup saat itu. Dibayangkannya dia pasti sudah mati ketakuan. Namun akhirnya, langit pun cerah kembali dan seluruh daratan itu berkilau karena pendaran cahaya matahari yang muncul kembali. Semangat pak tua menyala lagi saat dilihatnya senjakala yang indah, dan dia baru saja melangkahkan kaki ke luar dari tempat berlindungnya yang aneh itu di dalam sebuah pohon yang bergua keika didengarnya suara seperti langkah-langkah kaki orang. Dia langsung menduga kalau teman-temannya pasti tengah mencarinya, dan dia merasa gembira membayangkan akan berjalan pulang bersama beberapa teman perjalanan yang riang. Tetapi saat melihat keluar dari dalam pohon, yang membuatnya tercengang saat melihatnya, itu bukanlah teman-temannya, tetapi ratusan jin yang kini mendatangi tempat itu. Semakin dipandangnya, semakin besar pula rasa keheranannya. Beberapa dari jin-jin itu ukurannya sebesar raksasa, yang lainnya memiliki mata yang luar biasa besarnya yang ukurannya sangat tidak berimbang dengan porsi ukuran tubuh mereka, jin yang lainnya lagi memiliki hidung yang panjangnya tak normal, dan beberapa lainnya memiliki mulut besar-besar yang saking lebarnya itu seperti mulut yang membuka dari telinga sampai ke telinga satunya lagi. Semuanya punya tanduk yang tumbuh di keningnya. Pak tua begitu tercengan pada apa yang dilihatnya sampai-sampai dia kehilangan keseimbangan lalu terjatuh ke luar dari lubang pohon. Untung baginya jin-jin itu tidak melihat dirinya, karena pohon itu letaknya di belakang. Lalu dia bangkit, dan merangkak masuk kembali ke dalam pohon.

Sementara dia duduk di dalam sana, dan bertanya-tanya dengan tak sabar menunggu saat dia bisa pulang, didengarnya suara alunan musik yang riang, kemudian beberapa jin itu mulai ada yang menyanyi.

"Apa yang sedang dilakukan jin-jin itu?" tanya pak tua pada dirinya sendiri. "Aku akan mencari tahu, kedengarannya sangat menghibur."

Saat mengintip, pak tua melihat kalau pemimpin jin-jin itu kini tengah duduk dengan punggungnya menyandar pada pohon tempat dimana dia berlindung, dan jin-jin lainnya semuanya duduk berkeliling, beberapa dari mereka ada yang minum-minum dan yang lainnya menari. Makanan dan minuman anggur digelar dihadapan mereka di tanah,dan jin-jin itu tampaknya benar-benar sedang berpesta dan tengah bersenang-senang.

Itu membuat pak tua tertawa melihat tingkah laku mereka yang aneh.

"Betapa menyenangkannya!" pak tua itu tertawa sendiri, "Aku memang sudah tua, tetapi aku belum pernah melihat yang aneh seperti ini seumur hidupku."

Pak tua kelihatannya begitu tertarik dan senang memandangi semua yang dilakukan jin-jin itu, sampai-sampai dia lupa lalu melangkah ke luar dari pohon dan berdiri terus memandangi mereka.

Kepala gerombolan jin itu tengah hendak meminum secangkir penuh sake dan menonton salah satu jin yang sedang menari. Tak lama kemudian dia berkata menunjukkan kebosanan:

"Tarianmu agak membosankan. Aku jenuh melihatnya. Apa ada di antara kalian yang bisa menari lebih baik dari dia ini?"

Nah... pak tua rupanya senang menari selama ini, dan cukup mahir di bidang tarian ini, dan dia yakin kalau dia bisa menari lebih baik dari para jin itu.

"Apakah sebaiknya aku keluar dan menari di hadapan jin-jin ini dan membuat mereka meihat apa yag bisa dilakukan seorang manusia? Tetap ini mungkin saja berbahaya, karena kalau aku tak bisa membuat mereka senang, mereka bisa membunuhku," kata pak tua pada dirinya sendiri.

Namun rasa takutnya tak lama kemudian terkalahkan oleh rasa kesukaannyayang begitu besar pada tarian. Beberapa saat kemudian, dia sudah tak bisa menahan diri lagi, lalu keluar berdiri di hadapan gerombolan jin dan dia pun langsung mulai menari. Pak tua menyadari kalau nyawanya bergantung apakah dia bisa menyenangkan hati makhluk-makhluk yang aneh ini atau tidak, lalu mengerahkan segala kemampuan dan akalnya sebaik-baiknya.

JIn-jin itu pertama-tamanya terheran-heran melihat manusia yang begitu tak mengenal takut ikut bergabung dalam pesta mereka, tetapi kemudian rasa heran mereka itu tak lama kemudian berubah menjadi kekaguman.

"Aneh sekali!" seru pemimpin bertanduk itu. "Aku belum pernah melihat penari sehebat ini sebelumnya! Dia menari dengan indahnya!"

Ketika pak tua selesai dengan tariannya, jin berbadan besar itu lalu kemudian berkata:

"Terima kasih atas tarianmu yang indah itu. Nah sekarang kau kami ajak minum sake bersama kami," dan setelah berkata demikian, diberikannya sebuah cangkir sakenya yang paling besar.

Pak tua lalu mengucapkan terima kasih dengan hormatnya:

"Hamba tak mengharap kebaikan yang begitu besar dari tuanku. Hamba khawatir hamba hanyalah mengganggu pesta tuan dengan tampilan tarian hamba yang tak seberapa indahnya ini."

"Oh...tidak...tidak<" jawab jin yang berbadan besra itu. "Kau harus sering-sering datang dan menari untuk kami."

Pak tua itu mengucapkan terima kasih dan berjanji akan melakukannya.

"Jadi, maukah kau datang lagi besok, pak tua?" tanya si jin.

"Tentu saja hamba bersedia datang," jawab pak tua.

"Tapi kau harus memberikan jaminan atas janji kau pada kami." kata si jin lagi.

"Apapun yang tuan kehendaki." ujar pak tua.

"Apa yang bisa kita ambil sebagai jaminan?" tanya si jin, memandang sekeliling.

Kemudian salah satu dari pelayan-pelayan jin berlutut di belakang pemimpinnya:

"Tanda yang dia tinggalkan untuk kita haruslah sesuatu yang paling penting yang dimilikinya. Hamba lihat pak tua mempunyai benjolan di pipi kanannya. Kaum manusia menganggap benjolan seperti itu pembawa keberuntungan. Tuanku bisa mengambil benjolan itu dari pipi kanan pak tua ini, dan dia pasti akan kembali esok hari untuk memintanya kembali."

"Kau cedas sekali," kata kepala jin, menganggukkan tanduknya tanda setuju. Kemudian dia merentangkan lengannya yang berbulu serta tangannya yang mirip cakar itu, lalu mengambil benjolan besar itu dari pipi kanan pak tua. Anehnya, benjolan itu lepas begitu mudahnya layaknya menarik buah plum matang dari pohonnya saat dipegang si jin, kemudian gerombolan jin periang itu mendadak lenyap.

Pak tua terbengong-bengong menyaksikan semua yang terjadi barusan. Selama beberapa saat dia hampir-hampir tak menyadari dimana dia kini berada. Ketika disadarinya apa yang telah terjadi padanya, dia begitu gembira kalau benjolan yang ada di wajahnya, yang telah selama beberapa tahun membuatnya menjadi cacat, telah betul-betul diambil tanpa merasakan sakit apapun. Diraba dengan tangannya untuk memeriksa apakah ada sisa luka codet yang tertinggal, tetapi disadarinya kalau pipi kanannya kini sama mulusnya dengan pipinya yang kiri.

Matahari telah lama terbenam, dan bulan baru telah muncul seperti sabit keperakan di angkasa. Pak tua mendadak menyadari betapa sudah malamnya saat itu dan bergegas pulang. Ditepuk-tepuk pipi kanannya berulang-ulang, seertinya mau meyakinkan dirinya kalau dia memang beruntung telah hilang benjolannya itu kini. Dia begitu gembiranya sampai-sampai dia ak bisa berjalan tenang-tenang. Dia berlari dan menari-nari di sepanjang jalan menuju rumahnya.

Dilihatnya istrinya sangat khawatir, bertanya-tanya apa yang telah menimpa suaminya sampai pulang begitu terlambat. Dia pun segera menceritakan pada istrinya semua yang dialaminya waktu dia pulang tadi sore. Istrinya juga merasa senang seperti sang suami saat diperlihatkan pada istrinya itu kalau benjolan jelek di wajahnya kini telah lenyap, karena di masa mudanya isrinya itu selalu membanggakan wajahnya yang tampan, dan baginya tentu sangat menyedihkan melihat benjolan itu tumbuh kian besar setiap harinya.

Di samping ruamah pasangan suami istri yang baik hati itu tinggalah seorang pak tua yang jahat dan pencemburu. Dia pun selama beberapa tahun terganggu dengan tumbuhnya benjolan di pipi kirinya, dan diapun juga telah berusaha melakukan segala upaya untuk menghilangkannya, tetapi sia-sia belaka.

Dia langsung mendengar, lewat pelayannya, mengenai keberuntugan yang dialami tetangganya yang kini sudah tak lai memiliki benjolan di wajahnya, maka dipanggilnya tetangganya itu mala itu juga dan dimintanya temannya ituuntuk menceritakan padanya semua yang berkaitan dengan lenyapnya benjolan itu. Pak tua yang baik hati itu menceritakan pada tetangganya yang berhati culas itu semua yang terjadi padanya. Digambarkannya tempat dimana ditemukanya pohon berlubang di mana di dalamnya dia bersembunyi, lalu menganjurkan pada tetangganya itu untuk berada di tempat itu di penghujung siang menjelang matahari terbenam.

Si tetangga kemudian berangkat langsung di esok siangnya, dan setelah mencari-cari sampai beberapa lama, akhirnya menemukan pohon berlubang tepat seperti yang digambarkan oleh temannya. Di sinilah kemudian dia menyembunyikan diri dan menunggu datangnya sinar bintang.

Tepat seperti apa yang diceritakan padanya, gerombolan jn datang di saat-saat itu dan mengadakan pesta dengan tarian dan nyanyian. Ketika acara itu berlangsung beberapa saat lamanya, kepala gerombolan jin itu memandang berkeliling dan berkata:

"Ini saatnyapak tua itu datang ke sini seperti yang dijanjikannyapada kita. Mengapa dia belum muncul-muncul juga?"

Ketika pak tua yang kedua itu mendengar pembicaraan itu, dia lari keluar dari tempat persembunyiannyadi pohon, lalu berlutut di hadapan sang Oni, sambil berkata:

"Hamba menunggu cukup lama sampai tuanku memberi titah!"

"Oh...kau pak tua yang kemarin itu," ujar si pemimpin jin. "Terima kasih atas kedatanganmu, kau harus segera menari untuk kami."

Pak tua itu bangkit berdiri dan membuka kipasnya dan mulai menari. Tetapi dia tak pernah belajar menari, dan tak tahu apa-apa soal gerak-gerik dan posisi tubuh yang berubah-ubah dalam tarian. Dipikirnya tak ada yang bisa menyenangkan para jin ini, maka dia pun lalu melompat lompat ke kiri dan ke kanan melambai-lambaikan tangannya lalu lalu menjejakkan kakinya berulang-ulang, meniru gaya tarian sebisa mungkin dari tarian apapun yang pernah dilihatnya.

Sang Oni merasa sangat kecewa melihat peragaan itu, lalu berkata pada yang lainnya:

"Jelek sekali dia menarinya hari ini."

Kemudian kepada pak tua itu si pemimpin jin berkata

"Penampilanmu hari ini agak berbeda dengan tarianmu kemarin. Kami tak mau melihat lagi tarianmu yang seperti itu. Kami akan kembalikan jaminan yang sudah kau berikan kepada kami. Kau harus pergi sekarang juga."

setelah berkata demikian, dikeluarkan dari lipatan gaunnya benjolan yang telah diambilnya dari wajah pak tua yang menari dengan begitu indahnya di hari sebelumnya, lalu melemparkannya ke pipi kanan si pak tua itu yang berdiri di hadapannya. Benjolan itu langsung menempel erat di pipinya seolah-olah benjolan itu memang sudah tumbuh disana sebelumnya, dan semua upaya untuk melepaskannya sia-sia belaka. Pak tua yang licik itu, bukannya kehilangan enjolan di pipi kirinya seperti yang diharapkannya, menyadari dengan sedihnya kalau kini dia malah menambah satu lagi benjolan di pipi kanannya dalam upayanya menghilangkan benjolan yang sudah terlebih dulu ada.

Diletakkan tangannya satu dan satunya lagi masing-masing di wajahnya untuk memastikan kalau-kalau dia tak tengah bermimpi buruk. Tetapi tidak, bsa dirasakannya kini ada benjolan besar di sisi kanan wajahnya seperti yang ada di pipi kirinya. Para jin itu semuanya kini telah menghilang, dan tak ada lagi baginya yang bisa dilakukannya kini kecuali kembali pulang ke rumah. Dia terlihat sangat menyedihkan, karena wajahnya dengan dua benjolan, masing-masing satu di pipinya, membuatnya persis seperti labu jepang.





Diambil dari buku Dongeng Klasik Jepang yang ditulis oleh Yei Theodora Ozaki