Monday, October 2, 2017

YUGIOH, “Duel Monster” Guna Mencerdaskan Otak


kartu yugioh berbahasa Inggris

Di antara beberapa permainan kartu dari Negeri Sakura, yugioh merupakan yang paling fenomenal karena pernah tercatat dalam Guiness World of Records pada 2009. Kartu yang dipublikasikan Konami-industri perangkat lunak dan game- di Jepang ini dihadirkan berdasarkan permainan  ‘duel monster’ karya mangaka Takahashi Kazuki. Pertama diluncurkan pada 1999, kartu ini menjadi top seling trading card game di dunia dengan terjualnya 25 miliar kartu sehingga tercatat dalam Guiness World of Records pada 7 Juli 1999.

kartu yugioh berbahasa Jepang
Yugioh kerap disebut sebagai kartu duel monster karena permainan ini ditentukan oleh peran kartu jenis monster. Permainan ini terus berkembang ke seluruh dunia, meski kebanyakan masih dimainkan di Jepang, disusul di Amerika Utara, Eropa dan Australia.

Sebagai permainan asah otak, yugioh hanya bias melibatkan orang yang mempunyai kecerdasan tinggi. Karena permianan ini tergolong rumit dan mempunyai banyak efek sehingga perlu strategi tersendiri  untuk menjadi pemenang. Permainan ini juga memungkinkan orang untuk mempelajari budaya dan bahasa Jepang. Meski demikian, kini banyak juga kartu tersedia dalam bahasa Inggris bahakan belakangan juga dalam bahasa Indonesia.


Aturan Main
Yugioh dimainkan dua orang yang masing-masing diberi Life Point (LP) 2.000 hingga 16.000, atau jumlah yang disepakati. LP ibarat nyawa saat bermain. Dalam setiap permainan, digunakan deck (tempat menampung kartu), minimal berisi 40 kartu dan maksimal 60 kartu. Jika kuramg dari 40 atau lebih dari 60 maka pemain terkena diskualifikasi. Selain itu hanya boleh ada maksimal tiga kartu yang bernama sama persis dalam satu deck.

Sama seperti permainan kartu lain, pemain harus mengocok deck lawan dan mengembalikan pada pemiliknya. Pertandingan dimulai dengan undian menggunakan koin atau cara lain untuk menentukan pemain awal. Pemain yang beraksi lebih dulu dialrang menyerang kecuali ada suatu hal yang menyebabkan dia berhak melakukannya.

Setiap pemula harus mempelajari aturan, istilah dan fungsi-fungsi semua kartu. Permainan yugioh ditentukan tiga jenis kartu yaitu: monster, magic, dan trap. Ketiganya memiliki fungsi berbeda yang harus dipelajari dengan seksama sebelumnya.
kartu trap (trap card)

kartu monster (monster card)

kartu magic (magic card)

Kartu monster merupakan kartu yang berperan sangat vital dalam permainan karena memiliki fungsi  untuk melakukan serangan dan mengambil poin lawan. Kartu magic berfungsi sebagai penambah kekuatan monster dan kartu trap berguna untuk membuat jebakan pada lawan.

Sementara istilah yang wajib diketahui adalah:
Draw phase (mengambil kartu dari deck)
Standby phase (posisi diam, berjaga)
Main phase1 (pemain dapat memanggil monster atau menaruh kartu magic dan trap)
Main phase 2 (pemain tidak boleh memanggil  monster lagi jika sudah memanggil di main phase 1)
End phase (menyatakan pergantian giliran untuk memainkan kartu)

Pemenang ditentukan oleh jumlah Life Point (LP). Jumlah LP pemain akan berkurang tergantung serangan monster lawan, dan efek dari kartu lawan. Pemain dinyatakan kalah jika nilai LPnya nol atau saat tidak bisa lagi mengambil kartu di deck. Dua kondisi ini menjadi indicator kemenangan dalam permainan yugioh.





Sumber:

Tabloid Halo Jepang! Juni 2017

Friday, September 15, 2017

Aikido



Aikido adalah seni beladiri yang bersifat defensif (bertahan), tidak mengutamakan kekuatan otot tapi kelenturan dan kecepatan gerak. Secara harfiah, aikido berasal dari kata “Ai” artinya penyelarasan, integrasi atau harmoni. Kata “Ki” artinya pusat energi hidup atau spirit. Dan kata “Do” artinya jalan. Sehingga aikido bias diterjemahkan sebagai jalan untuk membentuk kesatuan harmoni antara fisik, rohani, dan pikiran.

Dalam aikido juga mengenal istilah naik tingkat seperti karate, judo  atau seni beladiri lainnya. Tingkat tertinggi dalam International Aikido Federation (IAF) saat ini adalah Dan 9. Namun ada beberapa ahli aikido dengan tingkatan Dan 10 karena diberikan oleh ahlinya langsung, Ueshiba Morihei, sebelum dia wafat.


Ueshiba Morihei

Tingkatan dalam aikido terdiri dari dua bagian yaitu:
1.  Kyu (mudansha I yukyusha)
Tingkat Kyu 5 sampa Kyu 4 menggunakan sabuk putih, dan Kyu 3 sampai Kyu 1 menggunakan sabuk cokelat

2. Dan (yudansha)
Dan 1 sampai Dan 10 menggunakan sabuk hitam.


Teknik-teknik aikido sebagai seni beladiri perkelahian cepat jarak pendek banyak dipengaruhi oleh teknik bantingan judo, kodokan jigoro kano, teknik kuncian jujutsu gaya sokaku takeda , teknik pedang (kenjutsu) dan teknik toya berpedang (yarijutsu). Pada umumnya, aikido tidak menggunakan tendangan kaki, namun dalam dalam hal-hal khusus teknik kaki (ashiwaza) juga diajarkan.
Seni beladiri ini memiliki empat pola dasar latihan yaitu :
·         Tachiwaza (teknik berdiri melawan berdiri)
·         Suwariwaza (teknik duduk melawan duduk)
·         Hanni handachi (teknik duduk melawan berdiri)
·         Kaeshi waza (teknik dengan membuka serangan terlebih dahulu)

Dalam aikido juga memiliki teknik naga waze (melempar atau membanting) dan teknik katame waza (kuncian)


Sejarah
Aikido pertama kali diperkenalkan secara luas oleh Ueshiba Morihei (1883-1969) yang oleh para praktisi aikido dijuluki sebagai “O sensei”. Menurut catatan laman institutaikidoindonesia.com, dia mengembangkan aikido berdasarkan seni beladiri lain yang dipelajarinya saat masih muda. Dia mempelari Kito Ryu Jujutsu, ilmu pedang Yagyu Ryu, Aioi Ryu Hozoin Ryu, jujutsu, spear fighting, judo, kendo dan seni beladiri yang menggunakan bayonet. Menguasai banyak seni beladiri membuatnya disegani di Jepang.

Akhirnya Ueshiba Morihei paham bahwa seni beladiri bukan untuk mengalahkan lawan dan merusak, namun harus selaras dengan ‘Ki’ energi  dan alam semesta. Dia pun menyimpulkan bahwa aikido bukanlah teknik untuk berkelahi atau mengalahkan lawan, melainkan untuk membuat dunia ini damai dan seluruh manusia di bumi menjadi satu keluarga.

Dengan bakat yang begitu besar, Ueshiba berhasil  menyebarkan muridnya ke seluruh dunia untuk memperkenalkan keindahan ilmu aikido. Saat ini seni beladiri tradisional ini telah berkembang sekurang-kurangnya ke 93 negara di Asia, Eropa, Amerika, Australia, dan sebagian Afrika.

Sementara di Indonesia, aikido mulai dikenal pada tahun 1960-an yang konon dibawa oleh para pelajar Indonesia yang menuntut ilmu di Jepang. Perkembangan aikido dan seni beladiri impor lainnya dari Jepang di sini sebetulnya kurang lebih sama. Namun kempo, karate, jujutsu dan judo lebih dulu popular disbanding aikido. Faktanya, aikido mulai berkembang di tanah air sejak tahun 1990-an.

Secara istilah ‘Aikido Indonesia’ pertama kali digunakan oleh Perguruan Aikido Indonesia di bawah naungan Yayasan Keluarga Beladiri Indonesia (KBAI). Yayasan ini terbentuk pada 1994. Seiring berjalannya aikido di Tanah Air, maka terbentuklah Institut Aikido Indonesia (IAI) pada 2004 untuk turut mengembangkan aikido di negeri ini.




Sumber:

Halo Japan! Edisi Mei 2017

Shamisen

Di Negeri Sakura, shamisen kerap digunakan sebagai san-gen terutama saat digunakan untuk mendukung musik di era yang lebih modern.

Khusus di Okinawa, pulau paling selatan Jepang, bentuk instrument ini sedikit berbeda dan dikenal sebagai shasin. Baik shamisen maupun shasin umunya tak terlalu diminati anak muda Jepang karena dianggap kurang keren dan kurang modern.

Menurut promusica.or.jp, shamisen digolongkan dalam ‘keluarga lute’, karena memiliki leher panjang, tiga dawai (senar) dan tingkat ketebalan dawai yang berbeda. Dawai paling tipis akan menghasilkan bunyi paling tinggi. Sebaliknya, dawai paling tebal akan menghsilkan bunyi paling rendah.

Shamisen mempunyai bentuk yang menyerupai gitar, hanya saja badan shamisen berbentuk segi empat, bukan bulat seper gitar. Bagian badan dalamnya disebut do. Shamisen terbuat dari kayu, yang bagian depan dan belakang badannya dilapisi kulit hewan. Biasanya yang sering dipakai adalah kulit anjing.

bagian-bagian shamisen


Di Jepang ada beragam jenis shamisen. Setiap shamisen memiliki ukuran leher dan tubuh yang berbeda. Ada shamisen yang memiliki leher tipis (hosozao shamisen) disebut juga nagauta shamisen. Ada shamisen yang berleher tebal (futozao shamisen) disebut juga Tsugaru shamisen karena kerap dimainkan di wilayah Tsugaru. Bentuk leher beragam ini juga membedakan nada yang dihasilkan. Sementara yang berleher sedang  (chuzao shamisen) kadang dirujuk sebagai jiuta shamisen.

hosozao shamisen

futozao shamisen

chuzao shamisen





Perkembangannya

alat musik koto

Dilihat dari sejarahnya, alat musik yang kerap disamakan dengan koto –instrumen petik khas Jepang yang lain- ini sejak dulu dikenal sebagai alat musik yang merakyat. Berbeda dengan koto yang awalnya hanya boleh dimainkan di kalangan istana.

Shamisen diperkenalkan sekitar tahun 1652 di Pelabuhan Sakai, dekat Osaka. Sebelumya dikenal sebagai sanxian di Tiongkok. Alat musik ini sampai ke kerajaan Rukyu melalui hubungan perdagangan dengan kerajaan Fuzhou.

geisha memainkan shamisen

Shamisen tertua yang hingga kini masih ada merupakan hasil perajin Kyoto yang dinakaman yudo. Shamisen ini dibuat khusus atas perintah Hideyomi Toyotomi (pemimpin Jepang di zaman Sengoku) untuk dihadiahkan kepada sang istri. Bentuk yodo tidak jauh berbeda dengan shamisen yang ada sekarang ini. Perkembangan shamisen di negeri dengan banyak prefektur ini juga tak lepas dari salah satu pemusik tunanetra bernama Ishimura Kengyo. Ia berjasa membantu mengembangkan teknik permainan shamisen hingga digemari rakyat banyak. Di awal zaman Edo (1603-1867), Ishimura memelopori genre music dengan jiuta shamisen. Shamisen juga turut diperkenalkan oleh para geisha di zamannya. Mereka wajib memainkan alat musik ini untuk menghibur tamu. Hingga kini shamisen kerap dipertontonkan dalam berbagai festival budaya, konser musik, pentas tari dan teater serta pertunjukan tradisional lain di Jepang.


Sumber:

Tabloid Halo Jepang! Edisi Agustus 2017