Showing posts with label tradisi di Jepang. Show all posts
Showing posts with label tradisi di Jepang. Show all posts

Tuesday, November 7, 2017

Mikoshi: Kuil Mini yang Tak Pernah Absen di Setiap Matsuri




Hampir setiap matsuri (festival) yang digelar di seluruh penjuru Negeri Sakura selalu menghadirkan mikoshi. Kuil mini atau portable tersebut biasanya dihias indah dan digotong ramai-ramai, menjadikannya momen sangat menarik di berbagai acara yang ditandai kemeriahan massal.

Mikoshi kerap disebut juga sebagai omikoshi, ada juga yang menyebutnya shin’yo. Dalam buku NHK no Tsubo Mikoshi dijelaskan bahwa kata itu menggambarkan replica dari kuil Shinto. Ciri khasnya adalah tori (gerbang masuk yang terbuat dari kayu).

Atap mikoshi ditandai dengan ukiran burung houou, sejenis rajawali yang membuat mikoshi terihat gagah. Diperlukan keahlian khusus untuk membuat mikoshi karena sifatnya yang sarat detil dan keharusannya untuk terlihat elegan. Itu sebabnya mikoshi kerap dianggap sebagai bunga (bagian paling menawan dari setiap matsuri.

Kuil mini ini biasanya terbuat dari kayu yang dipernis hitam. Selain itu ada bilah kayu yang dipasang sejajar dan berfungsi sebagai pemikul. Ada juga bagian badan, atap dan alas yang juga menjadi semacam penyangga bagi badan. Badan sendiri biasanya berbentuk persegi, heksagonal atau oktagonal.

Berdasarkan sejarahnya, para pengikut Shinto percaya bahwa mikoshi berfungsi sebagai kendaraan untuk mengangkut para dewa di Jepang saat menuju kuil utama dan kuil lain selama festival atau saat pindah ke kuil baru. Meski tak pernah dijelaskan dari mana asal usulnya, namun pada zaman Heian (794 – sekitar 1185), mikoshi mulai dipakai di seluruh Jepang sebagai sarana transportasi untuk “mengantar” para dewa mengunjungi matsuri. Karena memanggul mikoshi dipercaya akan mendatangkan kebahagiaan, rezeki, dan kesejahteraan. Mikoshi juga merupakan hal vital dalam setiap festival di jepang, yang berarti tak boleh absen.


antusiasme warga Jepang saat memanggul mikoshi

antusiasme warga Jepang saat memanggul mikoshi

Masyarakat Jepang tentu saja tak pernah tak antusias dalam urusan panggul memangguk ini. Salah satu laman rocketnews24.com menyebut bahwa setiap prefektur mempunyai warga yang pernah menjadi pemanggul mikoshi. Bahkan ada lelaki yang mempunyai tanda kapalan di bahu saking seringnya memanggul kuil mini nan apik ini. Tak seorangpun megaku kapok dan  menyatakan akan terus siap selagi mampu untuk memanggul mikoshi lagi dan lagi. Hal ini merupakan refleksi dari dedikasi mereka pada kepercayaan Shinto dan komunitasnya, para dewa serta kuilnya.

Beragam
Dalam setiap matsuri  ada beragam ukuran mikoshi. Ada yang kecil dan ada yang besar. Yang besar bobotnya bias lebih dari satu ton sehingga perlu puluhan orang untuk memanggulnya. Belakangan ada juga yang diangkut dengan kereta dorong sehingga tak memerlukan terlalu banyak orang.
mikoshi yang diangkut kereta dorong

mikoshi yang diangkut kereta dorong


Kini pemanggul bisa lelaki, bisa pula perempuan biasa. Sebelumya, mereka –disebut katsugite – hanya para penganut kepercayaan Shinto. Saat “bertugas” mereka kerap mengenakan pakaian tradisional atau seragam unik. Untuk menyemangati biasanya para pemanggul  meneriakkan yel-yel dan irama tertentu. Ada kalanya mkoshi dengan bobot ringan juga dihadirkan dalam matsuri agar bisa diangkat anak-anak. Dengan cara ini, bahkan sejak usia dini, anak-anak akan terbiasa dengan prosesi panggul-memanggul ini.

para wanita pemanggul mikoshi mengenakan pakaian unik

para wanita pemanggul mikoshi mengenakan pakaian unik


anak-anak turut serta memanggul mikoshi

Di Jepang ada beberapa festival yang terkenal karena keindahan mikoshinya. Di aintaranya, festival Takayama di mana kuil mini ini terlihat sangat mempesona karena dibuat oleh tangan-tangan terampil di Hida. Saat malam tiba, replika kuil tersebut akan dihiasi lentera menyala yang perlahan-lahan menerangi kota. Keindahannya sungguh fantastis. Dalam kesempatan ini, semua pemanggul mengenakan kimono tradisional. Festival yang disebut-sebut sebagai tiga festival terindah di Jepang ini digelar dua kali yaitu saat musim semi dan musim gugur.
mikoshi di Festival Takayama yang indah dan megah

Mikoshi super atraktif juga ada di Festival Hana, prefektur Gifu, karena aneka hiasan sakura dari kertas washi. Biasanya, tarian Hana Mikoshi yang energik dan bertenaga juga mengiringi.

Selain itu ada Sanja Matsuri yang kerap ditunggu-tunggu karena mikoshinya yang amat berat, lebih dari satu ton dan akan mengelilingi Asakusa selama tiga hari. Setiap tahun sampai 1,5 juta orang hadir dalam keriaan ini.



Sumber:
Tabloid Halo Jepang! Edisi Oktober 2017



   

Friday, September 15, 2017

Aikido



Aikido adalah seni beladiri yang bersifat defensif (bertahan), tidak mengutamakan kekuatan otot tapi kelenturan dan kecepatan gerak. Secara harfiah, aikido berasal dari kata “Ai” artinya penyelarasan, integrasi atau harmoni. Kata “Ki” artinya pusat energi hidup atau spirit. Dan kata “Do” artinya jalan. Sehingga aikido bias diterjemahkan sebagai jalan untuk membentuk kesatuan harmoni antara fisik, rohani, dan pikiran.

Dalam aikido juga mengenal istilah naik tingkat seperti karate, judo  atau seni beladiri lainnya. Tingkat tertinggi dalam International Aikido Federation (IAF) saat ini adalah Dan 9. Namun ada beberapa ahli aikido dengan tingkatan Dan 10 karena diberikan oleh ahlinya langsung, Ueshiba Morihei, sebelum dia wafat.


Ueshiba Morihei

Tingkatan dalam aikido terdiri dari dua bagian yaitu:
1.  Kyu (mudansha I yukyusha)
Tingkat Kyu 5 sampa Kyu 4 menggunakan sabuk putih, dan Kyu 3 sampai Kyu 1 menggunakan sabuk cokelat

2. Dan (yudansha)
Dan 1 sampai Dan 10 menggunakan sabuk hitam.


Teknik-teknik aikido sebagai seni beladiri perkelahian cepat jarak pendek banyak dipengaruhi oleh teknik bantingan judo, kodokan jigoro kano, teknik kuncian jujutsu gaya sokaku takeda , teknik pedang (kenjutsu) dan teknik toya berpedang (yarijutsu). Pada umumnya, aikido tidak menggunakan tendangan kaki, namun dalam dalam hal-hal khusus teknik kaki (ashiwaza) juga diajarkan.
Seni beladiri ini memiliki empat pola dasar latihan yaitu :
·         Tachiwaza (teknik berdiri melawan berdiri)
·         Suwariwaza (teknik duduk melawan duduk)
·         Hanni handachi (teknik duduk melawan berdiri)
·         Kaeshi waza (teknik dengan membuka serangan terlebih dahulu)

Dalam aikido juga memiliki teknik naga waze (melempar atau membanting) dan teknik katame waza (kuncian)


Sejarah
Aikido pertama kali diperkenalkan secara luas oleh Ueshiba Morihei (1883-1969) yang oleh para praktisi aikido dijuluki sebagai “O sensei”. Menurut catatan laman institutaikidoindonesia.com, dia mengembangkan aikido berdasarkan seni beladiri lain yang dipelajarinya saat masih muda. Dia mempelari Kito Ryu Jujutsu, ilmu pedang Yagyu Ryu, Aioi Ryu Hozoin Ryu, jujutsu, spear fighting, judo, kendo dan seni beladiri yang menggunakan bayonet. Menguasai banyak seni beladiri membuatnya disegani di Jepang.

Akhirnya Ueshiba Morihei paham bahwa seni beladiri bukan untuk mengalahkan lawan dan merusak, namun harus selaras dengan ‘Ki’ energi  dan alam semesta. Dia pun menyimpulkan bahwa aikido bukanlah teknik untuk berkelahi atau mengalahkan lawan, melainkan untuk membuat dunia ini damai dan seluruh manusia di bumi menjadi satu keluarga.

Dengan bakat yang begitu besar, Ueshiba berhasil  menyebarkan muridnya ke seluruh dunia untuk memperkenalkan keindahan ilmu aikido. Saat ini seni beladiri tradisional ini telah berkembang sekurang-kurangnya ke 93 negara di Asia, Eropa, Amerika, Australia, dan sebagian Afrika.

Sementara di Indonesia, aikido mulai dikenal pada tahun 1960-an yang konon dibawa oleh para pelajar Indonesia yang menuntut ilmu di Jepang. Perkembangan aikido dan seni beladiri impor lainnya dari Jepang di sini sebetulnya kurang lebih sama. Namun kempo, karate, jujutsu dan judo lebih dulu popular disbanding aikido. Faktanya, aikido mulai berkembang di tanah air sejak tahun 1990-an.

Secara istilah ‘Aikido Indonesia’ pertama kali digunakan oleh Perguruan Aikido Indonesia di bawah naungan Yayasan Keluarga Beladiri Indonesia (KBAI). Yayasan ini terbentuk pada 1994. Seiring berjalannya aikido di Tanah Air, maka terbentuklah Institut Aikido Indonesia (IAI) pada 2004 untuk turut mengembangkan aikido di negeri ini.




Sumber:

Halo Japan! Edisi Mei 2017

Friday, March 3, 2017

Setsubun







Upacara Setsubun merupakan kegiatan melempar kacang yang dilakukan saat mengawali pergantian musim dingin ke musim semi. Setsubun biasanya jatuh pada tanggal 3 Februari. Upacara setsubun dilakukan dengan melempar segenggam kacang kedelai sangrai sambil mengucapkan "Oni wa soto, fuku wa uchi" yang berarti "pergilah iblis, masuklah keberuntungan". Ibarat mantera, kalimat tersebut seolah memberi kekuatan pada kacang untuk menghalau setan di tahun yang baru saja berganti.

Dalam laporan NHK disebutkan, pada hari itu seluruh masyarakat di seluruh Prefektur Jepang menyebar kacang kedelai yang sudah disangrai matang untuk memperoleh keberntungan sepanjang tahun, dan mengusir setan-setan yang mewakili kemalangan. Sebagian orang melempar kacang tersebut di halaman rumah, sebagian lagi melalukannya di kuil. Kegiatan ini disebut mame-maki.

dukun di kuil memakai topeng seperti setan
Ritual setsubun di kuil menampilkan para dukun yang mengenakan topeng menyeramkan layaknya oni atau setan. Kemudian, masyarakat yang datang melemparinya dengan kacang kedelai sambil mengucap "mantera" seperti yang dimaksud.


Sejarah Setsubun
Berdasrkan sejarahnya, pada zaman kuno, setsubun adalah perayaan tahunan di istana kaisar. Menurut Engishiki (kumpulan undang-undang dan aturan di masa lalu), saat itu menjadi tradisi untuk memajang beragam boneka dari tanah liat berbentuk anak dan sapi di pintu gerbang dalam lingkungan istana.

kacang kedelai dan topeng oni, dua benda khas setsubun
Memasuki zaman modern, kebiasaan setsubun di zaman kuno lenyap dan digantikan tradisi melempar kacang dan menggantung kepala ikan sardin yang ditusuk ranting pohon hiragi di pintu masuk rumah. zdi beberapa prefektur Jepang, masyarakat percaya kepala sardin dapat mengusir oni yang lahir pada hari setsubun.

Namun yang umum dilakukan adalah menyebar kacang kedelai panggang di depan pintu rumh. Biasanya sang ayah berperan sebagai oni dengan memakai topeng seram, berdiri di depan pintu rumah. Sementara ibu dan anak-anak melemparinya dengan kacang itu.

Warisan budaya ini terus terjaga turun temurun, meski tak semua orang melakukannya karena alasan tertentu, misalnya sudah ringgal lama di luar negara Jepang.



Ehoumaki
selain mengusir setan dengan melempar kacang, salah satu adat setsubun yang masih kerap dilakukan adalah memakan ehoumaki (yang artinya gulungan keberuntungan), yaitu sushi dalam bentuk gulungan panjang yang dibalut rumput laut. Saat memakan ehoumaki harus menghadap ke arah mata angin yang sudah ditentukan dan selalu berbeda tiap tahunnya. Sebelum satu gulung ehoumaki habis dimakan, orang yang memakannya tidak boleh berbicara. Dengan memakan ehoumaki diharapkan nasib baik akan datang. Tradisi ini berasal dari Osaka yang bermula di zaman Edo yang hingga kini tetap terjaga bahkan meluas ke seluruh Negeri Matahari Terbit.

ehoumaki
Biasanya, sebulan sebelum setsubun, supermarket sudah menyediakan ehoumaki karena pesanan dipastikan meningkat pesat mengingat memakan ehoumaki lebih mudah dibanding melempar kacang yang membutuhkan peran oni. meski demikian, tak berarti kacang kedelai keberuntungan atau fukumame tidak banyak tersedia. Bahkan ada yang memberikan bonus topeng oni saat membeli fukumame.

Setsubun juga menjadi ajang kegembiraan bagi masyarakat karena para artis dan aktor papan atas, tokoh terkemuka, atlet berprestasi kerap diundang ke beberapa kuil besar, sepertidi kuil Kushida , Fukuoka untuk melakukan mame-maki bersama masyarakat. Berbaur dengan bintang idola tentunya menyenagkan bagi masyarakat. Sementara itu, beberapa kuil Buddha dan Shinto bekerja sama dengan taman kanak-kanak dan tempat penitipan anak mengadakan upacara melempar kacang oleh chigo (anak-anak kecil yang dirias) dan miko (pelayan wanita).

perayaan setsubun di kuil
 Meski setsubun bukan hari libur nasional, namun masyarakat Jepang dengan suka cita selalu melakukan ritual-ritual tersebut di sela-sela aktivias sehari-hari. Bahkan pada hari itu, beberapa hotel dan restoran juga memiliki agenda khusus mengajak masyarakat merayakan tradisi unik itu bersama-sama. Keceriaan dalam acara itu menjadikan semnagat baru bagi mereka, khususnya dalam menjalani pergantian musim.








Sumbe:
Tabloid Halo Jepang! edisi Februari 2017




Tuesday, November 15, 2016

TANABATA




tanabata


Tanabata (七夕) atau festival bintang adalah salah satu acara tahunan di Jepang yang jatuh pada setiap tanggal 7 Juli. Tanabata adalah salah satu perayaan yang berkaitan dengan musim panas. Tanabata dirayakan untuk memperingati kisah cinta dua orang yang mewakili bintang Vega dan Altair yang hanya bisa bertemu satu tahun sekali pada tanggal ke 7 bulan ke 7.  Perayaan besar-besaran dilakukan di kota-kota Jepang untuk menyambut tanabata di antaranya kota Sendai dengan festival Sendai Tanabata. 

tanabata di Sendai

Festival tanabata sering dirayakan dengan menulis harapan pada selembar kertas kecil berwarna yang disebut  tanzaku kemudian digantung pada batang bambu. Pada saat perayaan tanabata banyak pohon yang didekorasi dan dihanyutkan di atas sungai atau leut kemudian dibakar sebagai persembahan. Sebenarnya ada banyak cara untuk merayakan tanabata di Jepang seperti mengadakan parade, membuka stand makanan, memasang berbagai macam dekorasi warna-warni, dan juga menyalakan kembang api. 


tanzaku yang digantung

kembang api



dekorasi warna-warni tanabata



SEJARAH TANABATA

Tanabata yang memiliki arti malam ketujuh bulan ketujuh dan disebut sebagai festival bintang ini pada awalnya berasa dari festival Qixi dari Cina. Tujuan utama dari festival ini adalah untuk merayakan pertemuan Orihime dan Hikoboshi yang dipisahkan oleh galaxi Bima Sakti dan hanya diperbolehkan untuk bertemu setahun sekali, yaitu pada hari ketujuh di bulan ketujuh kalender lunisolar. Karena orang Jepang telah menggunakan kalender gregorian, maka perayaan tanabata diubah menjadi tanggal 7 bulan Juli. Meski begitu, ada beberapa tempat di Jepang yang merayakan festival ini sebulan kemudian untuk menyamakan dengan tanggal 7 bulan 7 pada kalender lunisolar (sekitar bulan Agustus pada kalender gregorian). 

Festival tanabata terinspirasi dari legenda "Gadis Penenun dan Sang Penggembala sapi". Legenda tersebut mengisahkan bintang Vega yang merupakan bintang tercerah dari rasi bintang Lyra sebagai Orihime (shokujo) putri raja langit yang pandai menenun (di pinggir sungai Amanogawa) dan bintang Altair yang berada pada rasi bintang Aquila yang dikisahkan sebagai penggembala sapi yang bernama Hikoboshi (kengyuu). Raja langit menyukai pakaian yang ditenun oleh Orihime sehingga ia bekerja keras setiap hari untuk menenunnya. Namun Orihime sedih karena dengan terus bekerja ia tidak dapat bertemu dan jatuh cinta kepada siapapun. Khawatir dengan puterinya, Raja Langit mempertemukan Orihime dengan Hikoboshi yang bekerja dan tinggal di sisi lain sungai Amanogawa. Saat bertemu, keduanya langsung jatuh cinta satu sama lain. Hikoboshi adalah orang yang rajin bekerja sehingga Raja Langit mengizinkannya menikah dengan Orihime. Namun setelah menikah Orihime tidak lagi menenun pakaian untuk Raja Langit dan Hikoboshi membiarkan sapi-sapinya berkeliaran. Raja Langit yang sangat marah kemudian
memisahkan mereka sepanjang sungai Amanogawa (galaksi Bima Sakti). Orihime sangat sedih karena berpisah dengan Hikoboshi dan meminta ayahnya untuk mengizinkannya bertemu dengan Hikoboshi. Raja Langit tergerak hantinya dan akhirnya diizinkan bertemu pada malam hari ke 7 bulan ke 7 jikan Orihime bekerja keras dan menyelesaikan tenunannya. Saat pertama kali mereka memcoba bertemu, mereka tidak bisa menyeberangi sungai Amanogawa karena tidak ada jembatan. Orihime menangis tersedu-sedu sampai kawanan burung  kasasagi terbang menghampiri Hikoboshi dan Orihime yang bersedih dan berbaris membentuk jembatan yang melintasi sungai Amanogawa agar Orihime dan Hikoboshi bisa menyeberang sungai dan bertemu. Dikatakan apabila turun hujan saat tanabata , maka burung kasasagi tidak bisa datang dan pasangan tersebut harus menunggu satu tahun lagi untuk bisa bertemu, sehinggan orang Jepang berharap langit cerah saat malam tanabata agar Orihime dan Hikoboshi bisa bertemu.


legenda Oikuhime dan Hikoboshi





sumber :

https://id.wikipedia.org
http://nipponclub.net
http://www.japan-suite.com


Friday, November 4, 2016

KOINOBORI

koinobori


Koinobori merupakan salah satu budaya di Jepang. Koinobori adalah bendera berbentuk ikan koi yang dipasang pada salah satu acara tahunan di Jepang, yaitu Hari anak-anak (kodomo no hi) pada tanggal 5 Mei oleh keluarga yang memiliki anak laki-laki.

Festival koinobori biasanya diadakan dari awal April hingga akhir minggu pertama bulan Mei. Koinobori digunakan sebagai simbol dalam perayaan hari anak dan mempunyai makna pengharapan agar anak laki dapat tumbuh sehat, kuat dan menjadi orang yang sukses dalam kehidupannya kelak.
Koinobori dipasang di tiang panjang atau digantung pada seutas tali. Untuk yang tinggal di daerah pedesaan yang rumahnya memiliki halaman luas, biasanya memasang tiang yang mengibarkan koinobori berukuran sangat besar. Bila tertiup nagin koinobori akan berkibar. Ada yang mempercayai bila semakin besar benderanya maka akan semakin terlihat megah dan bagus kibaran ikan koi nya.





SEJARAH KOINOBORI 

Dalam Buku Han Akhir (Hou Han Shu) yang merupakan salah satu dari buku sejarah resmi Cina (Sejarah Dua Puluh Empat DInasti) dikisahkan tentang sebuah air terjun di sungai Kuning yang alirannya deras. Ikan-ikan disana berusaha keras memanjat air terjun namun hanya koi yang berhasil memanjat air terjun dan berubah menjadi naga. Oleh karena itu koi yang berhasil menaiki air terjun dijadikan simbol kesuksesan dalam hidup.

Tradisi ini dilakukan sejak zaman Edo oleh kalangan para samurai. Mereka memiliki tradisi merayakan kodomo no hi , dimana mereka membuat koinobori dari kertas, kain atau kain bekas yang dijahit dan digambari ikan koi. Koinobori dibuat agar bisa berkibar dan menggelembung jika tertiup angin.
Pada walnya, orang Jepang hanya mengibarkan koinobori berwarna hitam yang disebut magoi (真鯉). Koi yang dikibarkan paling atas melambangkan putera sulung dalam keluarga. Sebagai hiasan yang dibuat untuk meramaikan perayaan, koinobori warna lain juga berangsur-angsur mulai dibuat dan semuanya melambangkan anak laki-laki dalam keluarga. Sejak zaman Meiji, koinobori berwarna merah yang disebut higoi (緋鯉) mulai dikibarkan untuk menemani koinobori berwarna hitam. Tradisi pengibaran koinobori biru (kogoi 子鯉) dimulai sejak zaman showa dan ukurannya lebih kecil dari koinobori merah tau hitam. koinobori biru melambangkan anak koi.
Sekarang ini sering dijumpai koinobori warna hijau dan oranye yang melambangkan anak-anak koi. Di beberapa tempat di Jepang, koinobori bukan saja milik anak laki-laki. Koinobori yang melambangkan adanya anak perempuan juga ikut dikibarkan. Adanya koinobori warna cerah seperti oranye kemungkinan ditujukan untuk keluarga yang mempunyai anak perempuan.
Setelah Perang Dunia ke II, peran wanita menjadi semakin penting dan koinobori merah melambangkan ibu koi. Satu set koibori akhirnya secara lengkap melambangkan keluarga yang utuh, yaitu bapak, ibu dan putra-putrinya.





BAGIAN-BAGIAN KOINOBORI

Satu set koinobori  terdiri dari ryuudama, fukinagashi, dan bendera-bendera ikan koi

* Ryuudama (bola naga) 
bola yang berputar yang dipasang di ujung paling atas tiang tempat mengibarkan koinobori.

* Yaguruma
 Roda berjari-jari anak panah yang diapasang di bawah ryuudama. Ryuudama dan  yaguruma dipercayasebagai pengusir arwah jahat.

* Fukiganashi
 Sarung angin berhiaskan panji-panji lima warna (biru, kuning, merah, putih, dan hitam) atau gambar ikan koi. Fukiganashi melambangkan 5 unsur (kayu, api, air, tanah, dan logam) dan dipercaya sebagai penangkal segala penyakit.

* Koinobori hitam (mago)
Koinobori berwarna hitam yang melambangkan ayah, dikibarkan di bawah fukiganashi.

* Koinobori merah (higoi) dan koinobori warna lainnya
Koinobori lain yang berukuran lebih kecil dikibarkan di bawah koinobori merah. Pada zaman sekarang, koinobori merah melambangkan ibu, koinobori biru melambangkan putra sulung, dan koinobori melambangkan putra kedua.









referensi:
https://id.wikipedia.org/wiki/Koinobori
http://www.infojepang.net/event/festival-koinobori/

Wednesday, October 26, 2016

Budaya Memberikan dan Tukar Menukar Hadiah Dalam Masyarakat Jepang

Di Jepang,  memberikan hadiah adalah suatu budaya yang sudah lama dilakukan. Dalam memberikan hadihpun tidak boleh asal-asalan, ada aturan-aturan yang harus dipatuhi. Bahkan orang Jepang juga menganggap pembungkus hadiah sama pentingnya dengan hadiah yang akan diberikan dan harus dibungkus dengan rapi.


berikut ini macam-macam kebiasaan memberikan hadiah dalam masyarakat Jepang:
1. お年玉 otoshidama : Hadiah berupa uang yang diberikan orang tua dan keluarga kepada anak-anak pada saat tahun baru di Jepang.
otoshidama

otoshidama

otoshidama




2. 入学祝い nyuugakuiwai : Hadiah yang diberikan kepada orang yang masuk sekolah, misalnya buku, alat tulis, uang, dll.

nyuugakuiwai

nyuugakuiwai

nyuugakuiwai



3. 卒業祝い sotsugyouiwai: Hadiah yang diberikan kepada orang yang lulus sekolah




4. 結婚祝い kekkon-iwai: Hadiah yang diberikan kepada orang yang melangsungkan pernikahan.
kekkon-iwai berupa uang



5. 出産祝い shussan-iwai: Hadiah yang diberikan kepada orang yang baru melahirkan, misalnya pakaian bayi, mainan bayi, dll

baju bayi

stroller



6. お中元  ochuugen (Juli atau Agustus) , お歳暮  oseibo (Desember) : Hadiah yang diberikan kepada orang-orang yang memberi bantuan, misalnya makanan, minuman, dll. Budaya saling tukar biasanya dilakukan oleh rekan kerja, teman, atau kerabat dan dilakukan dua kali dalam setahu pada bulan Juli/ Agustus dan Desember (setelah menerima bonus tahunan. Nilai hadiah yang diberikan sekitar 5000 yen.

7. お香典 okouden : Uang diberikan kepada keluarga yang ditinggal mati atau berduka
okouden


8. お見舞い omimai: Hadiah yang diberikan kepada orang yang sakit, misalnya bunga dan buah-buahan


9. お土産 omiyage: Hadiah atau oleh-oleh yang dibawa pulang dari suatu perjalanan. Orang Jepang suka sekali membeli hadiah untuk teman, kerabat dan rekan kerja. Oleh karena itu di tempat-tempat wisata, bandara atau dekat stasiun biasanya banyak kios penjual lokal berupa barang kerajinan, hiasan, dan makanan.

10. 手土産げ temiyage: Hadiah yang dibawa saat mengunjungi seseorang, istilahnya mengucapkan terima kasih karena sudah mau menerima kedatangannya.




Saat memberikan hadiah uang, ada amplop khusus yang digunakan sesuai dengan keadaan ketika memberikan uang. Jadi tidak bisa sembarangan apalagi salah memberikan amplop.
Amplop khusus ketika menghadiahkan uang disebut (熨斗袋 noshibukuro). Macam-macam noshibukuro :

1.Digunakan pada saat acara perkawinan. Amplop diikat dengan pita berwarna merah putih atau emas perak dengan bentuk ikatan sesuai gambar
pita merah putih

pita emas perah

2. Digunakan saat perayaan. Amplop diikat dengan pita merah putih atau emas perak bentuk ikatan seperti gambar
pita merah putih
otoshidama dengan pita emas perak



3. Digunakan saat penguburan. Amplop diikat dengan pita hitam putih dengan bentuk ikatan seperti gambar







Sumber:
Minna no Nihongo, terjemahan dan keterangan tata bahasa hal153
http://www.infojepang.net/memberi-hadiah/

Wednesday, October 12, 2016

MACAM-MACAM TEH DI JEPANG

Jepang termasuk salah satu negara yang identik dan terkenal dengan tehnya, salah satunya adalah  Jepang memiliki banyak jenis den kualitas teh yang dibedakan berdasarkan beberapa faktor misalnya cara pengolahan, atau teh yang dipetik hanya pada saat tertentu saja.

Bukan hanya tehnya yang unik, budaya minum teh di Jepang (chanoyu) juga memiliki keunikan tersendiri. Dari persiapan, penyajian hingga cara menikmatinya mengandung banyak filosofi.


Ryokucha
Teh hijau (ryokucha) adalah istilah umum untuk menyebut teh hijau, yang sudah menjadi ciri khas negara jepang. Banyak tek Jepang yang merupakan variasi dari ryokucha. Biasanya teh hijau disebut dengan sebutan ocha (teh) atau nihoncha (teh Jepang) saja. Berikut ini beberapa jenis dari ryokucha , kelompok terbesar dalam teh Jepang ,yang bisa kita ketahui:

1. Matcha
Matcha bisa jadi jenis teh hijau yang paling banyak dikenal orang. Matcha merupakan teh hijau yang paling sering digunakan saat upacara minum teh (chanoyu) karena memiliki aroma segar daun teh.  Dalam pembuatan matcha, daun teh yang baru dipetik dikeringkan begitu saja kemudian digiling dengan menggunakan gerinda hingga menjadi bubuk halus.
matcha



matcha yang disajikan saat chanoyu




2. Sencha
Di antara teh jenis teh yang lain, sencha adalah teh yang paling umum di Jepang. Sencha juga sering digunakan saat chanoyu. Sencha dibuat dari daun teh segar yang baru dipetik (petikan pertama dan kedua) kemudian dipanaskan dengan cara dikukus atau direbus untuk menghentikan fermentasi dan menghasilkan rasa pahit yang samar.


sencha



3. Hojicha
Teh ini seperti sencha namun dipanaskan dengan suhu tinggi atau dipanggang hingga meninggalkan aroma. Dengan dipanggang kafein di dalamnya menguap sehingga rasa pahit dan asamnya hampir tidak terasa. Dengan begitu teh ini dapat menghasilkan rasa yang jernih.

hojicha

4. Genmaicha
Genmaicha dibuat dengan memadukan sencha dan beras merah panggang yang direndam air dengan perbandingan yang sama banyak.Oleh karena itu tercium aroma khas beras merah dari teh ini. Tujuan dicampur dengan beras untuk mengurangi aroma teh, khusus bagi mereka yang tidak dapat menerima rasa teh yang murni.Karena kandungan daun tehnya yang sedikit, kandungan kafeinnya juga menjadi sedikit. Awalnya teh jenis ini termasuk jenis yang paling murah. Namun sekarang genmaicha dianggap memiliki rasa grassy yang unik dan aroma panggang yang khas. 
genmaicha






referensi: