Showing posts with label kehidupan di jepang. Show all posts
Showing posts with label kehidupan di jepang. Show all posts

Tuesday, November 7, 2017

Mikoshi: Kuil Mini yang Tak Pernah Absen di Setiap Matsuri




Hampir setiap matsuri (festival) yang digelar di seluruh penjuru Negeri Sakura selalu menghadirkan mikoshi. Kuil mini atau portable tersebut biasanya dihias indah dan digotong ramai-ramai, menjadikannya momen sangat menarik di berbagai acara yang ditandai kemeriahan massal.

Mikoshi kerap disebut juga sebagai omikoshi, ada juga yang menyebutnya shin’yo. Dalam buku NHK no Tsubo Mikoshi dijelaskan bahwa kata itu menggambarkan replica dari kuil Shinto. Ciri khasnya adalah tori (gerbang masuk yang terbuat dari kayu).

Atap mikoshi ditandai dengan ukiran burung houou, sejenis rajawali yang membuat mikoshi terihat gagah. Diperlukan keahlian khusus untuk membuat mikoshi karena sifatnya yang sarat detil dan keharusannya untuk terlihat elegan. Itu sebabnya mikoshi kerap dianggap sebagai bunga (bagian paling menawan dari setiap matsuri.

Kuil mini ini biasanya terbuat dari kayu yang dipernis hitam. Selain itu ada bilah kayu yang dipasang sejajar dan berfungsi sebagai pemikul. Ada juga bagian badan, atap dan alas yang juga menjadi semacam penyangga bagi badan. Badan sendiri biasanya berbentuk persegi, heksagonal atau oktagonal.

Berdasarkan sejarahnya, para pengikut Shinto percaya bahwa mikoshi berfungsi sebagai kendaraan untuk mengangkut para dewa di Jepang saat menuju kuil utama dan kuil lain selama festival atau saat pindah ke kuil baru. Meski tak pernah dijelaskan dari mana asal usulnya, namun pada zaman Heian (794 – sekitar 1185), mikoshi mulai dipakai di seluruh Jepang sebagai sarana transportasi untuk “mengantar” para dewa mengunjungi matsuri. Karena memanggul mikoshi dipercaya akan mendatangkan kebahagiaan, rezeki, dan kesejahteraan. Mikoshi juga merupakan hal vital dalam setiap festival di jepang, yang berarti tak boleh absen.


antusiasme warga Jepang saat memanggul mikoshi

antusiasme warga Jepang saat memanggul mikoshi

Masyarakat Jepang tentu saja tak pernah tak antusias dalam urusan panggul memangguk ini. Salah satu laman rocketnews24.com menyebut bahwa setiap prefektur mempunyai warga yang pernah menjadi pemanggul mikoshi. Bahkan ada lelaki yang mempunyai tanda kapalan di bahu saking seringnya memanggul kuil mini nan apik ini. Tak seorangpun megaku kapok dan  menyatakan akan terus siap selagi mampu untuk memanggul mikoshi lagi dan lagi. Hal ini merupakan refleksi dari dedikasi mereka pada kepercayaan Shinto dan komunitasnya, para dewa serta kuilnya.

Beragam
Dalam setiap matsuri  ada beragam ukuran mikoshi. Ada yang kecil dan ada yang besar. Yang besar bobotnya bias lebih dari satu ton sehingga perlu puluhan orang untuk memanggulnya. Belakangan ada juga yang diangkut dengan kereta dorong sehingga tak memerlukan terlalu banyak orang.
mikoshi yang diangkut kereta dorong

mikoshi yang diangkut kereta dorong


Kini pemanggul bisa lelaki, bisa pula perempuan biasa. Sebelumya, mereka –disebut katsugite – hanya para penganut kepercayaan Shinto. Saat “bertugas” mereka kerap mengenakan pakaian tradisional atau seragam unik. Untuk menyemangati biasanya para pemanggul  meneriakkan yel-yel dan irama tertentu. Ada kalanya mkoshi dengan bobot ringan juga dihadirkan dalam matsuri agar bisa diangkat anak-anak. Dengan cara ini, bahkan sejak usia dini, anak-anak akan terbiasa dengan prosesi panggul-memanggul ini.

para wanita pemanggul mikoshi mengenakan pakaian unik

para wanita pemanggul mikoshi mengenakan pakaian unik


anak-anak turut serta memanggul mikoshi

Di Jepang ada beberapa festival yang terkenal karena keindahan mikoshinya. Di aintaranya, festival Takayama di mana kuil mini ini terlihat sangat mempesona karena dibuat oleh tangan-tangan terampil di Hida. Saat malam tiba, replika kuil tersebut akan dihiasi lentera menyala yang perlahan-lahan menerangi kota. Keindahannya sungguh fantastis. Dalam kesempatan ini, semua pemanggul mengenakan kimono tradisional. Festival yang disebut-sebut sebagai tiga festival terindah di Jepang ini digelar dua kali yaitu saat musim semi dan musim gugur.
mikoshi di Festival Takayama yang indah dan megah

Mikoshi super atraktif juga ada di Festival Hana, prefektur Gifu, karena aneka hiasan sakura dari kertas washi. Biasanya, tarian Hana Mikoshi yang energik dan bertenaga juga mengiringi.

Selain itu ada Sanja Matsuri yang kerap ditunggu-tunggu karena mikoshinya yang amat berat, lebih dari satu ton dan akan mengelilingi Asakusa selama tiga hari. Setiap tahun sampai 1,5 juta orang hadir dalam keriaan ini.



Sumber:
Tabloid Halo Jepang! Edisi Oktober 2017



   

Friday, October 27, 2017

Shimane University, Pelopor Fakultas Intrdisiplin di Jepang



Shimane University terletak di prefektur Shimane, di bagian barat Jepang. Dibanding ke Tokyo, jaraknya lebih dekat ke Busan, Korea Selatan. Tetapi soal inovasi tak kalah dibanding universitas ternama lainnya, bahkan Shimane University berani menjadi pelopor.

Pada Oktober 1995 mereka mendirikan Interdisiplinary Faculty of Science and Engineering. Fakultas baru ini merupakan reorganisasi dari Faculty of Science dan Faculty of Agriculture yang memiliki lima jurusan, yakni Material Science, Geoscience, Mathematics and Computer Science, Mechanical, Electrical and Electronic Engineering, serta Architecture and Production Design Engineering.

Fakultas interdisiplin ini mengintegrasikan natural science berdasarkan pendidikan dan penelitian fundamental untuk mengembangkan teknologi mutakhir guna mencari solusi bagi masyarakat setempat. Majalah Shukan Asahi, pada 2012, menempatkan Interdisiplinary Faculty of Science Engineering, Shimane University sebagai fakultas terbaik di Jepang.
 
Fakultas interdisipliner universitas Shimane

Dua Kota
Universitas nasional yang berdiri  pada 1949 ini sejatinya sudah beraktivitas sejak 1876 sebagai sekolah pelatihan guru. Kampus ini terus berkembang dan kini memiliki enam fakultas yang berada di dua kampus, Matsue dan Izumo. Di kampus Matsue terdapat Fakultas Hukum dan Sastra, Fakultas Pendidikan, Fakultas Interdisiplin Sains dan Teknik (Science Engineering), Fakultas Ilmu Hayati dan Lingkungan (Life and Environmental Science) dan Fukultas Human Science (didirikan 1 April 2017). Sementara itu, di kampus Izumo hanya ada Fakultas Kedokteran yang berdiri sejak 1979 dan Sekolah Keperawatan (Nursing School).

Kampus Matsuo dan Izumo dipisahkan oleh danau Shinji. Walaupun terletak di dua kota, setiap kampus dilengkapi dengan fasilitas laboratorium yang terorganisir dengan baik dan fasilitas yang dapat digunakan basic research maupun advance research. Di Fakultas Kedokteran dilakukan berbagai proyek penelitian dasar dan klinis, serta dikembangkan perangkat  medis baru dan teknik untuk pelayanan kesehatan unggul. Salah satu teknologi medis yang berhasil dikembangkan di universitas ini adalah penyembuhan fraktur menggunakan tulang autologues bone screw. Sementara itu, perpustakaan ada di setiap departemen dan juga terdapat perpustakaan umum dengan koleksi buku, jurnal, majalah, dan situs yang mudah diakses. Terdapat kurang lebih 880.000 buku, dan diperkaya digital library yang disa diakses 24 jam.

Kampus pun menyediakan layanan kesehatan berupa klinik dan health center, Shimane University Hospital. Medical Check Up untuk mahasiswa  rutin dilaksanakan setiap enam bulan. Untuk beribadah juga mudah. Di kampus Matsue terdapat masjid yang dikelola mahasiswa dan komunitas muslim. Di kampus Izumo mahasiswa menggunakan ruang serba guna untuk sholat Jumat. Disediakan juga ruangan khusus untuk sholat lima waktu berjamaah.
Shimane University Hospital



Hemat
Baik Matsue maupun Izumo adalah kota yang bersih, tenang, dan aman sehingga kondusif untuk menimba ilmu. Penduduknya ramah, bersahabat dan suka menolong. Sebagai tambahan, Izumo adalah kota ramah anak sehingga bagi mahasiswa yang memilki anak mudah mengakses daycare. Fasilitas public seperti rumah sakit, perpustakaan, taman bermain atau science center mudah dijangkau dengan transportasi umum maupun pribadi.


Sumber:

Tabloid Halo Jepang! Edisi Oktober 2017

Monday, October 2, 2017

YUGIOH, “Duel Monster” Guna Mencerdaskan Otak


kartu yugioh berbahasa Inggris

Di antara beberapa permainan kartu dari Negeri Sakura, yugioh merupakan yang paling fenomenal karena pernah tercatat dalam Guiness World of Records pada 2009. Kartu yang dipublikasikan Konami-industri perangkat lunak dan game- di Jepang ini dihadirkan berdasarkan permainan  ‘duel monster’ karya mangaka Takahashi Kazuki. Pertama diluncurkan pada 1999, kartu ini menjadi top seling trading card game di dunia dengan terjualnya 25 miliar kartu sehingga tercatat dalam Guiness World of Records pada 7 Juli 1999.

kartu yugioh berbahasa Jepang
Yugioh kerap disebut sebagai kartu duel monster karena permainan ini ditentukan oleh peran kartu jenis monster. Permainan ini terus berkembang ke seluruh dunia, meski kebanyakan masih dimainkan di Jepang, disusul di Amerika Utara, Eropa dan Australia.

Sebagai permainan asah otak, yugioh hanya bias melibatkan orang yang mempunyai kecerdasan tinggi. Karena permianan ini tergolong rumit dan mempunyai banyak efek sehingga perlu strategi tersendiri  untuk menjadi pemenang. Permainan ini juga memungkinkan orang untuk mempelajari budaya dan bahasa Jepang. Meski demikian, kini banyak juga kartu tersedia dalam bahasa Inggris bahakan belakangan juga dalam bahasa Indonesia.


Aturan Main
Yugioh dimainkan dua orang yang masing-masing diberi Life Point (LP) 2.000 hingga 16.000, atau jumlah yang disepakati. LP ibarat nyawa saat bermain. Dalam setiap permainan, digunakan deck (tempat menampung kartu), minimal berisi 40 kartu dan maksimal 60 kartu. Jika kuramg dari 40 atau lebih dari 60 maka pemain terkena diskualifikasi. Selain itu hanya boleh ada maksimal tiga kartu yang bernama sama persis dalam satu deck.

Sama seperti permainan kartu lain, pemain harus mengocok deck lawan dan mengembalikan pada pemiliknya. Pertandingan dimulai dengan undian menggunakan koin atau cara lain untuk menentukan pemain awal. Pemain yang beraksi lebih dulu dialrang menyerang kecuali ada suatu hal yang menyebabkan dia berhak melakukannya.

Setiap pemula harus mempelajari aturan, istilah dan fungsi-fungsi semua kartu. Permainan yugioh ditentukan tiga jenis kartu yaitu: monster, magic, dan trap. Ketiganya memiliki fungsi berbeda yang harus dipelajari dengan seksama sebelumnya.
kartu trap (trap card)

kartu monster (monster card)

kartu magic (magic card)

Kartu monster merupakan kartu yang berperan sangat vital dalam permainan karena memiliki fungsi  untuk melakukan serangan dan mengambil poin lawan. Kartu magic berfungsi sebagai penambah kekuatan monster dan kartu trap berguna untuk membuat jebakan pada lawan.

Sementara istilah yang wajib diketahui adalah:
Draw phase (mengambil kartu dari deck)
Standby phase (posisi diam, berjaga)
Main phase1 (pemain dapat memanggil monster atau menaruh kartu magic dan trap)
Main phase 2 (pemain tidak boleh memanggil  monster lagi jika sudah memanggil di main phase 1)
End phase (menyatakan pergantian giliran untuk memainkan kartu)

Pemenang ditentukan oleh jumlah Life Point (LP). Jumlah LP pemain akan berkurang tergantung serangan monster lawan, dan efek dari kartu lawan. Pemain dinyatakan kalah jika nilai LPnya nol atau saat tidak bisa lagi mengambil kartu di deck. Dua kondisi ini menjadi indicator kemenangan dalam permainan yugioh.





Sumber:

Tabloid Halo Jepang! Juni 2017

Wednesday, August 30, 2017

Nagoya Institute of Technology (NiTech)





Sebagai kampus teknik pertama di Jepang Tengah, Nagoya Institute of Technology atau NiTech terus mengembangkan ilmu dan teknologi tanpa melupakan tradisi. Kesungguhan dalam memadukan kemajuan teknologi dan tradisi ini menjadi salah satu daya tarik kampus tersebut.
Nama resmi kampus ini sejak 1 April 2014 adalah Nagoya University Corporation Nagoya Institute of Technology. Sejarah berdirinya NiTech dimulai pada 1905 saat berdiri Nagoya Higher Technical School. Pada 1944, sekolah tersebut ditingkatkan statusnya menjadi Nagoya College of Technology. Lima tahun kemudian, di bawah sistem pendidikan baru, kampus ini bergabung dengan Aichi Prefectural College of Technology menjadi Nagoya Institute of Technology. Inilah kampus teknik pertama di Jepang Tengah.

Pendirian kampus teknik di Nagoya dimaksudkan untuk mengembangkan industry di kawasan tersebut. Nagoya adalah daerah terbesar ketiga di Jepang di mana industrinya berkembang pesat. Industri otomotif yang yang berbasis di Nagoya adalha Toyota, Denso, kantor pusat Mitsubishi, pabrik busi NGK dan Nippon Sharyo. Bahkan, pabrik kereta api cepat Shinkansen juga berada di sini. Selain industry otomotif, berkembang pula industry penerbangan, keramik, robot, ritel sampai kerajinan tangan.

Menghadapi pesatnya kemajuan sains dan teknologi di wilayah ini, presiden NiTech Ukai Hiroyuki melalui situs resmi kampus menegaskan, NiTech akan memulai peran baru di tingkat global yang tetap berlandaskan tradisi. Setidaknya, ada tiga langkah. Pertama, pendidikan harus mampu melahirkan ahli teknik yang mumpuni tetapi tetap mengerti sejarah, budaya, dan tradisi. Mereka harus bisa melahirkan masyarakat baru dengan perspektif global. Untuk menciptakan hal itu, pada April 2016, NiTech membuat departemen baru yakni Creative Engineering Program.

Kedua, menjadikan NiTech sebagai pusat penelitian rekayasa teknologi  yang berkontribusi terhadap kedamaian dan kesejahteraan. Untuk mencapai tujuan itu, NiTech membangun pusat penelitian baru, Frontier Research Institute for Materials Science dan Frontier Research Institute for Information Science yang diharapkan bias menjadi pusat penelitian internasional.

Langkah ketiga adalah menciptakan kampus di mana orang-orang dari latar belakang budaya berbeda bekerja dalam sebuah harmoni. Untuk itu, NiTech senantiasa menghadirkan mahasiswa dan staf pengajar asing melalui berbagai program seperti pertukaran mahasiswa dan penelitian bersama.


Bahasa
Ambisi NiTech untuk menjadi kampus bertaraf internasional sudah dirintis. Mereka mulai bermitra dengan kampus asing sejak 2007. Pada 2007 Nitech hanya memiliki kerja sama dengan 22 negara dan 43 universitas atau fakultas. Jumlah itu terus meningkat. Pada 2016 sudah ada perjanjian kerja sama dengan 28 negara dan 72 perjanjian dengan universtas dan fakultas. Pada 1 Juni 2017, perjajanjian kerja sama sudah bertambah menjadi 58 kerja sama antar universitas, 20 perjajian tingkat fakultas /departemen dari 31 negara.

Negara mitra NiTech tersebar di Asia, Oseania, Eropa, Amerika Utara serta Amerika Selatan. Kerja sama terbanyak dilakukan dengan kampus di Asia, yakni 41 perjanjian. Kerja sama dengan kampus di Eropa tercatat 25 perjanjian. Sementara dengan kampus di Amerika Utara hanya tiga perjanjian, dan kampus di Amerika Selatan hanya dua kerja sama. Mitra NiTech di Oseania hanya satu kampus. 

Lembaga pendidikan di Indonesia yang bermitra dengan NiTech adalah Universitas Udayana, Bali.
Karena mayoritas kerja sama dilakukan dengan kampus di Asia, jumlah mahasiswa asing asal Asia sangat dominan. Pada 2016, tercatat 269 mahasiswa asal Asia, sementara jumlah mahasiswa asing asal Afrika berjumlah 10 orang, Amerika Latin 5 orang , Eropa 7 orang, dan tak ada mahasiswa asal Oseania. Dalam sepuluh tahun terakhir, hanya satu mahasiswa Oseania yang belajar di NiTech (2014). Total mahasiswa asing di NiTech pada 2016 berjumlah 291 orang.



Sumber:
Tabloid Halo Jepang! Edisi Agustus 2017





                                                                                                                               

Tuesday, June 13, 2017

Okayama University (Universitas Okayama)

Okayama University kampus Tsushima



Okayama Univesity (Okayama Daigaku) adalah salah satu kampus ternama di Jepang yang sudah mencetak lebih dari 12.000 dokter. Cikal bakal universitas di Prefektur Okayama ini adalah bidang medis sehingga masuk akal jika Fakultas Kedokteran menjadi primadona.

Sebelum menjadi universitas, kampus ini hanyalah tempat pelatihan bernama Medical Training Place (1870) yang kemudian berubah menjadi Okayama Prefectural Medical School (1880). Seiring dengan perubahan zaman, sekolah inipun terus berganti nama sampai pada 1922 menadi Okayama Medical College (Okayama Ika Daigaku).


Rumah sakit Okayama University yang ada di Misasa

Setelah perang dunia II, tepatnya setelah 1949, Okayama Medical College dan 4 sekolah lain di Okayama, termasuk Okayama Agricultural College dilebur menjadi Okayama University. Kampus baru yang terletak di Tsushima adalah bekas markas tentara kekaisaran Jepang yang meninggalkan tempat ini pada 1947. Saat berdiri, Okayama University hanya memiliki 5 fakultas yakni Fakultas Hukum, Fakultas Pendidikan, Fakultas Science, Fakultas Pertanian, dan Fakultas Kedokteran. Kini Okayama memiliki 11 fakultas, 7 sekolah pasca sarjana, serta pusat penelitian.


Fakultas sains Okayama University

"Okayama adalah satu sekolah kedokteran tertua di Jepang. Rumah sakit di kampus ini menduduki peringkat kelima di Jepang berdasarkan jumlah operasi per tahun  yang dilakukan di Okayama University Hospital. Semua tipe transplantasi organ dapat dilakukan di rumah sakit tersebut, diantaranya sudah ada 102 kasus operasi transplantasi paru-paru. Transplantasi paru-paru di Okayama University Hospital menempati peringkat pertama di Jepang. Sedangkan transplantasi hati menempati urutsn kedua.

Jurusan kedokteran juga banyak menghasilkan jurnal, termasuk jurnal internasional yang berkaitan dengan penelitian medis. Beberapa di antaranya mendapatkan hadiah nobel atas penemuan itu. Banyak mahasiswa asing dari berbagai negara menimba ilmu di  di Fakultas Kedokteran ini.


Iklim Bersahabat
Okayama University terletak di Kota Okayama, Prefektur Okayama. Kampusnya tersebar di 6 lokasi yakni Tsushima, Shikata, Higashiyama, Hrai, Kurashiki, serta Misasa. Akses ke pusat kota sangat mudah . Iklimnya menyenagkan dengan suhu bersahabat, dikenal sebagai 'fine weather country Okayama'. Memiliki iklim yang hangat dan jarang terjadi bencana alam. Suhu di kota ini berkisar -1C sampai 31C dan jarang di bawah -4C atau di atas 34C.  Area kampus dikelilingi oleh tanaman sehingga tenag dan nyaman, jauh dari kebisingan kota. Sangat mendukung untuk proses belajar megajar. Fasilitas juga lengkap mulai dari jaringan internet yang super cepat, kantin, toko kampus sampai perpustakaan. Di kampus Tsushima dan Shikata, ada kantin yang menyediakan makanan halal untuk mahasiswa muslim. Tersedia juga asrama untuk mahasiswa asing. Selain itu, di sekitar kampus terdapat masjid untuk melakukan berbagai aktifitas keagamaan bagi kaum muslim di kota Okayama.
Masjid Okayama


Kunjungan ke Okayama 
Jumlah mahasiswa yang belajar di Okayama University tidak banyak, hanya sekitar 18 orang. Mayoritas mengambil jurusah kedokteran, hampir separuhnya. Minimnya jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar di kampus ini karena belum ada kerja sama formal antara Okayama University dengan universitas-universitas di Indonesia. Kendati demikian sudah ada kerja sama antara jurusan di Okayama University dengan berbagai universitas di Indonesia.

Untuk kerja sama seperti pertukaran mahasiswa ataupun beasiswa khusus belum ada, tetapi program kunjungan ke Okayama University yang diselenggarakan oleh beberapa universitas di Indonesia. Dari kunjungan tersebut diharapkan banyak mahasiswa Indonesia yang mengenal kampus ini kemudian berminat menimba ilmu di Okayama.

Selain lingkungan yang nyaman dan fasilitas yang lengkap, biaya hidup di Okayama juga tak semahal hidup di kota metropolitan di Jepang. Memang biaya hidup mahasiswa tergantung pada gaya hidupnya.





Sumber:
Tabloid Halo Jepang! edisi Juli 2015

















Wednesday, March 22, 2017

Kyushu University (Universitas Kyushu)



Kyushu University

Saat ini kampus Kyushu University tersebar di Hakozaki (kampus pertama), Maidashi (jurusan medis), Ohashi, Chikushi, dan yang terbaru dan masih dibangun adalah Ito. Pembangunan kampus Ito merupakan bagian dari upaya merelokasi kampus Hakozaki.

Kampus baru ini memiliki banyak fasilitas riset dan laboraturium dengan peralatan canggih. Misalnya International Research Center for Hydrogen Energy, Research Laboratory for High Voltage Electron Microscopy, serta perpustakaan dengan lebih dari 4 juta buku. Dibanding universitas lain, secara luas, kampus Ito Universitas Kyushu adalah yang terbesar.

Terkait keinginan menjadi universitas bertaraf global, presiden Kyushu University, Kubo Chiharu melalui situs resmi kampus mengatakan bahwa filosofi barunya adalah melanjutkan reformasi untuk menjamin kualitas pendidikan di level internasional, menjadi pusat penelitian dan pendidikan berkelas, penuh vitalitas, dan mampu menghadapi tantangan masa depan.



Fakultas Teknik 
Fakultas Teknik Kyushu University
Berdiri sebagai Kyushu Imperial University pada 1911, kampus tersebut awalnya hanya memiliki College of Engineering dan College of Medicine. Cikal bakal College of Medicine adalah Fukuoka Medical School (1879) yang kemudian menjadi Fukuoka Medical College (1903). Dua fakultas yang paling favorit adalah engineering kemudian medical. Namun beberapa tahun terakhir, pendaftar di fakultas pertanian juga meningkat.

Perganian nama menjadi Kyushu University terjadi pada tahun 1947, disusul berdirinya fakultas baru dan sekolah pasca sarjana. Saat ini Kyushu University memiliki 16 fakultas, 18 sekolah pasca sarjana, lima pusat penelitian dan satu rumah sakit universitas. Kyushu University merupakan salah satu dari "Tujuh Universitas Nasional" di Jepang dan satu-satunya yang berlokasi di pulau Kyushu.

Fakultas Kedokteran Kyushu University
Mahasiswa Indonesia di kampus ini kebanyakan mengambil studi di fakultas teknik dengan jurusan terkait kekayaan alam Indonesia seperti jurusan earth resource engineering, environmental engineering, atau maritime engineering.



Bertambah 
Proses belajar mengajar berjalan baik karena dukungan fasilias yang memadai, apalagi di kampus Ito. Bagi mahasiswa muslim, kampus Ito menyediakan juga ruang sholat mengingat jarak menuju masjid di Fukuokacukup jauh.

Bagi mahasiswa di kampus Hakozaki, akses ke gereja dan masjid sangat dekat, hanya3,5 km dari pusat kota. Kampus Hakozaki juga dekat dengan berbagai fasilitas seperti ward office (kantor kecamatan), stasiun kereta, restoran, dan kantor pos. Keunggulan kampus Hakozaki adalah beberapa bangunan masih asli sejak awal terbentuknya Kyushu University. Ada yang berusia seabad dan akan dilestarikan sebagai warisan sejarah milik Kyushu University dan pemkot Fukuoka.

Bagi mahasiswa Indonesia, kampus ini cukup favorit. Per Desember 2016, terdapat sekitar 150 mahasiswa Indonesia. Peningkatan ini berkat kerjasama dengan lembaga dan universitas di Indonesia. Kyushu University berkolaborasi dengan UGM (Yogyakarta) dan ITB serta Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Kerjasama dengan UGM berlangsung sampai 2020 dan bisa diperpanjang.

Kyushu University juga menjalin kerjasama di tingkat fakultas dengan beberapa universitas . Dengan Universitas Indonesia Kyushu University  bermitra dengan Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Matematika dan Ilmu Alam, serta Fakultas Sains. Mereka juga berkolaborasi dengan Fakultas Teknik Universitas Hasanudin, Fakultas Geologi Universitas Padjajaran, Bioresource and Bioenvironmental  Sciences IPB, serta Fakultas Teknik dan Fakultas MIPA Universitas Diponegoro.






Sumber:
Tabloid Halo Jepang edisi Februari 2017








Friday, March 3, 2017

Setsubun







Upacara Setsubun merupakan kegiatan melempar kacang yang dilakukan saat mengawali pergantian musim dingin ke musim semi. Setsubun biasanya jatuh pada tanggal 3 Februari. Upacara setsubun dilakukan dengan melempar segenggam kacang kedelai sangrai sambil mengucapkan "Oni wa soto, fuku wa uchi" yang berarti "pergilah iblis, masuklah keberuntungan". Ibarat mantera, kalimat tersebut seolah memberi kekuatan pada kacang untuk menghalau setan di tahun yang baru saja berganti.

Dalam laporan NHK disebutkan, pada hari itu seluruh masyarakat di seluruh Prefektur Jepang menyebar kacang kedelai yang sudah disangrai matang untuk memperoleh keberntungan sepanjang tahun, dan mengusir setan-setan yang mewakili kemalangan. Sebagian orang melempar kacang tersebut di halaman rumah, sebagian lagi melalukannya di kuil. Kegiatan ini disebut mame-maki.

dukun di kuil memakai topeng seperti setan
Ritual setsubun di kuil menampilkan para dukun yang mengenakan topeng menyeramkan layaknya oni atau setan. Kemudian, masyarakat yang datang melemparinya dengan kacang kedelai sambil mengucap "mantera" seperti yang dimaksud.


Sejarah Setsubun
Berdasrkan sejarahnya, pada zaman kuno, setsubun adalah perayaan tahunan di istana kaisar. Menurut Engishiki (kumpulan undang-undang dan aturan di masa lalu), saat itu menjadi tradisi untuk memajang beragam boneka dari tanah liat berbentuk anak dan sapi di pintu gerbang dalam lingkungan istana.

kacang kedelai dan topeng oni, dua benda khas setsubun
Memasuki zaman modern, kebiasaan setsubun di zaman kuno lenyap dan digantikan tradisi melempar kacang dan menggantung kepala ikan sardin yang ditusuk ranting pohon hiragi di pintu masuk rumah. zdi beberapa prefektur Jepang, masyarakat percaya kepala sardin dapat mengusir oni yang lahir pada hari setsubun.

Namun yang umum dilakukan adalah menyebar kacang kedelai panggang di depan pintu rumh. Biasanya sang ayah berperan sebagai oni dengan memakai topeng seram, berdiri di depan pintu rumah. Sementara ibu dan anak-anak melemparinya dengan kacang itu.

Warisan budaya ini terus terjaga turun temurun, meski tak semua orang melakukannya karena alasan tertentu, misalnya sudah ringgal lama di luar negara Jepang.



Ehoumaki
selain mengusir setan dengan melempar kacang, salah satu adat setsubun yang masih kerap dilakukan adalah memakan ehoumaki (yang artinya gulungan keberuntungan), yaitu sushi dalam bentuk gulungan panjang yang dibalut rumput laut. Saat memakan ehoumaki harus menghadap ke arah mata angin yang sudah ditentukan dan selalu berbeda tiap tahunnya. Sebelum satu gulung ehoumaki habis dimakan, orang yang memakannya tidak boleh berbicara. Dengan memakan ehoumaki diharapkan nasib baik akan datang. Tradisi ini berasal dari Osaka yang bermula di zaman Edo yang hingga kini tetap terjaga bahkan meluas ke seluruh Negeri Matahari Terbit.

ehoumaki
Biasanya, sebulan sebelum setsubun, supermarket sudah menyediakan ehoumaki karena pesanan dipastikan meningkat pesat mengingat memakan ehoumaki lebih mudah dibanding melempar kacang yang membutuhkan peran oni. meski demikian, tak berarti kacang kedelai keberuntungan atau fukumame tidak banyak tersedia. Bahkan ada yang memberikan bonus topeng oni saat membeli fukumame.

Setsubun juga menjadi ajang kegembiraan bagi masyarakat karena para artis dan aktor papan atas, tokoh terkemuka, atlet berprestasi kerap diundang ke beberapa kuil besar, sepertidi kuil Kushida , Fukuoka untuk melakukan mame-maki bersama masyarakat. Berbaur dengan bintang idola tentunya menyenagkan bagi masyarakat. Sementara itu, beberapa kuil Buddha dan Shinto bekerja sama dengan taman kanak-kanak dan tempat penitipan anak mengadakan upacara melempar kacang oleh chigo (anak-anak kecil yang dirias) dan miko (pelayan wanita).

perayaan setsubun di kuil
 Meski setsubun bukan hari libur nasional, namun masyarakat Jepang dengan suka cita selalu melakukan ritual-ritual tersebut di sela-sela aktivias sehari-hari. Bahkan pada hari itu, beberapa hotel dan restoran juga memiliki agenda khusus mengajak masyarakat merayakan tradisi unik itu bersama-sama. Keceriaan dalam acara itu menjadikan semnagat baru bagi mereka, khususnya dalam menjalani pergantian musim.








Sumbe:
Tabloid Halo Jepang! edisi Februari 2017




Wednesday, February 22, 2017

The University of Kitakyushu (Universitas Kitakyushu)



Gedung Fakultas Teknik Lingkungan

Ketika isu lingkungan menyeruak ke permukaan, The University of Kitakyushu segera mengaitkan sebagian besar kurikulum pendidikan dengan masalah lingkungan dan solusinya. Kini, kampus tersebut menjadi mitra pemerintah Prefektur Kitakyushu dalam membangun kota ramah lingkungan.

Padahal,pada masa awal berdirinya The University of Kitakyushu (UK) (1946-1981-),kampus yang sempat bernama University of Foreign Studies ini berfokus kepada ilmu-ilmu humaniora seperti sastra dan bahasa, hukum, serta ekonomi bisnis.

Sementara itu fakultas yang mempelajari tentang lingkungan, yakni Faculty of Environmental Engineering baru beridiri pada tahun 2000. Namun ilmu lingkungan di UK berkembang amat pesat. The University of Kitakyushu memberikan dukungan penuh terhadap proses penelitian di bidang urban environment. Dukungan ini meliputi dana penelitian, alat penelitian, bantuan seminar nasional dan internasional. UK tergabung dalam Kitakyushu Science and Research Park (KSRP) yang merupakan think tank pemerintah Kitakyushu dalam upaya menjadikan Kitakyushu sebagai kota ramah lingkungan.
Kitakyushu Science and Research Park


Teknik Lingkungan
Sejak UK mengembangkan ilmu lingkungan, jurusan Teknik Lingkungan dan Arsitektur menjadi jurusan favorit. Mahasiswa Indonesia yang kuliah di sini berjumlah 10 orang. Mayoritas mengambiljurusan Teknik Lingkungan dan Arsitektur. 

Selain mengembangkan ilmu dan penelitian di bidang lingkungan , UK juga memiliki jaringan luas terkait dengan pengembangan ilmu ini. Mereka bekerja sama dalam bidang urban research bersama, IGES (Institute for Global Environmental Strategies), JICA (Japan International Cooperative Agency), Asian Development Bank, serta Green Frontier.

Hasil Penelitian dan pengembangan dari kampus ini digunakan untuk memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi oleh daerah di sekitarnya. Tentu, UK bekerja sama dengan masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, dan pemerintah daerah dalam mengabdikan ilmunya. Pada 2008, UK menempati urutan pertama dari 730 kampus di Jepang yang memberikan kontribusi bagi pengembangan komunitas di sekitarnya.

The University of Kitakyushu memiliki Environmental Leader Program di bawah  SUW (Sustainable Use of Water and Resources) dengan misi mencetak ahli lingkungan yang siap berkontribusi dengan negara asal mahasiswanya.


Mahasiswa Asing
Memasuki periode inovasi yang dimulai pada tahun 2002, kerja sama dengan kampus di luar Jepang makin ditingkatkan guna mewujudkan kampus bertaraf internasional. Setelah bermitra dengan kampus di Amerika Serikat , Inggris, Australia, Korea, dan Tiongkok, UK pun bekerja sama dengan Universitas di Tanah Air. UK memiliki beberapa kerja sama dengan perguruan tinggi di Indonesia seperti Universitas Bandar Lampung (UBL), Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) serta beberapa kota di Indonesia.

Berkat kerja sama tersebut, The University of Kitakyushu, khususnya Departemen Arsitektur sudah beberapa kali melakukan program pertukaran pelajar yang biasa disebut The University of Kitakyushu - Student Exchange Research Program (UK-SERP). Saat ini, terdapat 7 mahasiswa Indonesia yang mengikuti program UK-SERP  tersebut yang berasal dari UBL, ITB, dan UPI. Mahasiswa yang mengikuti program tersebut memperoleh beasiswa yang difasilitasi oleh UK.

Meski jumlah mahasiswa Indonesia yang kuliah di kampus ini tidak banyak, namun mereka betah berada di lingkungan Universitas. UK memiliki lingkungan yang tenang, inetraksi dengan sensei (profesor) yang nyaman dan mendukung. UK telah memfasilitasi kegiatan ibadah dengan menyediakan ruang sholat. Juga perizinan yang mudah untuk mengadakan sholat Kumat disalah satu ruangan kampus.

mengenai biaya hidup di kota Kitakyushu, hampir sama dengan kota lain di Negeri Matahari Terbit. Besarnya pengeluaran tergantung dengan kebiasaan masing-masing mahasiswa. Jikauntuk makan sehari-hari masak sendiri, bisa lebih hemat. Tetapi kalau setiap makan harus ke resto maka pengeluaran pun menjadi lebih besar. 





Sumber:
Tabloid Hello Japan! edisi Juni 2016








Saturday, February 18, 2017

Lima Kampus Terbaik Di jepang 2016-2017

Jika Anda berniat menimba ilmu di Jepang, inilah daftar lima kampus terbaik di Negeri Matahari Terbit. Majalah pendidikan Time Higher Education (THE) yang berbasis di London, Inggris membuat rangking universitas berdasarkan 13 kriteria penilaian.Universitas Tokyo (Todai) masih menjadi yang terhebat.

 Di penghujung tahun 2016, THE mengeluarkan daftar perguruan tinggi terbaik di dunia untuk 2016-1017. Todai yang pada 2015 menjadi universitas terbaik se-Asia selama empat tahun, harus tergeser dan menempati peringkat tujuh. Kendati demikian, Todai masih terhebat di Jepang.

Ketigabelas penilaian itu dibagi ke dalam lima kategori yakni: lingkungan belajar (30% dari total penilaian), penelitian yang terdiri atas banyaknya riset, pendapatan, dan reputasi riset (30%), pengaruh penelitian (30%), inovasi (2,5), serta wawasan internasional dari staf pengajar, mahasiswa,dan peneliti (7,5%).

Lingkungan belajar meliputi hasil penelitian kampus pada 2015, rasio dosen dan jumlah mahasiswa, perbandingan dosen yang bergelar doktor, master, dan sarjana, serta penghargaan akademik yang diterima staf pengajar. Sedangkan kategori penelitian terdiri atas reputasi hasil penelitian, jumlah dosen yang melalukan penelitian, pendapatan yang diperoleh kampus dari penelitian tersebut, dan banyaknya penelitian yang dimuat di jurnal ilmiah internasional.

Kategori pengaruh penelitian dilihat dari seberapa besar pengetahuan dan ide baru dari kampus tersbeut dipakai atau dikutipoleh pihak lain. Kategori wawasan internasional dilihat dari perbandingan mahasiswa lokal dan asing, rasio dosen lokal dan asing, serta banyaknya hasil penelitian yang dimuat di jurnal internasional. Inovasi adalah bagaimana kampus bisa membantu perusahaan untuk menemukan hal-hal baru serta mengimplementasikan hasil penelitian untuk industri.

Kelima kampus paling baik di Jepang ini adalah sebagai berikut:

1.  Universitas Tokyo (Todai)

Todai berdiri pada 1877, gabungan dari Tokyo Kaisei School dan Tokyo Medical School. Awalnya hanya mempunyai empat fakultas yakni hukum, sains, sastra, dan kedokteran. Fakultas kedokteran berada di Hongo , sedangkan fakultas lainnya menempati area Kanda.

Kini, Todai memiliki mahasiswa 26.080 orang, tersebar di 10 fakultas, 15 sekolah pascasarjana, 11 lembaga penelitian (termasuk Research Center for Advanced Science and Technology), 13 pusat studi, tiga perpustakaan afiliasi dan dua lembaga studi mutakhir. Salah satu fasilitas yang amat tersohor adalah Rumah Sakit Tokyo.

rumah sakit universitas Tokyo merupakan salah satu fasilitas kesehatan yang terkenal di Jepang
Rasio (perbandingan) antara dosen dan mahasiswa adalah 1:7. Jumlah mahasiswa asing yang belajar di sini sekitar 10% dari total mahasiswa. Lokasi kampus terletak di tiga tempat yakni Hongo, Komaba, dan Kashiwa.


2. Universitas Kyoto

Dibanding 2015, peringkat universitas Kyoto di Asia merosot dua tingkat, dari urutan sembilan menjadi 11. Namun, di Jepang, kampus ini masih yang terbaik, setelah Todai. Kampus tertua kedua di Negeri Sakura ini berdiri pada 1897 di Pulau Honshu. Pada awalnya hanya terdiri dari fakultas hukum, kedokteran, sastra, sains, dak teknik. Dua tahun kemudian mendirikan rimah sakit dan perpustakaan. Menyusul berdiri fakultas ekonomi, pertanian, dan humaniora

perpustakaan universitas Kyoto
Saat ini universitas Kyoto mempunyai 10 fakultas, 18 sekolah pascasarjana dan 14 lembaga penelitian. Jumlah mahasiswa mencapai 22.547 orang, dengan rasio dosen mahasiswa 1:5,5. Mahasiswa asing yang kuliah di sini sekitar 7% dari total mahasiswa. Kampus berada di tiga lokasi yakni Yoshida (kampus utama), Uji dan Katsura.


3. Universitas Tohoku
Di Asia, peringkat Universitas Tohoku turun dari peringkat 19 (2015) menjadi 23 (2016). Tetapi di Jepang, universitas ini berhasil menempati peringkat ketiga dari sebelumnya di urutan lima, menggeser Institut teknologi Tokyo dan Universitas Osaka. Universitas Tohoku adalah kampus tertua ketiga di Jepang yang berdiri pada 1907 di Sendai. Universitas yang memiliki filosofi 'pintu terbuka' ini adalah kampus yang pertama menerima mahasiswa perempuan (1913) dan mahasiswa asing.

museum universitas Tohoku
Saat ini universitas tersebut mempunyai 10 fakultas, 17 sekolah pascasarjana, 3 sekolah profesional, dan 7 lembaga penelitian. Total mahasiswa berjumlah 17.885 (Mei 2016) dengan mahasiswa asing sebanyak 1.944 (termasuk mahasiswa program studi diploma). perbandingan staf pengajar dan mahasiswa 1:5,4. Kampus berlokasi di Sendai, prefektur Miyagi. Tersebar di lima lokasi yakni Katahira, Aobayama, Kawauchi, Seiryo, dan Amamiya.


4. Institut Teknologi Tokyo (ITT)

Pada 2015, ITT terbaik ketiga di Jepang. Kini, mereka menempati peringkat empat, di bawah Universitas Tohoku. Di tingkat Asia, sebelumnya berada di urutan 15, turun ke peringkat 24. Kampus ini berdiri pada 1929, namun sejarah berdirinya sudah dimulai sejak 1881 dengan nama Sekolah Kejuruan Tokyo. Kampus ini berkembang pesat di era 1923-1945 saat di mana mereka membangun berbacai macam laboratorium untuk menciptakan tenaga teknik andalan. Saat perekonomian tumbuh pesat mulai 1960-an, ITT menjadi penyedia tenaga ahli dan peneliti di bidang teknik.

bangunan perpustakaan institut teknologi Tokyo

Saat ini, ITT memiliki enam sekolah tinggi yang terdiri dari 19 jurusan, empat laboratorium, dua pusat penelitian serta 10 unit penelitian. Jumlah mahasiswa mencapai 9.587 orang, 13% diantaranya mahasiswa asing. Perbandingan jumlah staf pengajar dan mahasiswa 1:7,4. Kampus ini cocok untuk Anda yang ingin mempelajari ilmu teknik.


5. Universitas Osaka

tahun lalu, Universitas Osaka menempati kampus terbaik keempat. Kini turun satu peringkat. Di tingkat Asia, dari urutan 18 menjadi 30. Secara resmi, Universitas Osaka berdiri pada 1931. Namun, kampus ini memiliki sejarah panjang sejak 1838 saat Ogata Koan, lulusan sekolah Kedokteran Barat, mendirikan sekolah dan klinik kesehatan bernama Tekijuku. Setelah perang dunia II, kampus ini berkembang pesat.
gedung fakultas perhotelan universitas Osaka
Kini memiliki 11 fakultas, 16 sekolah pascasarjana (termasuk Internasional Public Policy and Frontier Biosciences), lima lembaga penelitian, dua rumah sakit serta tiga lembaga riset yang digunakan secara nasional seperti Research Center for Nuclear Physics dan Cybermedia Center. Kampus tersebar di empat lokasi yakni Suita, Toyonaka, Minoh, dan Nakanoshima. Jumlah mahasiswa mencapai 23.087 orang, 9% diantaranya mahasiswa asing. Beberapa orang penting belajar di kampus ini, seperti orang Jepang peraih nobel fisika pertama Yukawa Hideki, penemu baterai lithium Yoshino Akira, dan pendiri Sony Morita Akio.






Sumber:
Tabloid Hello Japan!




Thursday, January 5, 2017

Makhluk Mitologi Dalam Budaya Jepang

Folklore atau mitologi selalu ada di hampir semua negara. Bagi masyarakat Jepang sendiri juga tak lepas dari pengaruh dewa dewi dan makhluk-makhluk mitologi dalam budaya mereka.

1. Kappa



Bagi penggemar karya sastra Akutagawa Ryuunosuke pasti tidak asing dengan makhluk ini. Kappa merupakan salah satu judul novel fenomenal Akutagawa Ryunosuku. Dalam agama Shinto dan mitologi Jepang, Kappa disebut sebagai salah satu dewa air (suinjin)  yang berwujud seperti manusia kerdil dengan kulit bersisik seperti reptil berwarna hijau, kuning, atau biru, berparuh, dan bertempurung. Ciri khas Kappa adalah cekungan mirip piring yang sedikit berambut yang ada di atas kepalanya dan selalu basah karena itulah sumber kekuatannya. Jika cekungan itu kering ia bisa mengering bahkan mati.
Kappa biasanya minum darah, tetapi tergantung apakah dia baik atau jahat. Kappa suka mentimun, dan apabila ada keluarga yang ingin dulindungi Kappa atau ingin menghindari kesialan, mereka biasanya menulis nama mereka dia mentimun dan melemparnya ke kolam Kappa. Makhluk ini dikenal sopan dan selalu menepati janji. Di dalam cerita rakyat Jepang ada banyak versi Kappa yang berbeda. Ada Kappa bermata satu, Kappa berbulu, Kappa penakut dan Kappa pendaki gunung. Ada juga yang mengatakan jika Kappa dikenal suka menculik anak-anak yang bermain di sungai dan memakan habis-habis isi dalam tubuhnya.



2. Amaterasu, Tsukuyomi, dan Susanoo

Amaterasu atau dewi matahari pertama kali disebutkan dalam sebuah kisah catatan tertua mengenai mitologi Jepang yaitu di Kojiki dan Nihon Shoki. Mitologi Jepang Amaterasu yang ada dalam catatan tersebut menjelaskan bahwa Amaterasu adalah kakak dari Tsukuyomi (dewa bulan) dan Susanoo (dewa badai yang ada di laut). Mereka bertiga terlahir dari Izanagi (dewa pencipta pulau Jepang) sebagai 3 dewa terakhir saat melakukan ritual pembersihan diri. Amaterasu lahir saat Izanagi membasuh mata kiri, Tsukuyomi lahir saat membasuh mata kanan, dan Susanoo lahir saat mambasuh hidungnya.



3. Binbougami

Dalam mitologi Jepang kuno, Binbougami disebut sebagai dewa kemiskinan. Orang Jepang percaya jika rumah mereka dimasuki Binbougami maka orang-orang yang tinggal di rumah tersebut akan dilanda kemiskinan dan kesengsaraan. Dalam mitologi Jepang, Binbougami digambarkan sebagai sosok laki-laki tua yang sangat kurus dan selalu membawa kipas di tangannya.



4. Shinigami

Hampir semua orang di berbagai negara mempercayai adanya dewa kematian yang dipercaya menjemput kita ketika ajal tiba. Dewa kematian mempunyai banyak sebutan seperti dewa maut, grim reaper, osiris, dan sebutan shinigami bagi orang Jepang. Dalam kepercayaan Shinto dan mitologi Jepang kuno menyebutkan bahwa Izanami (istri dari Izanagi) yang memberikan kematian pada manusia. Jadi, terkadang Izanami sering disebut sebagai Shinigami oleh orang Jepang.



5. Tengu


Tengu adalah dewa penunggu gunung yang berwujud separuh burung dan separuh manusia. TEngu digambarkan sebagai makhluk yang pemarah, berwajah merah, berhidung panjang, memiliki sepasang sayap, serta kuku kaki dan tangan yang sangat pajang. Dalam Konjaku Monogatari, Tengu dikisahkan sebagai makhluk yang pekerjaannya  menentang ajaran Budha. Salah satu bentuk penentangannya adalah dia akan menyamar sebagai pendeta atau biarawatilalu mebawa terbang biarawan lain yang lewat dan membuangnya ke tempat terpencil.
Tengu bisa terbang bebas di angkasa sambil tongkat yang disebut Kongozue, pedang besar (Tachi), dan kipas berbentuk daun (Hauciwa). Nama lainnya adalah Gehō-sama (外法様 ,tuan sihir).
Dalam bahasa Jepang dikenal ungkapan Tengu ni naru yang berarti “sangat bangga dengan diri sendiri”. Ungkapan ini kemungkinan berasal dari ungkapan “hana ga takai” (hidungnya tinggi).



6. Kitsune 


Kitsune adalah sebutan untuk binatang rubah dalam bahasa Jepang. Dalam cerita rakyat Jepang, rubah sering diampilkan dalam berbagai cerita sebagai makhluk cerdas dengan kemampuan sihirnya yan sempurna sejalan dengan semakin tua dan semakin bijak rubah tersebut. Selain itu rubah dapat berubah bentuk menjadi manusia. Dalam legenda, rubah sering diceritakan sebagai penjaga yang setia, teman, kekasih atau istri, walau sering terdapat kisah rubah yang menipu manusia. Di zaman Jepang kuno, rubah dan manusia hidup saling berdekatan sehingga legenda tentang kitsune muncul dari persahabatan antara manusia dan rubah. Dalam kepercayaan Shinto, kitsune disebut Inari yang bertugas sebagai pembawa pesan dari Kami. Semakin banyak ekor yang dimiliki kitsune (kitsune bisa memiliki sampai 9 ekor), maka semakin tua, semakin bijak, dan semakin kuat pula kitsune tersebut. Sebagian orang memberi persembahan untuk kitsune karena dianggap memiliki kekuatan gaib.







 sumber:
http://hermawayne.blogspot.co.id/2010/12/10-makhluk-teraneh-dalam-mitologi.html
http://www.sabisaku.com/budaya/dewa-dan-makhluk-mitologi-jepang-terkenal/
https://www.akibanation.com/6-mahluk-mitologi-jepang-paling-mengerikan/